Kisah Habibie Kuliah di Jerman Usai Lihat Ayahnya Wafat Saat Salat

Rabu, 11 September 2019 19:09 Reporter : Merdeka
Kisah Habibie Kuliah di Jerman Usai Lihat Ayahnya Wafat Saat Salat BJ Habibie. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie meninggal hari ini pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Habibie wafat dalam usia 83 tahun karena sakit yang dideritanya.

Semasa hidupnya, Bapak Teknologi itu kerap berbagi kisah inspiratif untuk para generasi muda Indonesia. Salah satunya, ia pernah menceritakan pengalaman hidup yang penuh perjuangan untuk berkarya membangun industri penerbangan nasional.

Di depan ribuan alumni penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), pada 2017 silam, Habibie mengaku bisa kuliah di luar negeri, tepatnya di kampus Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen, Jerman, tanpa beasiswa dari negara maupun swasta.

"Saya tidak pernah mendapatkan beasiswa, bukan karena saya bodoh. Saya belajar di luar negeri tidak pakai beasiswa," ujar BJ Habibie kala itu.

Dia mengaku ingin berkuliah di Jerman usai melihat sang ayah untuk terakhir kalinya. Ketika itu usia Habibie baru 13 tahun. Saat sang ayah, Alwi Abdul Jalil Habibie menjadi imam salat Isya, begitu mengucap Allahu Akbar, ayahnya langsung terjatuh dan meninggal seketika.

"Saat itu Ibu saya bersumpah, akan menjadikan saya dan anaknya yang lain, termasuk yang sedang di dalam kandungan Ibu sebagai manusia yang berguna bagi bangsa, negara, dan agama," tutur peraih gelar doktor ingeniuer dengan predikat summa cum laude itu.

Habibie menuturkan, setelah lulus SMA tahun 1954, dirinya sangat mudah mendapatkan beasiswa. Namun sang ibu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo, menolaknya.

Sebelum terbang ke Jerman pada 1955-1965, Habibie pernah belajar teknik mesin di Universitas Indonesia Bandung pada 1954.

"Ibu bilang tidak (pakai beasiswa). Saat saya berusia 18 tahun, paspor saya warna hijau, sedangkan yang lain biru. S1 dan S2 biaya sendiri, S3 saya mandiri, kerja sebagai asisten dan saya bisa lulus di usia 28 tahun," kata mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia era Orde Baru ini.

Pembuat pesawat N-250 Gatot Kaca ini mengaku tidak pernah berencana menjadi menteri maupun presiden. Ambisinya hanya satu, membuat pesawat terbang sebagai moda transportasi yang akan menghubungkan satu daerah dengan daerah lain di Indonesia.

"Saya cerita begini bukan mau pamer, tapi saya dan Anda (penerima beasiswa) tidak ada bedanya. Saya beruntung belajar di bidang yang saya sukai dan tekuni walaupun saat kuliah tidak makan, jalan kaki," ucap Habibie.

"Tidak pernah saya mimpi jadi menteri, wapres, tidak nyampe. Saya hanya kehendaki membuat pesawat terbang bukan pesawat tempur untuk membawa masyarakat ke seluruh Indonesia. Pesawatnya bukan dibiayai dari utang, tapi dari keringat rakyat yang ingin membangunnya," ucap dia.

Presiden ke-3 RI BJ Habibie wafat Rabu (11/9/2019), sekitar pukul 18.05 WIB. Sang putra, Thareq Kemal Habibie, menyebut tim dokter RSPAD sudah berbuat yang terbaik.

"Tim dokter sudah berbuat terbaiknya, tidak bisa dibuat apa-apa lagi, mohon doanya," kata Tahreq dalam konferensi pers di RSPAD, Selasa (11/9).

Reporter: Raden Trimutia Hatta

Sumber: Liputan6.com [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini