Baru Terungkap, Sejak Lama CIA Punya Informan Orang Dalam di Rusia

Rabu, 11 September 2019 07:44 Reporter : Pandasurya Wijaya
Baru Terungkap, Sejak Lama CIA Punya Informan Orang Dalam di Rusia Lapangan Merah Moskow. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Beberapa dekade lalu CIA merekrut dan melindungi seorang pejabat Rusia level menengah yang kariernya mulai menanjak hingga masuk ke jajaran tinggi pemerintah. Pada akhirnya mata-mata AS mendapat banyak informasi berharga. Sumber informasi AS itu meraih posisi strategis dan berpengaruh hingga punya akses ke level tertinggi di Kremlin.

Ketika para pejabat AS mulai menyadari Rusia ingin menyabotase pemilu presiden 2016, sang informan menjadi aset CIA paling penting dan sangat dilindungi. Tapi ketika pejabat intelijen mengungkap dampak buruk campur tangan Rusia dalam pemilu, berbagai media mulai menyoroti sumber informasi CIA di Kremlin.

Dikutip dari laman the New York Times, Senin (9/9), pada akhir 2016 para pejabat CIA khawatir dengan keselamatan sang informan dan mempertimbangkan untuk mengeluarkan dia dari Rusia. Situasi kemudian berkembang kian genting ketika sang informan awalnya menolak tawaran itu dengan alasan keluarga. Kondisi itu membuat para pejabat di markas besar CIA mulai meragukan apakah sang informan mereka masih bisa dipercaya. Namun beberapa bulan kemudian CIA kembali menekan informan mereka untuk keluar dari Rusia. Kali ini yang ditawari setuju.

Langkah itu akhirnya menyudahi karir salah satu sumber informasi CIA di Rusia sekaligus membuat intelijen AS sama sekali buta dengan kondisi di Rusia selepas sang informan meninggalkan negaranya. CIA juga kemudian tidak punya petunjuk ketika Kremlin campur tangan dalam pemilu sela 2018 dan pemilu AS tahun depan.

CNN dua hari lalu pertama kali melaporkan soal informan CIA yang dibawa keluar dari Rusia pada 2017 itu. Sebelumnya tidak pernah ada rincian kabar soal sejarah sosok informan CIA tersebut, termasuk info tentang tawaran CIA untuk membawa dia keluar dari Rusia pada 2016.

Artikel ini ditulis berdasarkan wawancara beberapa bulan belakangan dengan sejumlah pejabat dan mantan pejabat yang tidak mau identitas mereka diketahui karena menyangkut informasi rahasia.

Para pejabat itu tidak mengungkap identitas sang informan atau memberi tahu lokasi di mana dia berada. Nyawa sang informan masih dalam bahaya, kata sang pejabat, mengutip kasus pembunuhan Sergei V Skripal, mantan intelijen Rusia yang pindah ke Inggris lewat pertukaran mata-mata pada 2010.

Sosok informan itu sangat penting bagi CIA karena dia mempunyai kesimpulan mengejutkan tentang campur tangan Rusia dalam pemilu AS: Presiden Vladimir Putin sendirilah yang memerintahkan dan mendalangi operasi itu.

Sejalan dengan pandangan pemerintah AS yang menduga Putin memerintahkan campur tangan Rusia itu, sang informan juga menjadi saksi kunci bagi CIA setelah dia membenarkan Putin lebih menyukai Donald Trump memenangkan pemilu dan Putin sendiri memerintahkan peretasan pada Komite Nasional Partai Demokrat.

Sang informan itu, kata sumber yang mengetahui soal ini, berada di lingkaran luar Presiden Putin, tapi dia kerap bertemu dengannya secara rutin dan punya akses ke pejabat tinggi Kremlin yang menentukan kebijakan. Bagi CIA, sang informan adalah aset yang sangat berharga.

Memelihara dan melindungi informan di Moskow adalah tugas yang sangat berat karena Rusia punya pasukan kontraintelijen yang terkenal mumpuni. Dari catatan sejarah, Rusia dikenal mahir membuat mata-mata asing menderita. Mantan pegawai CIA menyebut operasi mereka sebagai 'aturan Moskow'.

1 dari 2 halaman

Nyawa Sang Informan Masih Dalam Bahaya

Artikel ini ditulis berdasarkan wawancara beberapa bulan belakangan dengan sejumlah pejabat dan mantan pejabat yang tidak mau identitas mereka diketahui karena menyangkut informasi rahasia.

Para pejabat itu tidak mengungkap identitas sang informan atau memberi tahu lokasi di mana dia berada. Nyawa sang informan masih dalam bahaya, kata sang pejabat, mengutip kasus pembunuhan Sergei V Skripal, mantan intelijen Rusia yang pindah ke Inggris lewat pertukaran mata-mata pada 2010.

Sosok informan itu sangat penting bagi CIA karena dia mempunyai kesimpulan mengejutkan tentang campur tangan Rusia dalam pemilu AS: Presiden Vladimir Putin sendirilah yang memerintahkan dan mendalangi operasi itu.

Sejalan dengan pandangan pemerintah AS yang menduga Putin memerintahkan campur tangan Rusia itu, sang informan juga menjadi saksi kunci bagi CIA setelah dia membenarkan Putin lebih menyukai Donald Trump memenangkan pemilu dan Putin sendiri memerintahkan peretasan pada Komite Nasional Partai Demokrat.

Sang informan itu, kata sumber yang mengetahui soal ini, berada di lingkaran luar Presiden Putin, tapi dia kerap bertemu dengannya secara rutin dan punya akses ke pejabat tinggi Kremlin yang menentukan kebijakan. Bagi CIA, sang informan adalah aset yang sangat berharga.

Memelihara dan melindungi informan di Moskow adalah tugas yang sangat berat karena Rusia punya pasukan kontraintelijen yang terkenal mumpuni. Dari catatan sejarah, Rusia dikenal mahir membuat mata-mata asing menderita. Mantan pegawai CIA menyebut operasi mereka sebagai 'aturan Moskow'.

2 dari 2 halaman

Pertemuan Tertutup Trump dengan Putin

Saking pentingnya sang informan, Direktur CIA saat itu, John O. Brennan, menjaga betul informasi dari dia bahkan dari rapat harian bersama Presiden Barack Obama pada 2016. Brennan malah memilih menyerahkan laporan intelijen terpisah, banyak bersumber dari sang informan, dalam surat beramplop yang disegel dan diserahkan ke Ruang Oval.

Trump pertama kali dikabari soal campur tangan Rusia ini dua pekan sebelum dia dilantik. Seorang juru bicara CIA menjawab laporan CNN itu dengan menyebut cara Trump menangani masalah ini adalah 'spekulasi yang di luar dugaan'.

Sejumlah pejabat intelijen mengatakan pertemuan tertutup Trump dengan Putin dan sejumlah pejabat Rusia diikuti dengan kicauan Trump di Twitter yang menyinggung sedikit soal intelijen menuai kekhawatiran di kalangan informan di luar negeri.

"Kita punya presiden yang tidak seperti presiden lain dalam sejarah modern, dia bersedia memakai informasi rahasia intelijen yang sensitif selama sesuai dengan kepentingannya," kata Steven L. Hall, mantan pejabat CIA yang memimpin operasi terkait Rusia.

Di satu sisi, membawa keluar informan penting dari Rusia membuat dia berada dalam posisi lebih aman. Tapi di sisi lain itu menunjukkan CIA kini harus berupaya lebih keras untuk mencari informasi dari lingkaran dalam Kremlin.

CIA sejak lama berusaha merekrut sumber dekat Putin, presiden yang dulunya juga adalah intelijen Rusia. Lingkaran dalam Putih hanya terdiri dari sedikit orang dan mereka punya operasi keamanan yang cermat dan teliti serta menghindari betul komunikasi lewat perangkat komunikasi elektronik. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini