Adaptasi Jean-Paul van Gastel di PSIM: Mempertahankan Standar Eropa Sambil Berkompromi dengan Budaya Indonesia

Manajer PSIM Yogyakarta, Razzi Taruna, mengungkapkan tentang karakter dan gaya kepemimpinan pelatih kepala, Jean-Paul van Gastel.

Ana Dewi
Oleh Ana Dewi - Reporter
Adaptasi Jean-Paul van Gastel di PSIM: Mempertahankan Standar Eropa Sambil Berkompromi dengan Budaya Indonesia
Ilustrasi PSIM Yogyakarta. (Bola.com/Gregah Nurikhsani) ((Bola.com/Gregah Nurikhsani))

Manajer PSIM Yogyakarta, Razzi Taruna, menjelaskan tentang karakter dan gaya kepemimpinan pelatih kepala, Jean-Paul van Gastel. Ia menyatakan bahwa pelatih asal Belanda tersebut memiliki pendekatan yang tegas namun tetap terbuka.

Razzi berpendapat bahwa pengalaman Jean-Paul van Gastel sebagai pelatih di Eropa membuatnya terbiasa berkomunikasi secara langsung tanpa basa-basi, yang menjadi nilai tambah bagi tim yang dikenal dengan sebutan Laskar Mataram.

“Dia orang Belanda jadi orangnya straightforward banget. Marah, marah. Jadi itu yang saya senang juga. Orangnya fair, kalau apresiasi ya apresiasi. Kalau kritik, dia kritik. Tapi selalu konteksnya membangun dan profesional,” ujar Razzi.

“Misalnya ada yang dia kurang suka dari saya, dia pasti bilang. Orangnya ke pemain saya rasa cukup fair. Dia bisa menjadi peran bapak dan juga serius at the same time. Ada juga joke internal yang dia suka ke pemain,” ungkapnya.

Dekat dengan Pemain

Ramadan Ubah Jam Kick-off BRI Super League, Pelatih PSIM Pastikan Timnya Siap Beradaptasi
Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul Van Gastel saat memberikan instruksi di pinggir lapangan ketika melawan Persebaya Surabaya pada BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bu Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul Van Gastel saat memberikan instruksi di pinggir lapangan ketika melawan Persebaya Surabaya pada BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bu

Juru taktik berusia 53 tahun ini dikenal tidak hanya tegas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjalin kedekatan emosional dengan para pemainnya.

Van Gastel mampu berperan sebagai sosok ayah yang mendukung, sambil tetap menjaga profesionalisme sebagai pelatih utama.

"Salah satu kenapa saya tertarik sama dia karena dia dari dulu banyak juga peran jadi asisten pelatih. Kalau asisten dulu di Eropa mungkin yang mengerjakan dirty job kan malah dia. Jadi ketika dia jadi pelatih kepala, dia bisa menjalankan dua-duanya sekaligus," ungkapnya.

Dia memiliki kemampuan untuk memimpin sebagai pelatih kepala, sekaligus menjalankan tugas-tugas kecil yang seringkali dianggap sepele tetapi sangat penting.

"Dia bisa menjadi pelatih kepala yang bisa punya leader command, pegang tongkat tapi dia juga bisa menjalankan pekerjaan-pekerjaan kecil yang bisa dibilang enggak penting tapi dianggap penting. Jadi hal-hal kecil pun diperhatikan."

Dalam perbincangan dengan Liana Tasno, dia menegaskan bahwa standar JP di sini seharusnya tetap tinggi.

"Saya pernah ngomong sama Cici (Liana Tasno) JP itu kan standarnya di sini (posisi tinggi), kita juga enggak mau JP di sini turun ke sini (posisi rendah) untuk menyamakan level kita di Indonesia. Karena buat apa saya ngambil JP kalau misalnya saya turunin ke standar Indonesia? Enggak," jelasnya.

Harus Berkompromi

Adaptasi ala Jean-Paul van Gastel di PSIM: Jaga Standar Eropa, Sedikit Kompromi dengan Indonesia
Ilustrasi PSIM Yogyakarta. (Bola.com/Gregah Nurikhsani) (Bola.com/Gregah Nurikhsani)

Razzi Taruna menekankan pentingnya adanya kompromi agar standar sepak bola Eropa yang diusung oleh Jean-Paul van Gastel dapat disesuaikan dengan realitas sepak bola di Indonesia.

"Namun, ini tidak berarti kita harus tetap berpegang pada standar Eropa yang sangat tinggi, karena kita bukan Feyenoord atau Besiktas. Mungkin kita bisa berada di posisi tengah. Jadi, ada kebutuhan untuk berkompromi, mengingat ini adalah Indonesia, tetapi standar tetap harus dijaga. Kita mendatangkan dia dari Belanda untuk tujuan itu," ujar Razzi.

"Sejauh ini, kerja sama ini berlangsung dengan baik. Ini adalah pertama kalinya kita bekerja dengan pelatih Eropa yang memiliki tingkat keahlian seperti dia. Jadi, 'Anda harus tetap berada di atas, tetapi pelatih boleh sedikit menyesuaikan. Kita harus tetap berkompromi, mengingat ini Asia, ini Indonesia, tetapi level yang Anda bawa ke sini harus tetap tinggi untuk kita pelajari."

Kehadiran Van Gastel telah memberikan dampak positif bagi Laskar Mataram. Dengan lisensi UEFA Pro yang dimilikinya, dia berhasil membawa PSIM bersaing di papan atas klasemen sementara BRI Super League 2025/2026.

PSIM, yang berstatus sebagai tim promosi, kini berada di posisi ketujuh dengan 30 poin. Dari total 18 pertandingan, mereka berhasil meraih delapan kemenangan, enam hasil imbang, dan empat kekalahan. Tim ini mencatatkan 23 gol dan kebobolan 21 gol.

Rekomendasi