Ilmuwan Peru dan Polandia sukses melakukan rekonstruksi wajah sang gadis dengan pemindaian digital tiga dimensi dari mumi gadis Inca yang ditemukan pada 1995 silam.
Advertisement
Sejumlah ilmuwan dari Peru dan Polandia melakukan rekonstruksi wajah asli gadis Inca yang kemungkinan besar dikorbankan sebagai tumbal untuk permohonan pertolongan para dewa dari bencana alam sekitar 500 tahun yang lalu.
Advertisement
Dalam rilis tersebut, Ilmuan memperlihatkan rekonstruksi kepala, wajah hingga tubuh gadis muda tersebut di Peru pada hari Selasa (24/10/2023).
Mereka merekonstruksi dengan menggunakan teknologi pemindaian digital tiga dimensi (3D) dari mumi gadis Inca yang ditemukan pada 1995 silam.
Advertisement
Dengan menggunakan metode 3D ini dapat membantu menghasilkan bentuk wajah dan tubuh seperti aslinya.
Sebelumnya mumi gadis tersebut ditemukan di dalam bungkusan di pemakaman era Inca, dekat puncak gunung berapi Ampato, Peru sektar 28 tahun yang lalu.
Gadis tersebut diduga dikorbankan sebelum kehancuran kerajaan Inca jatuh ke tangan bangsa penjajah Spanyol pada tahun 1532.
Dulu kerajaan Inca dikenal kaya dan kuat.
Advertisement
Menurut ilmuwan yang mengetahui cerita sejarahnya mengatakan, kematian gadis itu karena pukulan di kepala saat ritual untuk memohon pertolongan dewa dari bencana alam.
Gadis itu diketahui dijuluki Nyonya Ampato, atau Juanita.
Saat meninggal dalam ritual pengorbanan, dia diyakini berusia sekitar 14 hingga 15 tahun.
Kini wajah gadis Inca sedang dipajang di Universitas Katolik Santa Maria di Arequipa. Saat dipamerkan, detail bentuk wajah gadis Inca itu menunjukkan mulut yang sedikit terbuka hingga matanya yang menatap dengan pandangan yang kosong. Termasuk juga dengan pakaian warna-warni, penutup kepala dan perhiasan yang serupa berdasarkan hasil scan digital dari muminya.
"Ini dilakukan dengan cara yang luar biasa," kata arkeolog Johan Reinhard, yang merupakan bagian dari tim yang menemukan mumi tersebut
"Melihat wajahnya seperti saat masih hidup, merupakan pengalaman berbeda karena terkesan nyata," ujarnya.
Advertisement