Parlemen India Sahkan RUU Kewarganegaraan yang Dinilai Meminggirkan Warga Muslim
Merdeka.com - Parlemen India menyetujui RUU yang akan memberikan kewarganegaraan bagi imigran non Muslim dari Afghanistan, Bangladesh, dan Pakistan. Dalam pemungutan suara di parlemen, 125 anggota setuju dan 105 menolak. RUU ini juga telah melewati persetujuan di majelis rendah.
Kabar tersebut muncul bersamaan dengan unjuk rasa penolakan RUU pecah di negara bagian timur laut yang berbatasan dengan Bangladesh. Tentara dikerahkan di Tripura dan polisi bentrok dengan pengunjuk rasa di ibu kota Assam, Guwahati.
Para penentang mengatakan RUU tersebut sangat diskriminatif. Namun partai berkuasa beraliran Hindu nasionalis, Bharatiya Janata (BJP) mengatakan RUU itu akan memberikan perlindungan bagi warga non Muslim yang melarikan diri dari negaranya karena penindasan berbasis agama.
RUU Amandemen Kewarganegaraan atau CAB akan segera ditandatangani dan berlaku sebagai UU.
Para pengunjuk rasa yang menentang RUU itu mengatakan itu merupakan agenda BJP untuk meminggirkan warga Muslim dan melanggar prinsip-prinsip sekuler India.
"Muslim telah dianiaya. Ini akan membuat mereka semakin rentan," kata salah satu pengunjuk rasa di Delhi kepada BBC, dilansir Kamis (12/12).
Lebih Buruk dari Hitler
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comLebih dari 700 tokoh terkenal India, termasuk hakim, pengacara, akademisi dan aktor, menandatangani pernyataan mengecam RUU tersebut. Pernyataan tersebut mengatakan pemerintah tampak ingin menciptakan perpecahan besar di tengah masyarakat India.
Banyak juga yang mempertanyakan kenapa hanya mengacu pada migran non Muslim dari Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan, ketika minoritas dari negara tetangga lainnya juga mengalami penganiayaan.
Politikus Tamil, Kamal Haasan mempertanyakan mengapa hal yang sama tidak diberikan kepada imigran Sri Lanka dari kelompok minoritas. Di parlemen, sejumlah partai oposisi dan politikus mengemukakan keprihatinan serupa.
Anggota parlemen yang juga seorang Muslim, Asaddudin Owaisi mengatakan RUU itu lebih buruk dari hukum Hitler dan sebuah konspirasi yang bertujuan membuat warga Muslim tak memiliki kewarganegaraan.
Pemimpin oposisi Partai Kongres, Rahul Gandhi mengatakan siapapun yang mendukung RUU ini menghancurkan pondasi India. Sementara politikus regional ternama, Akhilesh Yadav mengatakan RUU itu sebagai pengalihan isu atas kegagalan pemerintah.
Namun pemimpin BJP, termasuk Menteri Dalam Negeri Amit Shah mengatakan RUU itu tidak menentang warga Muslim.
"Muslim di negara ini tak perlu mengkhawatirkan apapun. Tetapi haruskah Muslim Pakistan dijadikan warga negara? Haruskah umat Muslim dari Bangladesh dan Afghanistan dan seluruh dunia juga diberi kewarganegaraan? Negara tidak dapat berjalan seperti ini. Kewarganegaraan hanya akan diberikan kepada agama minoritas yang dianiaya hanya dari tiga negara ini," kata Shah di parlemen.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya