Arkeolog di Jepang menemukan timbunan sekitar 100.000 koin di Kota Maebashi, sekitar 100 kilometer barat laut Tokyo.
Tumpukan itu ditemukan selama penggalian menjelang pembangunan pabrik, kata Asahi Shimbun, surat kabar di Jepang.
Hanya 334 koin yang telah diperiksa sejauh ini, dengan koin tertua berumur 175 SM yang berasal China dan koin terbaru yang berasal dari tahun 1265 M, lapor surat kabar tersebut.
Koin-koin itu ditemukan dalam 1.060 bundel, dengan setiap bundel berisi sekitar 100 koin, kata The Asahi Shimbun, seperti dilansir Live Science.
Koin tertua memiliki tulisan China "Banliang" yang terukir di atasnya. Koin Banliang umumnya dibuat di China sekitar 2.200 tahun yang lalu—prasasti itu diterjemahkan menjadi "setengah ons", menurut Museum Seni Metropolitan di kota New York.
Sejumlah timbunan koin, termasuk contoh yang lebih besar dari ini, sebelumnya juga ditemukan di Jepang, kata Ethan Segal, seorang profesor sejarah di Universitas Michigan State yang tidak terlibat dengan penemuan ini, kepada Live Science melalui surel.
Advertisement
“Koin-koin yang terkubur, sebagian besar berasal dari periode abad pertengahan Jepang—abad ke-13 hingga ke-16—telah ditemukan di banyak lokasi seluruh Jepang,” katanya.
Pada akhir abad ketujuh, “orang Jepang pertama kali mulai memproduksi mata uang logam
mereka sendiri,” meniru model koin China dengan lubang persegi di tengahnya, kata Segal.
“Lubang itu digunakan agar orang bisa merangkai koin dalam jumlah besar, umumnya 100 koin persenar,” tambah Segal. Dari gambar di internet, tampak banyak koin itu berlubang persegi.
“Orang Jepang membuat koin mereka sendiri hingga pertengahan abad ke-10, namun berhenti pada saat itu karena perubahan perekonomian dan kurangnya pasokan bijih tembaga,” kata Segal, dan terkadang koin China digunakan sebagai gantinya.
Advertisement
Segal mengatakan dia tidak akan terkejut jika banyak koin itu berasal dari Dinasti Song Utara (960 hingga 1127). Suku Song Utara memproduksi koin dalam jumlah besar, namun setelah mereka dikuasai oleh kelompok nomaden bernama Jurchen pada awal abad ke-12, koin mereka kehilangan nilainya dan orang-orang lebih bersedia menggunakannya untuk membeli barang di luar negeri, kata Segal.
Sejumlah timbunan koin dalam jumlah besar ditemukan di Jepang, namun alasan penyimpanannya masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sarjana.
"Penimbunan tersebut mungkin berfungsi sebagai bank. Teori lain adalah penimbunan memiliki makna simbolis, mungkin keagamaan," William Farris, seorang profesor emeritus sejarah Jepang di Universitas Hawaii di Mānoa yang tidak terlibat dengan penemuan tersebut kepada Live Science melalui surel.
“Saya mendukung teori koin-koin itu adalah sejenis bank yang disimpan dengan aman.”
Gagasan lainnya adalah Jepang menguburkannya pada masa perang. “Mereka berat dan besar untuk dibawa jika Anda harus melarikan diri dari pasukan musuh,” kata Segal.