Angka ini di luar korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan akibat serangan brutal penjajah Israel.
Jurnal kedokteran ternama Inggris, The Lancet memperkirakan jumlah korban kebrutalan Israel di Jalur Gaza, Palestina bisa mencapai 186.000 jiwa. Angka ini hampir lima kali lipat lebih besar dari data resmi otoritas Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah kematian akibat genosida Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 mencapai 38.153.
Dalam sebuah surat yang ditulis para ahli dan diterbitkan Lancet, angka 186.000 tersebut tidak termasuk orang-orang yang masih terkubur di bawah reruntuhan maupun kematian tidak langsung yang disebabkan penghancuran Israel atas distribusi makanan, sistem kesehatan dan sanitas di Gaza.
"Total korban jiwa diperkirakan besar mengingat intensitas konflik ini; infrastruktur perawatan kesehatan yang hancur; kelangkaan parah makanan dan air, serta tempat berlindung; ketidakmampuan populasi untuk melarikan diri ke tempat-tempat aman; dan hilangnya pendanaan UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina), salah satu dari sedikitnya organisasi kemanusiaan yang masih aktif di Jalur Gaza," jelas surat tersebut, seperti dikutip dari Middle East Eye, Selasa (9/7).
Advertisement
Para ahli dalam surat tersebut juga memperkirakan jumlah jasad yang masih terkubur di bawah reruntuhan bisa mencapai 10.000, karena 35 persen bangunan di Gaza telah dihancurkan, berdasarkan data PBB.
Mengutip pemantau transparansi Airwars, yang melakukan investigasi detail terkait korban sipil di wilayah konflik, nama-nama korban yang dapat diidentifikasi kerap tidak disebutkan di dalam daftar kematian kementerian kesehatan Gaza. Pengumpulan data oleh kementerian tersebut menjadi sangat sulit.
Mengutip pemantau transparansi Airwars, yang melakukan investigasi detail terkait korban sipil di wilayah konflik, nama-nama korban yang dapat diidentifikasi kerap tidak disebutkan di dalam daftar kematian kementerian kesehatan Gaza. Pengumpulan data oleh kementerian tersebut menjadi sangat sulit.
Kehancuran banyaknya infrastruktur berarti harus menggantukan informasi dari sumber media dan saksi pertama untuk memperbarui data atau angka korban jiwa.
“Perubahan ini pasti menurunkan data rinci yang dicatat sebelumnya,” kata surat itu, seraya menambahkan bahwa kementerian kini melaporkan secara terpisah jumlah jenazah tak dikenal di antara total korban tewas.
Surat itu juga mendesak gencatan senjata secepatnya dan distribusi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Selain itu, surat itu juga menekankan perlunya secara akurat mencatat "skala dan sifat penderitaan" di Gaza.
"Mendokumentasikan skala sebenarnya sangat penting untuk memastikan pertanggungjawaban historis dan mengakui dampak penuh perang. Ini juga merupakan persyaratan hukum," pungkas surat tersebut.
Advertisement