Demonstran di Glasgow: Politisi Bla Bla Bla Bla
Merdeka.com - Sejak COP26 berlangsung, Glasgow tak pernah sepi dari aksi unjuk rasa. Aktivis dari berbagai kalangan menggelar berbagai aksi mendesak para pemimpin dunia untuk melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan bumi.
Laporan wartawan merdeka.com Ramadhian Fadillahdari Glasgow, Skotlandia, aksi damai digelar dalam berbagai bentuk. Seperti Minggu (7/11) sore di George Square, Glasgow. Mereka memainkan drum dan yel-yel dengan irama menarik perhatian.
"Bla Bla Bla.. Bla.. Bla, " teriak mereka berulang-ulang. Maksudnya jelas menyindir para politisi yang dinilai cuma mahir berdiskusi.
Helen ada di barisan para demonstran. Wanita berusia 20 tahunan ini datang jauh-jauh dari London. Mengayuh sepeda untuk ikut aksi di Glasgow.
"Kami ingin para politisi itu mendengar suara kami. Jangan hanya bicara. Kami ingin aksi nyata," katanya saat berbincang dengan merdeka.com.
Puluhan orang bergabung dalam aksi itu. Rata-rata anak muda. Orang-orang yang melintas ikut menonton aksi mereka. Kadang ikut menyahut saat orator meneriakkan yel-yel.
"Kami cemas. Kalau para politisi ini tidak melakukan apa-apa, generasi selanjutnya yang akan terancam," kata dia.
Tentang COP26
Selama dua minggu pada bulan November, para pemimpin dunia bertemu di Skotlandia dan membahas hal-hal yang berkaitan dengan perubahan iklim. Pertemuan ini akan berdampak nantinya pada bagaimana keputusan-keputusan ke depannya menyoal lingkungan dan perubahan iklim.
Pertemuan yang bernama COP26 itu, merupakan pertemuan yang didirikan PBB berlangsung antara 31 Oktober-12 November 2021. Pemerintah Inggris menjadi tuan rumah COP 26 yang berlangsung di Glasgow.
Lebih dari 30.000 delegasi diharapkan berkontribusi pada acara formal di 'zona biru' di mana para ahli iklim, juru kampanye, pembuat kebijakan, dan pemimpin dunia berdebat tentang bagaimana membuat kemajuan global dalam perubahan iklim.
Ratusan ribu orang diperkirakan menghadiri acara sampingan di 'zona hijau', ruang pertemuan warga di mana LSM, organisasi dan perwakilan nasional terlibat satu sama lain dan masyarakat umum pada aspek kesadaran lingkungan, dan kesetaraan sosial.
COP adalah akronim dari ‘Conference Of Parties’, dan 26 merujuk pada sesi ke-26. Mulanya, UNFCCC dibentuk pada tahun 1992, ketika 154 negara menandatangani perjanjian baru tentang perubahan iklim. Perjanjian itu mulai berlaku pada tahun 1994.
'COP iklim' telah melakukan pertemuan setiap tahun sejak 1995. Pada 2015, Sesi ke-21 COP (COP 21) bersejarah dalam hasilnya karena selama itu perjanjian iklim internasional pertama dibuat, dinamai Perjanjian Paris atau Paris Agreement.
Pemerintah dan negosiator dari seluruh dunia akan melakukan perjalanan ke pertemuan tersebut untuk membahas bagaimana menjaga kenaikan suhu di bawah tingkat yang berbahaya dan mencegah krisis iklim menyebabkan bencana yang lebih buruk bagi orang-orang termiskin dan paling rentan di dunia.
COP21 berlangsung di Paris pada tahun 2015. Untuk pertama kalinya, sesuatu yang penting terjadi, setiap negara bersepakat untuk bekerja sama untuk membatasi pemanasan global hingga di bawah 2 derajat dan menargetkan 1,5 derajat, untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim dan menyediakan dana untuk mencapai tujuan ini.
Perjanjian Paris pun lahir. Komitmen untuk mencapai 1,5 derajat penting karena setiap fraksi derajat pemanasan akan mengakibatkan hilangnya lebih banyak nyawa dan rusaknya mata pencaharian.
Di bawah Perjanjian Paris, negara-negara berkomitmen memajukan rencana nasional yang menetapkan berapa banyak mereka akan mengurangi emisi mereka, yang dikenal sebagai Nationally Determined Contributions, atau 'NDCs'.
Mereka sepakat bahwa setiap lima tahun mereka akan kembali dengan rencana terbaru yang akan mencerminkan ambisi tertinggi mereka saat itu. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya