Muhammadiyah Ungkap Sederet Kejanggalan di Xinjiang

Selasa, 17 Desember 2019 19:47 Reporter : Merdeka
Muhammadiyah Ungkap Sederet Kejanggalan di Xinjiang bendera china di depan masjid di urumqi xinjiang. ©Reuters

Merdeka.com - Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah buka suara soal berita Wall Street Journal (WSJ) yang menyebut pihak mereka bungkam soal derita muslim Uighur di Xinjiang, China. WSJ menuding ada perubahan sikap ormas Islam Indonesia setelah diajak jalan-jalan pemerintah China ke Xinjiang.

Muhammadiyah pun membantah sikap mereka berubah. Muhammadiyah membantah implikasi bahwa mereka mendapat uang dari pemerintah China. Uang akomodasi kopi pun dianggap lebih kecil ketimbang uang yang Muhammadiyah habiskan di Xinjiang.

"Dana yang kami habiskan lebih banyak ketimbang dana yang diberikan untuk minum kopi di airport," ujar Ketua Biro Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah KH Muhyiddin Junaidi di Jakarta, Senin (16/12).

"Sekali lagi kami tegaskan, no money, no corruption, nothing," ucapnya.

Muhyiddin ikut rombongan pemerintah China untuk mengecek kondisi ke Xinjiang pada Februari lalu. Ia pun menyebut melihat ada sejumlah keanehan yang terjadi di daerah tersebut, mulai dari hotel hingga kamp.

Namun, mereka mengaku memilih menyampaikan langsung ke pemerintah karena khawatir muncul pro dan kontra di masyarakat.

Apa saja kejanggalan yang ditemukan rombongan Muhyiddin? Berikut 5 keanehan di Xinjiang menurut Muhammadiyah.

1 dari 5 halaman

1. Tidak Bisa Salat Subuh di Masjid

Ketika baru tiba di ibu kota Xinjiang, Muhyiddin meminta kepada wakil China Islamic Association (CIA) untuk diantar salat subuh di masjid. Tak disangka, permintaan itu ditolak.

"Dikatakan di sini masjidnya agak jauh dan kami susah membawa ke sana karena suhu udara yang sangat dingin, minus seventeen," ucap Muhyiddin. Penolakan itu langsung membangkitkan kecurigaan.

"Tapi kalau itu permintaan dari tamu kepada shohibul bait (tuan rumah) biasanya apapun dituruti. Nah mulai saat itu kami mulai curiga," ujarnya.

2 dari 5 halaman

2. Keanehan di Hotel

Kejanggalan lainnya adalah fasilitas hotel yang seperti baru direnovasi. Muhyiddin melihat arah kiblat sepertinya baru saja dipasang.

"Masuk kami ke hotel memang sudah ada direction kiblat di kamarnya. Tapi tampak jelas mana yang asli dan baru dibikin. Itu berbeda," ujarnya.

3 dari 5 halaman

3. Wartawan Dilarang Beli Rokok

Gerak-gerik wartawan yang datang ke Xinjiang sangatlah dibatasi. Sekadar membeli rokok pun dilarang oleh penjaga.

"Ternyata di depan dihadang: Where are you going?" cerita Muhyiddin.

Penjaga pun memberikan rokok kepada wartawan itu. Selanjutnya, wartawan itu juga berkata ingin membeli minum dan korek, namun tetap saja tak diizinkan keluar dan semuanya diberikan oleh penjaga.

4 dari 5 halaman

4. Dilarang Salat

Muhyiddin menyebut konstitusi di China tidaklah ramah terhadap agama apapun. Penghuni kamp pendidikan di Xinjiang pun rata-rata dibawa karena menjalani agamanya.

"Setelah kami berkunjung ke re-education, penghuninya adalah orang-orang Uighur yang melaksanakan agamanya secara terbuka," ucap Muhyiddin.

"Jadi selama di re-education satu tahun tak boleh salat dan tak boleh puasa," ia menambahkan.

Para peserta pendidikan di kamp itu diajarkan konstitusi China dan Bahasa Mandarin. Mereka juga diajari kemampuan-kemampuan vokasi, namun organisasi HAM dunia menyebut kondisi kamp itu sangat otoriter.

5 dari 5 halaman

5. Label Halal Dilarang

Bahasa asli Uighur sebetulnya masih mendapat pengaruh dari tulisan Arab. Namun, tulisan arab dilarang pemerintah China karena dianggap memuat tindakan agama.

Pemerintah China melarang agama ditunaikan di tempat umum, dan label halal termasuk kategori agama sehingga tak boleh ditampilkan di restoran sekalipun.

"Kami jarang menemukan ada restoran itu halal. Tidak ada. Karena Halal itu bahasa agama. Agama tak boleh berada di ruang umum," ujar Muhyiddin.

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6.com [pan]

Baca juga:
Muhammadiyah Siap Tuntut The Wall Street Journal karena Berita soal Muslim Uighur
Temui Moeldoko, Dubes China Jelaskan Kondisi Muslim Uighur di Xinjiang
Kesal Dikritik soal Muslim Uighur, China Undang Mesut Ozil ke Xinjiang
Bocoran-bocoran Dokumen Rahasia Negara yang Menggemparkan Dunia Internasional
Lawan Kritik Penindasan Muslim, China Rilis Dokumenter Penyerangan Milisi Separatis

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini