CEK FAKTA: Pasien Divaksin Moderna Alami Efek Samping yang Parah? Simak Faktanya

Orang yang menerima vaksin Moderna hanya mengalami efek samping yang ringan termasuk nyeri, kemerahan, bengkak, demam atau malaise. Tidak sampai menimbulkan efek samping yang parah.

Syifa Hanifah
Oleh Syifa Hanifah - Reporter
CEK FAKTA: Pasien Divaksin Moderna Alami Efek Samping yang Parah? Simak Faktanya
vaksin moderna. ©Reuters

Beredar unggahan di media sosial Facebook, yang berisi pidato seorang peneliti biomedis ames Lyons-Weiler yang menyatakan bahwa 21 persen pasien uji coba vaksin Moderna Covid-19 pernah mengalami efek samping yang serius.

"Satu-satunya poin data yang kami miliki tentang persentase pasien manusia yang terpapar vaksin virus corona mengalami efek samping serius adalah dari uji coba Moderna, dan angka itu adalah 21 persen. Dua puluh satu persen orang mengalami efek samping yang serius dari vaksin ini dalam percobaan itu. Yang lain belum mempublikasikan datanya."ujarnya dalam video tersebut.

Penelusuran

Hasil penelusuran, dilansir dari AFP, menurut Direktur Eksekutif Pusat Vaksin Universitas John Hopkins, William Moss menjelaskan sebanyak 21 persen terdapat 3 dari 14 partisipasi dengan efek samping parah yang diidentifikasi dalam uji coba fase 1 Moderna vaksin dengan dosis tertinggi (250 ug).

"Karena reaksi ini, Moderna tidak melanjutkan dengan dosis ini. Dosis saat ini 100 ug." jelasnya.

Kemudian November 2020, Moderna merilis data dari uji coba fase 3. Vaksin Moderna Covid-19 telah menerima otorisasi darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), badan federal yang bertanggung jawab untuk menyetujui vaksin. Vaksin Pfizer-BioNTech, yang menggunakan teknologi mRNA yang sama, juga mendapat persetujuan pada bulan Desember.

Moss mengatakan data terbaik tentang kejadian buruk dilaporkan ke Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologis Terkait.

"Kejadian efek samping parah yang dilaporkan dari uji coba fase 3 lebih dapat dipercaya karena mencerminkan dosis sebenarnya dari vaksin Moderna yang digunakan serta fakta bahwa hasil fase 3 didasarkan pada ukuran sampel yang jauh lebih besar. Jadi, menyoroti 21 persen untuk dosis tertinggi dari ukuran sampel yang sangat kecil dalam uji coba fase 1 menipu," kata Moss.

Moderna menyerahkan dokumen ke FDA yang menunjukkan bahwa hanya 82 orang, atau 0,5 persen dari 15.184 pasien percobaan yang menerima vaksin, mengalami efek samping yang serius, dengan hanya lima, atau kurang dari 0,1 persen, yang terkait dengan vaksinasi. Dalam kelompok plasebo, 86 orang atau 0,6 persen dari 15.162 peserta juga melaporkan efek samping yang serius.

"Untuk vaksin Pfizer dan Moderna, efek samping reaktogenik ini ringan hingga sedang, terjadi hingga dua hari setelah vaksinasi, dan tidak memiliki konsekuensi jangka panjang. Reaksi merugikan yang parah mencakup penyakit parah setelah vaksinasi baik terkait dengan vaksin maupun tidak terjadi pada kurang dari lima persen penerima vaksin,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Unit Penelitian Onkologi Molekuler di Institut Penelitian Klinis Montreal (IRCM), André Veillette, mengatakan bahwa jumlah reaksi cukup standar, dengan efek samping baik dalam vaksin maupun dalam kelompok plasebo termasuk nyeri, kemerahan, bengkak, demam atau malaise.

"Ada sekitar 15.000 orang dalam setiap kelompok, jadi frekuensi kejadian buruk tidak tinggi," tambah Veillette, yang bergabung dengan satuan tugas vaksin Covid-19 Pemerintah Kanada pada Agustus.

Sementara itu, dilansir dari merdeka.com, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA memperingatkan, vaksin Covid-19 Moderna bisa menyebabkan efek samping pada beberapa orang dengan filler wajah.

Sejumlah kecil peserta uji coba vaksin tersebut melaporkan pembengkakan wajah sebagai efek samping, seperti disampaikan dokter bedah plastik, Dr. Amir Karam.

"Jadi apa yang mereka lihat dalam uji coba 30.000 peserta yang dilakukan Moderna, mereka menemukan sekitar tiga dari pasien tersebut bereaksi terhadap filler. Reaksi itu terlokalisasi di tempat filler disuntikkan, jadi dalam beberapa kasus terjadi di bibir dan pipi," jelasnya seperti dikutip oleh NBC7 News di San Diego, dilansir Al Arabiya, Selasa (5/1).

Menurut laporan tersebut, satu peserta melakukan filler wajah dua pekan sebelum vaksinasi dan yang lainnya melakukannya enam bulan sebelumnya. Karam menjelaskan, ketika seseorang divaksin, sistem kekebalannya "meningkat".

Dia menjelaskan, sistem kekebalan dapat menargetkan area di mana filler berada yang kemudian menyebabkan "respons peradangan yang lebih kuat."

Efek samping, lanjutnya, yang "mungkin" tidak boleh menghentikan orang untuk vaksinasi dan semua reaksi yang terkait dengan filler telah diobati.

“Saya kira kalau terlokalisasi, jenis reaksi yang sangat ringan hanya di daerah yang bengkak, saya kira langkah pertama adalah menghubungi dokter yang menyuntikkan filler,” kata Karam.

Kesimpulan

Orang yang menerima vaksin Moderna hanya mengalami efek samping yang ringan termasuk nyeri, kemerahan, bengkak, demam atau malaise. Tidak sampai menimbulkan efek samping yang parah.

Namun yang menjadi catatan, FDA memperingatkan, vaksin Covid-19 Moderna bisa menyebabkan efek samping pada beberapa orang dengan filler wajah. Sejumlah kecil peserta uji coba vaksin tersebut melaporkan pembengkakan wajah sebagai efek samping

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Rekomendasi