CEK FAKTA: Deteksi Stroke Cukup dengan Menggerakkan Jari Tangan?

Cara cek risiko stroke menggunakan jari adalah tidak benar atau hoaks. Untuk mendiagnosa penyakit stroke melalui rangkaian pemeriksaan yang panjang.

Syifa Hanifah
Oleh Syifa Hanifah - Reporter
CEK FAKTA: Deteksi Stroke Cukup dengan Menggerakkan Jari Tangan?
Ilustrasi stroke. ©Shutterstock.com/Dan Kosmayer

Video cara mendeteksi stroke dengan menggerakan jari tangan, beredar di media sosial. Dalam video yang diunggah akun Instagram, untuk mengetahui stroke atau tidak, masyarakat diminta untuk menempelkan jari tengah dan telunjuk. Kemudian jari manis dengan ibu jari

Di saat posisi seperti ini, goyangkan jari kelingking Anda. Jika masih bisa bergerak-gerak, otak Anda masih aman. Sehingga Anda aman tidak memiliki risiko stroke.

Penelusuran

Hasil penelusuran, melansir dari kompas.com, Dokter spesialis saraf dari Rumah Sakit Royal dan National Hospital Surabaya Bambang Kusnardi mengatakan, cara cek risiko stroke menggunakan jari tersebut kurang tepat untuk dilakukan. Sebab, kedua hal itu tidak saling berhubungan.

"Tidak ada hubungan sama sekali," tuturnya, saat dikonfirmasi oleh Kompas.com, Senin (17/10/2022).

Menurutnya, cara cek apakah seseorang berpotensi terkena penyakit stroke dengan menggunakan jari tangan itu kurang tepat untuk mengetahui apakah seseorang berpotensi terkena stroke atau tidak.

"Kalau untuk mengetahui risiko stroke, ya kurang tepat," tandas dia.

Alih-alih menggunakan jari, dr Bambang mengatakan bahwa ada 2 hal yang bisa digunakan untuk memastikan apakah seseorang itu berpotensi terkena stroke atau tidak.

"Ada 2 (cara untuk mengetahui risiko stroke). Pertama tidak bisa di apa-apakan, kedua bisa dikendalikan," kata Bambang.

Dikutip dari situs kesehatan, halodoc, untuk mendiagnosa penyakit stroke melalui rangkaian pemeriksaan yang panjang. Biasanya, pemeriksaan diawali dengan mengecek tekanan darah, detak jantung, dan bunyi bising abnormal di pembuluh darah leher dengan menggunakan stetoskop.

Untuk mengetahui kondisi otak lebih detail. Selain itu, CT scan juga membantu dokter mengetahui ada atau tidaknya tumor atau perdarahan pada otak.

Selantutnya MRI, pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui gambaran otak pengidap secara lebih mendetail. Tes ini juga bisa membantu dokter menemukan jaringan pada otak yang mengalami kerusakan karena perdarahan atau stroke iskemik.

Elektrokardiografi, pemeriksaan yang dilakukan guna mengetahui aktivitas listrik pada organ jantung. Tes ini dapat membantu dokter menemukan kelainan detak jantung, adanya indikasi penyakit jantung koroner yang bisa terjadi bersama penyakit stroke.

Ekokardiografi, pemeriksaan dilakukan guna mendeteksi sumber gumpalan pada jantung sekaligus mengecek fungsi dari pompa jantung. Sebab, gumpalan dapat bergeser dari pembuluh darah jantung ke bagian otak yang memicu terjadinya stroke.

USG doppler karotis, pemeriksaan dilakukan dengan memanfaatkan gelombang suara untuk menghasilkan gambar aliran darah, di dalam pembuluh arteri karotis di leher secara lebih mendetail. Tujuannya yaitu mendeteksi adanya plak atau penumpukan lemak dan keadaan di dalam aliran darah tersebut.

Kesimpulan

Cara cek risiko stroke menggunakan jari adalah tidak benar atau hoaks. untuk mendiagnosa penyakit stroke melalui rangkaian pemeriksaan yang panjang. Biasanya, pemeriksaan diawali dengan mengecek tekanan darah, detak jantung, dan bunyi bising abnormal di pembuluh darah leher dengan menggunakan stetoskop.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan. Pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Referensi

https://www.kompas.com/tren/read/2022/10/17/162500165/viral-video-cara-cek-risiko-stroke-dengan-jari-ini-kata-dokter?page=all
https://www.halodoc.com/kesehatan/stroke

Rekomendasi