Awalnya Dikira Tengkorak Buaya, Ilmuwan Temukan Fosil Burung Langka Berusia 45 Juta Tahun

Burung purba ini tak bisa terbang dan tingginya mencapai 1,40 meter.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Awalnya Dikira Tengkorak Buaya, Ilmuwan Temukan Fosil Burung Langka Berusia 45 Juta Tahun
Awalnya Dikira Tengkorak Buaya, Ilmuwan Temukan Fosil Burung Langka Berusia 45 Juta Tahun (Merdeka.com)

Ilmuwan menemukan fosil tengkorak burung langka yang hidup 45 juta tahun lalu dalam kondisi hampir lengkap. Fosil ini awalnya ditemukan pada tahun 1950-an di bekas area penambangan lignit di Geiseltal di Jerman.

“Penemuan ini awalnya salah diidentifikasi sebagai tengkorak buaya,” kata Michael Stache, ahli geologi di Gudang Pusat Koleksi Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Martin Luther Halle-Wittenberg (MLU), dikutip dari laman Phys, Kamis (23/1).

Stache menemukan fosil itu lagi secara kebetulan beberapa tahun lalu. Dia menyadari kesalahannya dan mulai bekerja, memulihkan dan kemudian menganalisis potongan tengkorak tersebut. Dia menggabungkan fosil tersebut dengan objek lain dari koleksinya, merekonstruksi hampir seluruh tengkorak.

Dr Gerald Mayr, seorang peneliti di Senckenberg Institute, memeriksa temuan tersebut lebih dekat dan menyadari tengkorak itu jelas milik burung purba yang disebut Diatryma.

Diatryma memiliki tinggi 1,40 meter namun tidak memiliki kemampuan terbang. Hewan purba ini menjelajahi wilayah Geiseltal di selatan Saxony-Anhalt sekitar 45 juta tahun lalu.

Herbivora Berparuh Raksasa

Awalnya Dikira Tengkorak Buaya, Ilmuwan Temukan Fosil Burung Langka Berusia 45 Juta Tahun
Rekonstruksi burung purba Diatryma yang hidup 45 juta tahun lalu. Uni Halle / Markus Scholz

Saat itu, Geiseltal merupakan rawa tropis yang hangat. Kuda purba, tapir purba, buaya darat besar serta kura-kura raksasa, kadal dan banyak burung tinggal di sini. Beberapa di antaranya tidak dapat terbang dan yang terbesar adalah Diatryma, seekor herbivora dengan paruh raksasa.

“Hal ini menunjukkan sekali lagi bahwa banyak penemuan paling menarik dalam paleontologi terjadi pada koleksi museum. Beberapa tahun yang lalu, tidak ada yang menyangka bahwa Koleksi Geiseltal akan berisi kejutan seperti itu,” kata Mayr.

Stache juga menyampaikan, ada minat ilmiah yang besar terhadap fosil tersebut. Peneliti dari Jerman dan luar negeri datang ke MLU secara rutin untuk menyelidiki objek tersebut.

“Penelitian ini memperluas pemahaman kita tentang Zaman Eosen di Geiseltal meskipun penggaliannya sudah selesai sejak lama,” kata Stache.

Temuan tengkorak Diatryma ini diterbitkan dalam jurnal Palaeontologia Electronica.

Rekomendasi