Permainan Arsenal menyimpan daya tarik tersendiri. Dalam pengamatan, Riccardo Calafiori menunjukkan gaya bermain yang unik dan berbeda. Bek asal Italia ini menerapkan pendekatan yang tidak lazim dalam bermain sepak bola.
Di bawah bimbingan Mikel Arteta, posisi bek kiri di Arsenal selalu memiliki karakter yang khas. Sebelumnya, Nuno Tavares dikenal dengan larinya yang agresif menembus tengah lapangan, kemudian muncul Oleksandr Zinchenko dengan pola permainan yang tidak terduga namun terkontrol. Kini, Calafiori menggabungkan kedua elemen tersebut, menciptakan kekacauan yang terencana.
Calafiori memiliki kemampuan untuk membawa bola ke depan, melakukan tembakan dengan kedua kakinya, bahkan meminta bola di sisi kanan lapangan. Ia bermain dengan kebebasan yang jarang dimiliki oleh seorang pemain bertahan, dan hal inilah yang menjadikannya pemain yang berbahaya.
"Dinamika tinggi," ujar Arteta setelah timnya meraih kemenangan 2-0 atas West Ham.
"Kadang-kadang bisa terlihat agak kacau, tetapi dinamika tersebut menciptakan situasi yang sulit untuk dikendalikan oleh lawan."
Arteta sangat menyadari bahwa dalam struktur permainan yang ketat, sedikit kekacauan dapat menjadi senjata yang efektif. Calafiori merupakan anomali dalam sistem yang disiplin, dan Arsenal sangat membutuhkannya.
Advertisement
Insting Menyerang Seorang Bek Kiri
Calafiori telah menunjukkan potensi berbahayanya sejak awal musim. Dalam pertandingan melawan Fulham, gol setengah voli yang ia cetak harus dianulir karena offside. Namun, pergerakannya saat itu menandakan insting menyerang yang sangat alami.
Dia mengambil posisi sentral dan mengarahkan William Saliba serta Jurrien Timber untuk melakukan umpan panjang kepada Leandro Trossard, kemudian berlari untuk mengejar bola pantulan.
"Kadang saya tidak berpikir terlalu banyak, saya hanya menembak," ungkapnya setelah pertandingan.
Pernyataan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi mencerminkan keyakinan yang dimiliki oleh pemain dengan naluri ofensif yang kuat.
Menjelang laga melawan Girona pada bulan Januari, Calafiori tersenyum ketika ditanya apakah ia pernah bermain sebagai penyerang.
"Ketika kecil, seperti semua anak, saya juga seorang striker," jawabnya.
Musim ini, dia telah membuktikan bahwa naluri tersebut masih ada. Selain mencetak gol pertama Arsenal di musim ini melawan Manchester United, Calafiori juga mencatatkan dirinya sebagai pemain dengan jumlah tembakan terbanyak kedua di Premier League, dengan total 16 kali, hanya kalah satu tembakan dari Viktor Gyokeres.
Advertisement
Sistem Dua Bek Sayap Diterapkan Arteta
Kebebasan Calafiori dalam menyerang tidak muncul secara tiba-tiba. Di sisi lain lapangan, Jurrien Timber berperan sebagai jangkar pertahanan, yang memberikan keseimbangan bagi Calafiori untuk mengacau di lini depan.
Pola permainan ini melanjutkan tradisi yang diterapkan oleh Arteta, di mana satu bek sayap bertugas bertahan sementara bek sayap lainnya diberikan kebebasan untuk berimprovisasi. Puncak dari strategi ini terlihat saat pertandingan melawan West Ham, di mana Calafiori tampil sangat aktif.
Dalam laporan setelah pertandingan, disebutkan bahwa ia 'ada di mana-mana'. Ia bahkan sempat mengenai tiang gawang dengan tembakan kaki kanan dari luar kotak penalti, dan kemudian muncul di tengah lapangan untuk membantu penguasaan bola.
Terkadang, posisi Calafiori membuat penonton hanya bisa tertawa, karena aksinya yang tidak biasa untuk seorang bek kiri. Namun, semua ini bukanlah kebetulan.
Dalam pertandingan lainnya melawan Nottingham Forest, Calafiori dengan berani meminta bola di area yang biasanya diisi oleh gelandang serang muda, Ethan Nwaneri. Sebelumnya, ia berkontribusi dalam membangun serangan dari tengah lapangan, menciptakan ruang untuk Martin Odegaard melalui umpan pantul bersama Martin Zubimendi.
Gerakan yang ditunjukkan Calafiori bukanlah hal yang baru baginya. Musim lalu, ia pernah bermain layaknya gelandang nomor 10 saat Arsenal meraih kemenangan 2-0 atas PSG di Liga Champions. Kini, pola permainan tersebut telah berkembang menjadi bagian penting dalam strategi Arsenal untuk menembus blok pertahanan lawan.
Advertisement
Dari Kekacauan Menuju Produktivitas
Bagi Arsenal, kebebasan bermain Calafiori bukan hanya sekadar gaya, melainkan juga mencerminkan produktivitas yang signifikan. Dalam delapan pertandingan Premier League, ia telah berkontribusi langsung terhadap tiga gol, yaitu satu gol dan dua assist, serta terlibat dalam lima aksi yang menciptakan peluang gol. Beberapa contohnya terlihat saat Calafiori menyentuh bola sebelum Eberechi Eze mengirimkan umpan kepada Gabriel Martinelli dalam pertandingan melawan Manchester City. Selain itu, ia juga memberikan umpan panjang yang berhasil menembus pertahanan Nottingham Forest, yang berujung pada gol Gyokeres.
Kedua momen tersebut menunjukkan betapa matang kesadaran ruang Calafiori dan kemampuannya untuk melakukan eksekusi dengan cepat tanpa perlu berpikir terlalu lama. Menariknya, kedua gol ini terjadi tepat setelah babak kedua dimulai, pada waktu yang sama dengan gol debut Gyokeres melawan Leeds. Mungkin ini hanya kebetulan, atau mungkin tidak, tetapi yang jelas Arsenal memanfaatkan momen transisi ketika lawan belum sepenuhnya siap. Dengan kemampuannya membaca ruang dan bertindak secara spontan, Calafiori menjadi senjata paling berbahaya dalam situasi tersebut.
Advertisement
Transformasi Fisik dan Ketekunan
Satu-satunya pertanyaan mengenai Calafiori pada musim lalu adalah mengenai ketahanan fisiknya. Ia mengalami enam kali cedera, yang mengakibatkan hanya tampil sebanyak 29 kali. Namun, saat ini ia telah mencatatkan delapan kali sebagai starter berturut-turut di liga, sebuah pencapaian yang lebih baik dibandingkan dengan rekor musim sebelumnya. Sejak pramusim, ia menunjukkan konsistensi yang mengesankan, bahkan berhasil menutup kekosongan posisi Gabriel di lini belakang dengan melakukan overlapping run dari posisi tengah. Kematangan fisiknya memungkinkan ia untuk bermain tanpa perlu mengurangi gaya eksplosif yang dimilikinya.
Sayangnya, kebangkitan Calafiori berdampak pada Myles Lewis-Skelly, yang posisinya tergeser meskipun ia tampil baik di Liga Champions. Arteta mengakui bahwa Lewis-Skelly tidak melakukan kesalahan apapun; hanya saja saat ini Calafiori tidak tergantikan. Ia telah menjadi simbol dari filosofi baru yang diterapkan oleh Arteta: permainan yang terstruktur namun tetap memiliki elemen tak terduga di dalamnya. Dengan demikian, Calafiori tidak hanya menunjukkan kemajuan pribadi, tetapi juga berkontribusi besar terhadap tim secara keseluruhan.