Banjir dahsyat yang menewaskan ribuan orang di Kota Derna, Libya, pada 10 September lalu, turut menjadi ancaman besar bagi situs bersejarah yang paling berharga di negara itu.
Advertisement
Banjir dahsyat yang menewaskan ribuan orang di Kota Derna, Libya, pada 10 September lalu, turut menjadi ancaman besar bagi situs bersejarah yang paling berharga di negara itu, yakni Kirene.
Advertisement
Kirene merupakan kota tua peninggalan Yunani kuno. Kota ini menjadi kota tertua dan terpenting di antara lima kota Yunani kuno di wilayah Libya.
Middle East Eye menemukan kerusakan akibat banjir dan tanah longsor pada situs yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO tersebut.
Banyak makam, batu pemakaman, dan bangunan arkeologi lainnya yang berasal dari zaman Yunani, Romawi, dan Bizantium telah terkubur di bawah lumpur atau terbawa aliran air ke lembah-lembah yang lebih rendah di wilayah Mansoura.
Advertisement
Dilansir AFP, banjir juga merusak Kuil Zeus yang dibangun pada abad kedua masehi, yang ukurannya lebih besar dari bangunan Parthenon di Athena.
“Kerusakannya relatif kecil tetapi air yang mengalir dan menggenangi di sekitar fondasinya mengancam keruntuhan di masa depan,” kata kepala misi arkeologi Prancis di Libia, Vincent Michel, kepada AFP.
Advertisement
Banjir Mengungkap Temuan Baru
Meskipun mengubur beberapa makam dan bangunan lainnya, banjir juga menyingkap sebagian lainnya.
Di tempat lain, kekuatan destruktif telah mengungkap artefak dan struktur baru dalam penggalian arkeologi brutal yang dilakukan oleh alam.
Pada zaman dahulu, Kirene menjadi kaya melalui budidaya silphium, ramuan yang sangat populer sehingga dikonsumsi sampai punah.
Advertisement
Selama periode Yunani, kota ini menjadi tempat sekolah filsafat yang didirikan oleh murid Socrates, dan pada zaman Romawi menjadi terkenal karena komunitas Yahudinya yang besar.
Sekarang, kota ini terletak di sebelah Shahat modern, salah satu kota terbesar di Green Mountain, wilayah yang dilanda hujan lebat Badai Daniel selama 17 jam.