Ingin Lepas dari Pengaruh AS, Pemimpin Sayap Kiri Amerika Latin Mulai Bangkit

Kamis, 7 November 2019 07:30 Reporter : Hari Ariyanti
Ingin Lepas dari Pengaruh AS, Pemimpin Sayap Kiri Amerika Latin Mulai Bangkit Alberto Fernandez. ©REUTERS/Luis Cortes

Merdeka.com - Masa depan kelompok kiri di Amerika Latin yang semakin bersatu mulai terlihat ketika belum lama ini Presiden Argentina terpilih dan Presiden Meksiko membahas potensi menghidupkan kembali hubungan diplomatik regional untuk menandingi Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) yang didukung Washington.

Negara-negara Amerika Latin telah terombang-ambing antara pemerintah sayap kiri dan konservatif, seringkali dengan kebijakan ekonomi dan sosial yang sangat berbeda, selama beberapa dekade terakhir.

Sejak tahun lalu, kemarahan terhadap korupsi, ketimpangan dan kemiskinan mendorong kalangan konservatif bubar di Meksiko dan Argentina, sementara memicu protes dalam beberapa pekan terakhir yang memaksa Ekuador dan Chile untuk mempermudah kebijakan ekonomi liberal.

Presiden Argentina terpilih, Alberto Fernandez memanfaatkan lawatan pertamanya ke luar negeri sejak terpilih bulan lalu untuk mendeklarasikan era baru persatuan kelompok kiri.

"Saya bermaksud untuk membuat Amerika Latin bersatu kembali, untuk bersama-sama menghadapi tantangan globalisasi," kata Fernandez kepada wartawan di Istana Presiden Meksiko setelah bertemu Presiden Andres Manuel Lopez Obrador, dilansir dari Reuters, Rabu (6/11).

1 dari 2 halaman

Meksiko dan Argentina di Barisan Terdepan

Tahun depan, Meksiko akan memimpin Komunitas Amerika Latin dan Karibia, sebuah badan regional yang didirikan di Venezuela pada masa pemerintahan Presiden Hugo Chavez yang telah kehilangan pengaruh dalam beberapa tahun terakhir.

"Ini adalah kesempatan untuk mendorong salah satu organisme, salah satu ruang untuk integrasi yang telah dilupakan," kata Fernandez. Organisasi ini dinilai bisa menjadi penyeimbang masa depan untuk OAS, yang mereka anggap sebagai alat AS untuk memperkuat pengaruhnya di Amerika Latin.

Wakil Menteri Luar Negeri Meksiko untuk Amerika Latin memberikan kepercayaan pada gagasan ekonomi terbesar kedua dan ketiga di kawasan itu bekerja sama dari ujung benua untuk menghidupkan kembali organisasi yang dikenal sebagai CELAC.

"Meksiko dan Argentina memiliki kesempatan berada di barisan terdepan untuk mempromosikan reposisi Amerika Latin di dunia," tulis Maximiliano Reyes di harian La Jornada.

2 dari 2 halaman

Pujian Maduro

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro memuji Lopez Obrador dan Fernandez dalam pidatonya di Kuba pada hari Minggu, menyebut mereka para pemimpin front progresif baru di Amerika Latin.

"Angin segar berembus," kata Maduro.

Kebijakan luar negeri baru Meksiko dan Argentina, disertai unjuk rasa dan tudingan pelanggaran HAM oleh pasukan keamanan Chili saat unjuk rasa menjadi kabar baik bagi Maduro, sebagaimana disampaikan pakar Amerika Latin di Universitas Tulane, David Smilde.

Namun, ketika ditanya apakah dia akan mengejar aliansi yang lebih kuat dengan pemerintah yang berhaluan sama di kawasan itu, Lopez Obrador justru menekankan dia memiliki hubungan yang "sangat baik" dengan Trump.

Ketika diminta untuk mengomentari pujian Maduro untuknya, Lopez Obrador kembali berusaha menempatkan diri di tengah-tengah.

"Bukan bermaksud pamer, tapi hal yang sama yang disampaikan Presiden Maduro juga disampaikan Presiden Trump," ujarnya.

Akademisi Meksiko, John Ackerman menilai Lopez Obrador tidak mungkin mengumumkan dirinya sebagai pemimpin blok mana pun, tidak seperti Hugo Chavez dan mantan pemimpin Brasil Luiz Inacio Lula da Silva yang merasa betah di panggung global.

Ackerman mengatakan, kembalinya sikap non intervensi Presiden Meksiko dinilai sama pentingnya dan bisa menjadi benteng terhadap mereka yang ingin ikut campur urusan negara lain.

"Orang-orang mengatakan Meksiko datang terlambat ke gelombang merah muda, dan sekarang tiba lebih awal ke gelombang merah muda kedua," kata Ackerman, menggunakan istilah yang menggambarkan pemilihan pemerintah sosialis di Amerika Latin pada awal 2000-an.

"Ini bukan mereka yang tertinggal barisan, tapi pemimpin dari gelombang baru ini." [pan]

Baca juga:
Ekspresi Geng Paling Ditakuti di Dunia Saat Dipindah ke Penjara Berkeamanan Maksimal
Kisah Paus Fransiskus Hampir Mati Karena Salah Diagnosis dan Diselamatkan Biarawati
Antusias warga Amerika Latin belajar membatik
Insiden kecelakaan warnai ajang Rally Dakar 2018
Polisi Israel tembak pria Palestina bawa pisau dari jarak dekat
Dari biodiesel hingga peralatan militer buatan RI dipromosikan di Chile

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini