Myanmar Bisa Jadi Negara Gagal di Asia, Diprediksi Bakal Seperti Afghanistan

Rabu, 21 April 2021 03:00 Reporter : Hari Ariyanti
Myanmar Bisa Jadi Negara Gagal di Asia, Diprediksi Bakal Seperti Afghanistan Demonstran Lawan Polisi Pakai Senapan Angin dan Ketapel. ©2021 REUTERS

Merdeka.com - Ketika para jenderal yang menguasai Myanmar menyusun sebuah konstitusi untuk membuka jalan bagi pemerintahan terpilih, meskipun tidak memiliki otoritas atas tentara, mereka menyebut pengaturan tersebut sebagai "demokrasi yang mengembangkan disiplin". Persaingan politik yang tidak terhalang, kata mereka, akan menyebabkan kekacauan dan menghambat pembangunan; hanya tentara yang bisa memastikan ketertiban dan kemakmuran. Tapi ironis, sejak tentara mengambil alih kekuasaan dalam kudeta 1 Februari, satu-satunya yang terjadi justru adalah kekacauan.

Unjuk rasa harian merupakan sebuah penolakan terhadap kudeta, walaupun intensitasnya mulai menyusut sejak tentara mulai menembak para demonstran yang tak bersenjata. Para tentara mengamuk di distrik-distrik, memukul dan membunuh serampangan, dan dilaporkan membebankan keluarga yang berduka biaya sebesar 120,000 kyat atau sekitar Rp 1,2 juta untuk membebaskan jenazah anggota keluarganya yang terbunuh.

Warga membakar toko-toko yang berkaitan dengan militer. Pemogokan melumpuhkan dunia usaha. Layanan publik terhenti.

Di wilayah-wilayah perbatasan, sekitar 20 kelompok bersenjata yang telah bertarung melawan pemerintah selama puluhan tahun memanfaatkan krisis ini untuk merebut pos militer atau menyita senjata. Tentara kemudian mengebom mereka, mendorong warga di perbatasan melarikan diri ke negara tetangga.

Singkatnya, Myanmar menjadi negara gagal. Demikian dikutip dari The Economist, Selasa (20/4).

Kevakuman sedang diciptakan di wilayah yang berbatasan dengan kekuatan terbesar Asia, China dan India itu. Negara ini akan dipenuhi dengan kekerasan dan penderitaan.

Meskipun Myanmar belum separah Afghanistan, negara ini segera menuju ke arah itu — sebuah peringatan serius tentang betapa sulitnya untuk menyatukan kembali sebuah negara. Kehancuran Myanmar bukan hanya bencana bagi 54 juta orang Burma; hal ini juga menciptakan risiko yang dapat mempengaruhi seluruh wilayah.

Baca Selanjutnya: Mengekspor penderitaan...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini