Di Asia Tenggara, Tingkat Kesopanan Online Netizen Indonesia Paling Rendah

Selasa, 23 Februari 2021 10:16 Reporter : Hari Ariyanti
Di Asia Tenggara, Tingkat Kesopanan Online Netizen Indonesia Paling Rendah Efek buruk sosial media. © boldsky.com

Merdeka.com - Di Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat terakhir terkait tingkat kesopanan online, memburuk sampai 8 poin menjadi 76, berdasarkan laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) Microsoft.

Remaja tak berkontribusi (positif atau negatif) terhadap skor Indonesia pada 2020. Penurunan CDI Indonesia disebabkan oleh orang dewasa, menambah 16 poin. Demikian dikutip dari laman Mashable, Selasa (23/2).

Meskipun demikian, masih ada penurunan signifikan dalam 'rasa sakit yang luar biasa' akibat aktivitas online negatif, hingga 15 poin. Tiga risiko online terbesar adalah hoaks dan penipuan, ujaran kebencian, dan diskriminasi.

Empat dari 10 orang mengatakan kesopanan online lebih baik selama Covid-19, berkat rasa kebersamaan yang lebih besar dan saling membantu satu sama lain. Tetapi hampir lima dari 10 orang terlibat dalam insiden intimidasi, dengan 19 persen responden mengatakan mereka menjadi sasaran. Dan sekali lagi, kaum milenial adalah yang paling terpukul.

Sementara itu, Singapura kembali membuktikan menjadi negara percontohan di Asia Tenggara, menempati posisi keempat di dunia terkait tingkat kesopanan aktivitas online. Artinya, Singapura juga menjadi negara paling sopan dalam aktivitas online di Asia Tenggara.

Laporan tersebut, yang mengulas 16.000 responden di 32 negara, menilai kualitas interaksi online netizen pada 2020.

Singapura naik ke peringkat empat dalam penelitian terbaru, sebelumnya berada pada peringkat kelima, mengambil alih posisi yang sebelumnya ditempati Malaysia.

Penelitian ini menyurvei para remaja dan orang dewasa dari masing-masing negara, di mana Belanda, Inggris, dan AS berada di tiga besar secara berurutan.

Di Singapura, peningkatan DCI sebagian besar dipimpin oleh remaja, menyumbang -7 poin, dengan orang dewasa menyumbang -1 poin. Hal ini juga mengakibatkan penurunan 'rasa sakit yang luar biasa' yang signifikan yang disebabkan oleh interaksi online negatif, sebesar -6 poin.

Sebanyak 54 persen responden Singapura mengatakan mereka membela diri atau diam sebelum membalas orang yang tidak setuju dengan mereka.

Tiga risiko dunia maya yang dihadapi warga Singapura yaitu hoaks dan scam atau penipuan, ujaran kebencian, dan diskriminasi. Terkait perisakan dunia maya, 20 persen responden mengatakan mereka menjadi target perundungan, sementara 34 persen mengatakan mereka terlibat dalam insiden perundungan. Secara keseluruhan, kaum milenial yang paling terpukul dalam kasus ini, tepatnya 41 persen dari mereka.

Selain itu, tiga dari 10 orang Singapura mengatakan kesopanan online memburuk selama pandemi Covid-19 karena penyebaran berita palsu dan informasi yang keliru.

Baca Selanjutnya: Malaysia Vietnam dan Thailand...

Halaman

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Media Sosial
  3. Ragam Konten
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini