Nasib perempuan sandera ISIS, disiksa dan dilelang di pasar budak

Senin, 17 Juli 2017 06:05 Reporter : Ira Astiana
Konflik Suriah. ©Reuters/Nour Fourat

Merdeka.com - Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dikenal sebagai kelompok yang memberi perlakuan sangat buruk kepada kaum perempuan. Bukan saja memperbudak, melecehkan dan menyiksa mereka, anggota ISIS juga kerap kali menjual para perempuan di sebuah pelelangan dengan tawaran harga tertinggi.

Bahkan hal itu juga berlaku bagi istri-istri para anggota ISIS.

Dalam sebuah wawancara disiarkan beberapa media, seorang perempuan yang pernah menjadi saksi mata kekejaman ISIS terhadap para perempuan membongkar apa yang dilihatnya selama bermukim wilayah ISIS.

Perempuan bernama Khadijah itu mengaku datang dari Tunisia dan tinggal di benteng ISIS di Raqqa, Suriah, selama tiga tahun. Khadijah mengungkapkan ada banyak sekali kekejaman dan ketidakadilan dilakukan ISIS yang tidak ada hubungannya dengan ajaran Islam.

"Saya dan suami membuat kesalahan besar dengan datang ke sana. Di sini saya menyarankan agar Anda sekalian tidak mempercayai orang-orang yang mengatakan bahwa ISIS adalah negara Islam. Sebab mereka tidak hidup berdasarkan ajaran dan syariah Islam yang diajarkan Nabi Muhammad dan Al Quran," katanya seperti dilansir dari laman Asharq Al-Aswat, Minggu (16/7).

Khadijah mengungkapkan bahwa anggota ISIS tidak pernah memperlakukan perempuan secara berperikemanusiaan. Jika ada satu saja yang melanggar aturan mereka buat, maka mereka akan dipenjarakan di pusat penahanan khusus perempuan.

"Sangat memuakkan berada di sana. Mereka bahkan memaksa para wanita untuk melahirkan tanpa bantuan medis dan bersikap acuh kepada setiap wanita butuh pertolongan," ungkapnya.

Selain Khadijah, Nour Alhouda yang berasal dari Tripoli, Lebanon, juga mengungkapkan bagaimana sistem pelelangan wanita yang dilakukan ISIS. Perdagangan budak adalah pasar yang sangat diminati oleh anggota ISIS.

"Mereka menaruh banyak perhatian terhadap penampilan wanita. Mereka membeli alat rias untuk wanita agar bisa menjualnya seharga USD 15.000 (setara Rp 200 juta). Sementara yang masih perawan dihargai USD 30.000 (setara Rp 400 juta)," papar Alhouda.

Dia juga mengungkapkan bahwa di pasar budak itu, gadis-gadis berusia delapan tahun juga menjadi korban pelelangan. Mereka diyakini merupakan gadis Yazidi yang tahan ISIS. [ary]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.