Ini yang Bakal Terjadi Jika Amerika Angkat Kaki dari Timur Tengah

Selasa, 14 Januari 2020 07:21 Reporter : Pandasurya Wijaya
Ini yang Bakal Terjadi Jika Amerika Angkat Kaki dari Timur Tengah konvoi pasukan tentara as. ©SAFIN HAMED / AFP

Merdeka.com - Pembunuhan Panglima Garda Revolusi Iran Qassim Sulaimani membuat Negeri Mullah berang dan mendesak Amerika Serikat untuk segera mengemasi persenjataan, menutup pangkalan militer, dan meninggalkan Timur Tengah untuk selamanya.

Mengutip pernyataan Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei setelah Iran melancarkan serangan balasan: "Tindakan militer semacam ini belumlah cukup. Yang terpenting adalah mengakhiri keberadaan Amerika." Presiden Iran Hassan Rouhani juga mengatakan, pembalasan sebenarnya adalah "mengusir habis tentara AS di kawasan (Timur Tengah)."

Jika AS sudah tidak lagi dipandang sebagai rekan yang bisa diandalkan oleh sekutunya di Timur Tengah atau jika AS merasa sudah tidak perlu lagi berada di Timur Tengah, apa yang akan terjadi? Simak ulasan pengamat isu internasional sekaligus redaktur harian the Guardian Simon Tisdall berikut ini:

1 dari 4 halaman

Irak dan Suriah

Serangkaian peristiwa belakangan ini di Irak dan Suriah membuat masa depan AS masih muram. Ketika perang saudara meletus di Suriah pada 2011, AS dan negara Teluk mendukung pasukan pemberontak. Namun sejumlah kelompok pemberontak ini menjadi muara para ekstremis dan jihadis sehingga membuat rezim basyar al-Assad punya alasan untuk memerangi teroris dan menghancurkan perlawanan mereka.

AS kemudian menarik dukungannya dari kaum pemberontak. Trump memutuskan penarikan mundur pasukan AS dan mengabaikan sekutu Kurdi mereka. Rusia kini mengisi kekosongan dan sedang membombardir Idlib bersama pasukan Assad.

Selepas pembunuhan Sulaimani, parlemen Irak mendesak agar pasukan AS keluar dari Irak. Tapi masih ada kesangsian di tengah keraguan soal kemampuan para politisi Irak dan pasukan keamanan menjaga keutuhan negara di saat mereka juga harus memerangi ISIS. Suriah adalah pengingat tentang apa yang akan terjadi jika AS angkat kaki.

2 dari 4 halaman

Israel

Penarikan mundur seluruh pasukan AS dari Timur Tengah akan menjadi mimpi buruk bagi Israel dan mereka akan berusaha menghindari itu terjadi. Negeri Bintang Daud sudah dikelilingi musuh sejak pertama kali berdiri pada 1948. Meski sesumbar mereka mampu bertahan, tanpa perlindungan dari Amerika maka musuh-musuh Israel akan lebih leluasa.

Atas alasan itu, segala bentuk kebijakan penarikan mundur pasukan AS hampir pasti selalu diikuti dengan jaminan keamanan dari AS bagi Israel, kemungkinan dengan kerja sama militer seperti yang belum lama ini diajukan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Para pendukung Israel di Kongres akan memastikan negara itu tidak ditinggalkan.

Di saat yang sama, perubahan besar penarikan mundur pasukan AS akan memaksa konstelasi politik di Israel juga berubah. Kubu nasionalis kanan macam Netanyahu akan membuka koalisi untuk misalnya, mengakhiri kesepakatan solusi dua negara dengan Palestina.

3 dari 4 halaman

Afghanistan

Perang tak berkesudahan di Afghanistan yang dimulai sejak AS menginvasi negara itu usai serangan 11 September 2001 oleh Al Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin, menjadi beban tersendiri bagi Trump. Dia mengatakan AS sudah menghabiskan uang miliaran dolar hanya untuk kekacauan dan korupsi serta gagal menciptakan keamanan atau pemerintahan yang demokratis bahkan menimbulkan banyak korban jiwa.

Pada 2017 Trump mulai mengerahkan tentara tambahan, sama seperti Obama. Ketika cara itu tidak berhasil, dia mulai menggalang perundingan dengan Taliban. Masalahnya sama: Taliban memaksa pasukan AS harus angkat kaki sebelum mereka akan menerima gencatan senjata dan berunding dengan pemerintahan Afghanistan.

Taliban tampaknya tidak akan mengalah, Trump atau siapa pun penggantinya nanti kemungkinan akan terpaksa menarik mundur pasukan AS atau dipaksa angkat kaki meski bisa berujung pada Afghanistan dikuasai kaum fundamentalis. Segala apa yang sudah diraih rakyat Afghanistan akan musnah dan pengorbanan mereka selama hampir 20 tahun bisa sia-sia.

4 dari 4 halaman

Arab Saudi dan Negara Teluk

Penarikan besar-besaran pasukan AS dari Timur Tengah akan sangat terasa bagi Saudi dan negara teluk. Kesejahteraan dan pengaruh kuat Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait selama ini adalah berkat jaminan keamanan dari AS. Terlebih lagi campur tangan AS pada 1990-1991 ketika mengusir pasukan Irak Saddam Hussein di Kuwait.

Saudi dan Negara Teluk lainnya meski memiliki persenjataan lebih baik ketimbang Iran tampaknya akan mengambil langkah lebih lunak kepada Teheran jika AS sudah tidak bercokol dan hal itu dilaporkan sedang terjadi dalam beberapa bulan belakangan.

Di sisi lain, mereka bisa jadi mencari perlindungan lain, seperti kepada Rusia atau China, importir minyak Teluk terbesar. Tak seorang presiden Amerika pun bisa membendung dampak kehilangan pengaruh di Timur Tengah, termasuk investasi dari dunia Arab dan penjualan senjata ke negara-negara Arab. Angkat kaki dari Timur Tengah tampaknya tidak semudah yang dibayangkan Trump. [pan]

Baca juga:
Ada Israel di Balik Konflik Iran vs Amerika Serikat
Angkatan Laut AS: Pentagon Punya Video Rahasia UFO
Dari Informan di Bandara, Cerita Lengkap Operasi Pembunuhan Qassim Sulaimani
Tradisi Naik Kereta Tanpa Celana di Sejumlah Negara
Konflik Makin Panas, Iran Berencana Bombardir Empat Kedubes Amerika Serikat
Intelijen Israel Terlibat Pembunuhan Qassim Sulaimani

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini