Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hari-hari Kelam di Kampus Pakistan Usai Seorang Profesor Dituduh Menghina Islam

Hari-hari Kelam di Kampus Pakistan Usai Seorang Profesor Dituduh Menghina Islam kampus tempat dosen di pakistan dibunuh. ©Ben Farmer

Merdeka.com - Profesor Khalid Hameed, mengabdikan dirinya sebagai dosen sastra Inggris di Government Sadiq Egerton College, Kota Bahawalpur, Pakistan. Baginya, bukan masalah untuk datang lebih awal setiap harinya. Termasuk, di hari kala ia dibunuh.

Pagi itu, Hameed tiba tepat pukul delapan. Segera langkahnya menuju ruang staf untuk tanda tangan, membuka kunci ruangannya, dan masuk. Tanpa sadar, seorang mengikutinya dari belakang.

Tepat saat membuka pintu ruangannya, Hameed diserang. Kepalanya dipukul dengan gembok berat. Hameed ditikam berkali-kali hingga meregang nyawa.

Peristiwa nahas itu terjadi pada 20 Maret lalu. Hameed meninggal di usia 59 tahun, enam bulan menuju masa pensiun.

Atas kejadian tersebut, polisi menahan Khateed Hussain, salah satu mahasiswa Hameed.

Di mata keluarga, Hameed dikenal sebagai seorang muslim yang taat. Ironisnya pada video interogasi, tersangka mengatakan alasannya membunuh Hameed adalah karena dosen senior itu telah menghina Islam.

Menurut kepolisian, Hussain telah dipengaruhi oleh Pendakwah Pakistan Tehreek-e-Labbaik Zafar Gillani dan kelompok Islam garis keras.

Namun, enam bulan setelah diinterogasi Hussain tak jua menerima tuntutan. Pun demikian dengan Zafar dan kelompok Islam garis keras yang disebut-sebut mempengaruhi Hussain.

Kasus pembunuhan Hameed bukan hanya meninggalkan luka mendalam di hati keluarga dan rekan sejawatnya, tetapi juga kekhawatiran bagi para pengajar. Kematian Hameed dikaitkan dengan kampanye menentang kebebasan pendidikan, gerakan yang ditolak oleh kelompok berpengaruh di Pakistan.

Bagi Tabasum dan rekan dosen lainnya, Hameed bukanlah seorang penghasut paham liberal. Hameed hanyalah dosen yang berdedikasi dan begitu disukai banyak orang.

"Sebenarnya, dosen adalah simbol dari semua pendidikan liberal," kata Irshad Ahmad Tabasum, profesor di departemen yang sama dengan Hameed.

Tabasum dan rekan pengajar lainnya berpendapat, kampus mereka tidak pernah memiliki masalah dengan kelompok garis keras. Tidak ada dari mereka yang dapat menjelaskan motif pelaku membunuh Hameed.

Sebelum kematian Hameed, sempat beredar pamflet berisi seruan larangan terhadap pertemuan yang melibatkan Hameed. Pamflet itu juga memuat fitnah tentang Hameed. Dikatakan, laki-laki dan perempuan yang hadir akan diperbolehkan untuk menari bersama.

Meski nama Hussain disebut sebagai pelaku pembunuhan, tetapi penyelidik mengatakan ia tidak terlibat dalam pembuatan pamflet tersebut. Pernyataan ini diragukan oleh para dosen.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP