Pemerintah China: Sebagian Besar Warga Uighur di Kamp Xinjiang Sudah Bebas & Bekerja

Rabu, 31 Juli 2019 16:50 Reporter : Hari Ariyanti
Pemerintah China: Sebagian Besar Warga Uighur di Kamp Xinjiang Sudah Bebas & Bekerja Kamp Muslim Uighur di Xinjiang. ©REUTERS/Thomas Peter

Merdeka.com - Pejabat China menyampaikan pada Selasa (30/7), sebagian besar tahanan di kamp pendidikan ulang di wilayah barat laut Xinjiang telah meninggalkan pusat pelatihan tersebut dan mendapat pekerjaan - kendati tak disertai angka pasti.

Di Xinjiang, para pakar dan kelompok pegiat HAM menyampaikan lebih dari 1 juta warga Uighur dan minoritas muslim lainnya ditahan dalam sebuah jaringan kamp di mana mereka mendapat indoktrinasi politik.

Namun Alken Tuniaz, wakil pemimpin Xinjiang, mengatakan kepada wartawan pada konferensi pers bahwa sebagian besar warga yang telah menerima pelatihan pendidikan telah kembali ke masyarakat dan telah kembali ke rumah mereka.

"Saat ini, sebagian besar sudah menyelesaikan studi dan memperoleh pekerjaan," katanya, dilansir dari Channel News Asia, Rabu (31/7).

Dalam konferensi pers itu, pejabat dari Xinjiang menyebut pusat pendidikan itu cukup efektif.

"Setelah upaya satu atau dua tahun terakhir ini, sebagian besar orang di pusat pelatihan yang kembali ke masyarakat - bisa dikatakan lebih dari 90 persen - telah menemukan pekerjaan yang mereka sukai dan sesuai," kata pimpinan Xinjiang, Shohrat Zakir kepada wartawan.

Dia juga mengatakan pusat pendidikan itu bertujuan untuk mengajarkan tiga topik kepada para tahanan: hukum China, Bahasa Mandarin, dan makna ajaran agama.

"Kami memberi tahu mereka bagaimana melakukan kegiatan keagamaan yang normal, di bawah perlindungan hukum," ujarnya.

Tapi mantan tahanan mengungkapkan, alasan mereka ditahan adalah karena mengikuti tradisi Islam, seperti mengenakan jenggot panjang dan kerudung.

Seorang pengusaha Kazakhtan, yang menghabiskan hampir dua bulan di sebuah kamp, mengatakan kepada AFP bahwa fasilitas itu hanya memiliki satu tujuan: melucuti tahanan dari keyakinan agama mereka.

Para tahanan dipaksa menyanyikan lagu pahlawan setiap pagi dan makan daging babi, sebuah pelanggaran terhadap ajaran Islam. Para tahanan juga dilaporkan menghadapi kerja paksa di pabrik-pabrik China.

Pada Desember, sebuah artikel di New York Times menunjukkan sebuah perusahaan pakaian olahraga Amerika Serikat telah menerima satu kontainer kaos dari Hetian Taida, sebuah perusahaan di Xinjiang yang ditayangkan di televisi pemerintah telah menggunakan pekerja dari kamp tersebut.

Badger Sportswear kemudian menghentikan pengadaan pakaian dari Hetian Taida di Xinjiang.

"Orang-orang Uighur sedang dipinggirkan, dan budaya serta identitas mereka dihilangkan," kata Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uyghur Dunia yang diasingkan, dalam sebuah pernyataan.

"Mengambil langkah-langkah untuk memaksa orang melepaskan keyakinan mereka adalah kebijakan strategis yang dilakukan pemerintah China secara lokal," tambahnya.

Pejabat China menghabiskan sebagian besar waktu konferensi pers dengan memuji keberhasilan ekonomi Xinjiang selama 70 tahun terakhir, termasuk peningkatan produk domestik bruto dan peningkatan infrastruktur. Namun, peningkatan ini membutuhkan dukungan finansial yang sangat besar dari pemerintah pusat.

Zakir mengatakan, dari 2012 hingga 2018, Beijing memberikan 1,61 triliun yuan (USD 23 miliar) subsidi kepada pemerintah Xinjiang.

Tahun lalu, pemerintah pusat menutupi 60 persen dari pengeluaran anggaran daerah.

Daerah lain di China juga banyak berinvestasi di Xinjiang. Menurut Zakir, pada akhir 2018, 19 provinsi dan kota di China mengalokasikan 103,5 miliar yuan (USD 15 miliar) dalam bentuk bantuan ke wilayah tersebut.

"China menunjukkan keberhasilan ekonomi untuk menutupi diskriminasi, asimilasi, dan penganiayaan ekstrem terhadap warga Uighur yang diterapkan secara lokal," kata Raxit dari Kongres Uighur Dunia. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. China
  2. Uighur
  3. Muslim Uighur
  4. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini