Arkeolog Temukan Makam Kuno Berisi Kerangka Biarawati Abad Ke-5, Tubuhnya Diikat dengan Cincin Besi

Kerangka Biarawati dari abad ke-5 Masehi ditemukan di Yerusalem. Tubuhnya diikat dengan 12-14 cincin.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Arkeolog Temukan Makam Kuno Berisi Kerangka Biarawati Abad Ke-5, Tubuhnya Diikat dengan Cincin Besi
kerangka biarawati di yerusalem (IAA)

Tim arkeolog dari Otoritas Kepurbakalaan Israel (IAA) menemukan jenazah yang terkubur di sebuah makam kuno di Yerusalem dan dibalut rantai. Jenazah tersebut ternyata adalah seorang wanita dari abad kelima Masehi.

Ia adalah seorang pertapa yang tampaknya mempraktikkan bentuk penyiksaan diri semasa hidup dan juga kematiannya. Padahal, hingga saat ini semua bukti menunjukkan hanya biarawan pria yang terlibat dalam jenis praktik seperti ini.

Kini, para peneliti yang sama yang bertanggung jawab atas penemuan ini telah mengidentifikasi perempuan tersebut sebagai seorang biarawati dari era Bizantium. Hal ini mengakhiri misteri tentang siapa sebenarnya dia dan mengapa kerangka tubuhnya ditemukan dalam keadaan tidak biasa,

temuan kerangka biarawati
temuan kerangka biarawati IAA

Dilansir Ancient Origins, Jumat (14/3), ini adalah penemuan revolusioner yang menjadi bukti arkeologi pertama tentang praktik pertapaan ekstrem yang dilakukan oleh biarawati yang telah ditemukan di Yerusalem. Penemuan ini membuktikan bahwa praktik pertapaan ekstrem tidak hanya bagi pria yang taat beragama, tetapi juga bisa dilakukan oleh wanita, setidaknya pada beberapa kesempatan.

Arkeolog Distrik Yerusalem untuk IAA, Dr. Amit Ra’em menunjukkan hal menarik dari biarawati pertapa, terutama sehubungan dengan Hari Perempuan Internasional. Para wanita ini hidup dalam masyarakat patriakal di mana kehidupan religious didominasi oleh laki-laki.

Saat itu, para wanita sering menyamar sebagai pria, hanya untuk melakukan praktik pertapaan ini. Seperti terlihat dalam kisah-kisah Santo Pelagia dan Santo Marina, keduanya hidup sebagai pria untuk mengejar kemurnian spiritual dan pertapaan.

Penemuan Yang Mengejutkan

Penelitian ini diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science: Reports. Dipimpin oleh Dr. Paula Kolti, David Morgenstern, dan Prof. Elisabetta Boaretto dari Institut Sains Weizmann yang bekerja sama dengan Dr. Yossi Nagarm Zubair ‘Adawi, dan Kfir Arbiv dari Israel Antiquities Authority.

Kerangka ini ditemukan dalam keadaan tidak terawat dengan baik. Tim Institut Weizmann menggunakan analisis proteomic dan peptidomik yang mengidentifikasi jenis kelamin biologis kerangka melalui protein yang ditemukan dalam email gigi. Dengan menganalisis variasi protein Amelogenin yang dikodekan oleh kromosom seks X/Y, peneliti mengonfirmasi jasad tersebut adalah seorang wanita.

Zubair ‘Adawi dan rekannya, peneliti IAA mengatakan biarawati tersebut ditemukan dalam makam tunggal di bawah altar gereja, menunjukkan statusnya yang terhormat.

Tubuhnya diikat dengan 12-14 cincin di sekitar tangannya, empat cincin di sekitar lehernya, dan setidaknya sepuluh cincin di sekitar kakinya. Pelat atau cakram besi juga ditemukan di perutnya, melekat pada cincin-cincin tersebut sehingga menciptakan penampilan seperti baju besi pada kerangka tersebut.

Kerangka biarawati tersebut ditemukan di lokasi yang terletak sekitar tiga kilometer dari barat laut Kota Tua Yerusalem. Diidentifikasi sebagai biarawati Bizantium yang aktif dari abad ke-5 hingga ke-7 Masehi.

Penggalian tersebut tidak hanya menemukan biarawati dan gereja, tetapi juga makam-makam di bawah altar gereja. Di makam itu ditemukan kerangka pria, wanita, dan anak-anak. Cincin besi ditemukan di sekitar leher, lengan, dan kaki kerangka yang terikat, bersama dengan benda-benda logam, termasuk salib kecil.

temuan kerangka biarawati
temuan kerangka biarawati IAA

Menariknya, cincin besi yang berat ini bukanlah bentuk dari penyiksaan atau hukuman, tetapi dengan sukarela digunakan sebagai bagian dari praktik pertapaan. Catatan sejarah menunjukkan disiplin diri yang ekstrem seperti itu, termasuk mencambuk diri sendiri, diyakini bisa meninggikan jiwa dengan menghilangkan kesenangan tubuh.

Beberapa biarawan bahkan menjalani tindakan berbahaya, seperti berdiri di api atau membahayakan diri mereka di depan hewan pemangsa.

‘Adawi dan Arbiv menjelaskan praktik ekstrem tersebut kemungkinan berasal dari Suriah Utara dan Anatolia. Menyebar melalui Asia kecil dan Eropa, dan akhirnya mencapai Yerusalem dan Mesir.

Selain itu, penemuan ini juga menyoroti keterlibatan wanita dalam praktik pertapaan. Seperti dalam karya Historia Religiosa abad ke-5, Theodoret dari Cyrrhus menyebutkan dua wanita yaitu Marana dan Cryra yang mengikat diri mereka dengan rantai selama 42 tahun.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi