Semua orang pasti pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Cinta adalah naluri alamiah yang dimiliki manusia pada lawan jenis. Meski tak semata-mata hanya pada pasangan. Makna cinta juga sering diartikan sebagai rasa sayang seseorang pada anak maupun keluarganya.
Meski demikian, sains punya pandangan tersendiri kenapa seseorang bisa jatuh cinta.
Mengutip dari mountelizabeth.com.sg, perasaan bahagia saat awal jatuh cinta dirangsang oleh 3 senyawa kimia di otak, yaitu:
(1) Noradrenaline: Merangsang produksi adrenalin yang menyebabkan jantung berdebar kencang dan telapak tangan berkeringat.
(2) Dopamin: Senyawa kimia yang membuat perasaan senang.
(3) Feniletilamina: Senyawa kimia yang keluar saat di dekat orang yang kita cinta, yang menyebabkan di perut kita seperti ada kupu-kupu berterbangan.
Advertisement
Seorang antropolog, Dr Helen Fisher menambahkan, ada tiga tahap berbeda dalam jatuh cinta.
Tahap pertama yaitu nafsu, yang didorong oleh kadar testosteron pada pria dan esterogen pada wanita.
Tahap kedua yaitu daya tarik. Daya tarik adalah memiliki perasaan yang mirip dengan efek obat-obatan atau alkohol tertentu.
Tahapan terakhir yaitu keterikatan. Di mana anda mulai merasa terikat erat dan mulai membuat rencana jangka panjang bersama.
Selain itu ada beberapa faktor lain yang memengaruhi dengan siapa akhirnya Anda jatuh cinta. Salah satu faktornya adalah bau seseorang. Sains menunjukkan bau seseorang menjadi faktor dari alam bawah sadar yang mempengaruhi ketertarikan Anda kepada seseorang.
Faktor lainnya yaitu seseorang tersebut memiliki banyak kemiripan dengan Anda. Salah satu studi meneliti 1.500 pasangan. Hasilnya, setiap pasangan memiliki pandangan hidup yang sama, termasuk pula pasangan yang baru bertemu.
Referensi:
https://www.mountelizabeth.com.sg/health-plus/article/the-science-behind-why-we-fall-in-love
Reporter Magang: Azizah Paramayu