Cerita perlawanan siswi Tunisia tolak pakai seragam sekolah

Rabu, 27 Desember 2017 07:17 Reporter : Pandasurya Wijaya
Cerita perlawanan siswi Tunisia tolak pakai seragam sekolah siswi tunisia. ©AFP

Merdeka.com - Di sekolah-sekolah menengah atas Tunisia para siswa tidak diwajibkan memakai seragam. Tapi bagi para siswi seragam itu wajib. anak laki-laki bebas memakai pakaian apa saja ke sekolah, sedangkan anak perempuan harus memakai seragam berwarna biru gelap. Kini para siswi itu mulai melawan.

Pada suatu pagi, sekelompok anak perempuan masuk ke sekolah dengan memakai kaos oblong warna putih. Mereka menuntut agar diskriminasi terhadap mereka dihentikan.

Dilansir dari laman Channel News Asia, Selasa (26/12), di sekolah elit Bizerte, sebagaimana di sekolah lain di kawasan Afrika Utara, para siswa harus menandatangani aturan sekolah yang mewajibkan seragam bagi anak perempuan.

Suatu hari di bulan September, para guru memperingatkan siswi senior, jika mereka melanggar aturan maka mereka akan dipulangkan.

Ironisnya, peringatan itu disampaikan pada pelajaran filsafat sewaktu membahas topik tubuh manusia.

Ketidakadilan ini membuat para siswi bersuara di media sosial, kata murid perempuan bernama Siwar Tebourbi kepada kantor berita AFP.

Dia mengatakan para murid perempuan menggelar aksi bersama untuk menuntut agar diskriminasi ini diakhiri.

Maka pada hari yang sudah direncanakan mereka masuk kelas dengan memakai kaos oblong putih. Sejumlah murid laki-laki juga memakai kaos yang sama sebagai bentuk solidaritas.

Monia Ben Jamia, ketua Asosiasi Wanita Demokratik Tunisia, kelompok feminis independen, mengatakan aturan seragam itu menjadi pesan yang buruk karena menganggap tubuh siswa perempuan bisa mengganggu sesama murid lain.

Jamia menuturkan aturan ini sudah keterlaluan, apalagi konstitusi baru pada 2014 menyatakan kaum laki-laki dan perempuan setara.

"Kami diberitahu di sekolah, laki-laki dan perempuan itu setara, tapi pada praktiknya tidak begitu," kata Adam Garci, 17 tahun.

Direktur sekolah Iadh Toulgui mengakui para pengawas tidak bisa mempengaruhi para siswa yang hidup setelah masa revolusi 2011 yang mengakhiri era rezim sebelumnya dan melahirkan masa kebebasan berekspresi.

"Ini adalah generasi revolusioner yang terbuka kepada dunia. Ketika kita mencoba menerapkan aturan, ini tidak berjalan," kata dia.

"Kini saatnya untuk membahas masalah ini di tingkat nasional, melibatkan kementerian pendidikan, orang tua, masyarakat madani dan serikat buruh," kata Komisioner pendidikan daerah Nabil Smadhi. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Tunisia
  2. Pendidikan
  3. Diskriminasi
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini