Mencium Istri Saat Puasa Ramadan: Apakah Membatalkan Puasa? Simak Penjelasan Gus Baha

Gus Baha menegaskan pentingnya peran Aisyah dalam menyebarkan ilmu agama, termasuk menjelaskan hukum suami yang mencium istri saat puasa Ramadhan.

Muhamad Ridlo
Oleh Muhamad Ridlo - Reporter
Mencium Istri Saat Puasa Ramadan: Apakah Membatalkan Puasa? Simak Penjelasan Gus Baha
Mencium Istri Saat Puasa Ramadan: Apakah Membatalkan Puasa? Simak Penjelasan Gus Baha (Merdeka.com)

Puasa di bulan Ramadhan tidak hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga berfungsi untuk mengendalikan hawa nafsu. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah ciuman antara suami dan istri dapat membatalkan puasa. Untuk menjawab pertanyaan ini, Gus Baha menceritakan peran Aisyah dalam menjelaskan sunnah Rasulullah. Dalam banyak hadis, Aisyah sering meriwayatkan perilaku Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami istri. Oleh karena itu, kita bisa menemukan jawaban mengenai hukum mencium istri saat berpuasa dalam riwayat Aisyah.

Pertanyaan tentang ciuman di bulan Ramadhan menjadi sangat relevan selama bulan suci ini. Lalu, apakah ciuman dapat membatalkan puasa? Sebelum memberikan jawaban, Gus Baha atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim menjelaskan mengenai pentingnya peran Aisyah dalam sejarah Islam. "Wahai Ummul Mukminin, saya punya istri cantik. Mencium istri itu membatalkan puasa tidak?" tanya seorang sahabat kepada Maimunah, salah satu istri Rasulullah. Kisah ini dirangkum dari tayangan video di kanal YouTube @NUOnlineID.

Maimunah pun memberikan jawaban yang mengundang tawa. "Jangan tanya aku! Nabi tak pernah menciumku saat puasa. Coba tanya Aisyah," ujar Maimunah. Jawaban ini sangat menarik karena Maimunah adalah istri Rasulullah yang sudah berusia lanjut. Menurut Gus Baha, alasan Maimunah memberikan jawaban tersebut adalah karena Rasulullah lebih mungkin mencium Aisyah yang masih muda. "Entah Maimunah atau siapa. Pokoknya istri nabi yang jarang dicium," kata Gus Baha, yang membuat para jamaah tertawa ,simak ulasan yang dirangkum Merdeka.com, Senin(2/3/2025)

Membatalkan atau tidak? Berikut adalah jawabannya

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Karena jawaban Maimunah belum memberikan kepastian, sahabat tersebut kemudian mengalihkan pertanyaannya kepada Aisyah. Ia menegaskan bahwa pertanyaannya berkaitan dengan hal yang hak, sehingga Allah tidak merasa malu untuk membahasnya. "Apakah mencium istri itu membatalkan puasa?" tanya sahabat itu kepada Aisyah. Dengan tegas, Aisyah menjawab, "Nabi biasa menciumku saat puasa. Tapi nabi tetap puasa." Dari jawaban ini, dapat disimpulkan bahwa mencium istri tidak membatalkan puasa, selama tidak menimbulkan syahwat yang berlebihan hingga menyebabkan keluarnya air mani.

Gus Baha menjelaskan bahwa dalam Islam ada banyak hal yang tidak membatalkan puasa, tetapi tetap perlu dikendalikan agar tidak berlebihan. Salah satunya adalah ciuman antara suami istri. Gus Baha juga ingin menekankan peran besar Aisyah dalam menyampaikan ilmu agama. Banyak hadis yang diriwayatkan melalui jalur Aisyah, yang bahkan tidak diketahui oleh istri-istri Rasulullah lainnya. "Berapa banyak ilmu yang kita dapatkan dari jalur Aisyah, yang kadang istri nabi yang lainnya tidak tahu," ungkap Gus Baha dalam ceramahnya. Dalam kajian fiqih, hukum mencium istri saat puasa memang tidak membatalkan puasa, namun dianjurkan untuk menahan diri, terutama bagi mereka yang belum mampu mengontrol syahwatnya.

Perbedakan Antara Ciuman yang Penuh Syahwat dan Ciuman yang Menunjukkan Kasih Sayang

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Para ulama membagi ciuman menjadi dua jenis, yaitu ciuman yang hanya sebagai ungkapan kasih sayang dan ciuman yang dapat memicu syahwat. Apabila yang kedua terjadi, maka sebaiknya dihindari agar tidak terjerumus dalam tindakan yang dapat membatalkan puasa.

Selain itu, mencium istri saat berpuasa juga memiliki makna positif, yaitu menunjukkan bahwa Islam mengizinkan kasih sayang antara suami dan istri selama dilakukan dalam batasan yang diperbolehkan. Dalam sejarah Islam, terdapat banyak contoh di mana Rasulullah menunjukkan kasih sayangnya kepada istri-istrinya, bahkan di bulan Ramadhan.

Namun, bagi mereka yang merasa ciuman berpotensi menimbulkan syahwat yang berlebihan, lebih baik untuk menghindarinya. Sebab, puasa tidak hanya sekadar menahan rasa lapar dan haus, tetapi juga menjaga hati serta pikiran dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala ibadah.

Oleh karena itu, jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya sebatas boleh atau tidak, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek pengendalian diri dan niat masing-masing individu.

Kesimpulannya, mencium istri saat puasa Ramadhan tidak membatalkan puasa, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Namun, bagi yang belum mampu mengontrol diri, sebaiknya lebih berhati-hati agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang dilarang dalam puasa. Wallahu a'lam.

Rekomendasi