Ini 'Senjata Pamungkas' Amerika Serikat Serang Iran Saat Ogah Gunakan Militer
Merdeka.com - Sanksi ekonomi menjadi senjata pamungkas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk menghukum Iran. Sebelumnya, sanksi ekonomi juga pernah diberikan kepada Iran setelah AS keluar dari perjanjian nuklir pada 2018. Kini, tambahan hukuman berupa sanksi ekonomi kembali diberikan AS untuk Iran.
Padahal jika dilihat dari kekuatan militernya, AS lebih kuat dibandingkan Iran. Namun Trump tetap menggunakan sanksi ekonomi untuk "menyerang" Iran.
Lalu mengapa Amerika Serikat lebih memilih sanksi ekonomi dibandingkan perang menggunakan peralatan tempur? Berikut penjelasannya:
AS Berusaha Hindari Ketegangan
Amerika Serikat punya skenario untuk menghadapi Iran. Salah satunya menggunakan sanksi ekonomi untuk menghindari ketegangan.
"Serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di Irak adalah respons paling minim," ujar pengamat keamanan Mark Sleboda. "Ini adalah serangan simbolis. Ini adalah serangan untuk menurunkan tingkat ketegangan. Serangan rudal itu tidak dimaksudkan untuk menimbulkan korban".
Sleboda menyebut Washington mengatakan tidak ada korban dari pihak Amerika dan mereka meragukan keterangan awal yang menyebut serangan rudal itu menewaskan 80 tentara AS. Sleboda juga mengatakan pihak Irak sudah memastikan tidak ada korban dari pihak mereka. Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengatakan Baghdad sebelumnya sudah diberitahu Iran bahwa negara itu akan melancarkan serangan ke wilayah Irak.
Menurut Sleboda, serangan ini adalah upaya pemerintah Iran agar tidak kehilangan muka.
Sleboda menyoroti fakta bahwa ketika rudal itu diluncurkan, jet tempur AS sudah diaktifkan di luar Qatar dan jet tempur Iran juga sudah mengudara tapi setelah Pentagon memastikan tidak ada dampak serius dari serangan itu makan jet tempur AS kembali ke pangkalan.
"Tampaknya, AS sejenak menerima tindakan penurunan ketegangan dari Iran," kata Sleboda. "Ini bukan berarti Iran tidak akan melancarkan serangan lagi di masa datang, mungkin juga lewat serangan yang terselubung seperti perang siber atau pembunuhan pejabat politik atau militer atau serangan balasan tidak langsung oleh sekutu mereka. Tapi saat ini mereka tidak ingin perang langsung".
Menerapkan Sanksi Ekonomi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memberikan sanksi ekonomi untuk Iran, setelah puluhan rudal balistik Iran ditembakkan ke arah pangkalan militer AS di Irak.
"Kami terus mengevaluasi opsi untuk menanggapi agresi Iran, Amerika Serikat akan segera menjatuhkan sanksi ekonomi sebagai hukuman tambahan pada rezim Iran," kata Trump dalam pidatonya kepada bangsa," kata Trump dalam pidato singkat Gedung Putih dilansir CNBC.
AS Sudah Pernah Berikan Sanksi Ekonomi untuk Iran
Presiden AS Donald Trump pernah memberikan sanksi ekonomi untuk Iran pada tahun 2018. Kala itu, Trump keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran, kemudian Trump mulai menerapkan sanksi ekonomi pada Iran.
Trump mengatakan dia ingin menerapkan "tekanan maksimum" pada pemerintah di Teheran untuk memaksa menegosiasikan kembali perjanjian nuklir itu. Namun para pemimpin Iran tetap menantang.
Sebesar Apa Pengaruh Sanksi Ekonomi AS untuk Iran?
Sanksi ekonomi AS untuk Iran sepertinya sangat mempengaruhi kondisi ekonomi negara tersebut. Dilansir dari BBC, sanksi ekonomi AS untuk Iran berupa larangan ekspor minyak hingga larangan kerjasama negara-negara lain dengan Iran. Sanksi tersebut diberikan pada 2018, setelah AS keluar dari perjanjian nuklir.
Imbasnya, kesulitan ekonomi terasa pada November 2019. Kala itu, masyarakat Iran langsung melakukan gelombang protes kepada pemerintah Iran.
Kemudian pada Mei 2019, Trump membuat pembebasan sanksi ekonomi, seperti importir utama minyak Iran untuk pasar AS dan memperketat pembatasan pada sektor perbankan Iran. Menurut Trump, keputusan itu dimaksudkan untuk membuat ekspor minyak Iran ke nol.
Alhasil, menurut Dana Moneter Internasional (IMF), pada 2018 produk domestik bruto Iran (PDB) dikontrak sekitar 4,8persen dan diperkirakan akan menyusut 9,5 persen pada tahun 2019. Sementara itu tingkat pengangguran di Iran naik dari 14,5persen di 2018 sampai 16,8persen di 2019.
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya