45 laporan Diterima Kepolisian Terkait Dokumen Palsu Pemain Naturalisasi Timnas Malaysia

Tujuh pemain naturalisasi terlibat dalam kasus dokumen palsu di Timnas Malaysia.

Vincentius Atmaja
Oleh Vincentius Atmaja - Reporter
45 laporan Diterima Kepolisian Terkait Dokumen Palsu Pemain Naturalisasi Timnas Malaysia
Ilustrasi Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM), Timnas Malaysia. (Bola.com/ X FA Malaysia) ((Bola.com/ X FA Malaysia))

Kasus hukum yang melibatkan tujuh pemain naturalisasi di Timnas Malaysia terkait pemalsuan dokumen kini memasuki tahap baru. Menurut informasi dari Polis Diraja Malaysia (PDRM), mereka telah menerima 45 laporan dan mencatat keterangan dari delapan orang untuk menyelesaikan masalah ini.

Ketujuh pemain yang terlibat dalam skandal dokumen palsu tersebut adalah Gabriel Palmero, Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.

Dalam berita terbaru yang dilansir oleh media setempat, Berita Harian, Kepolisian Kerajaan Malaysia (PDRM) telah menerima 45 laporan mengenai dokumen palsu yang melibatkan tujuh pemain yang merupakan bagian dari tim Harimau Malaya.

Laporan pertama diajukan oleh Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) pada tanggal 24 Desember di Markas Besar Kepolisian Distrik Petaling Jaya (IPD) untuk menangani masalah ini.

Polis Diraja Malaysia Terima 45 Laporan atas Kasus Dokumen Bodong Pemain Naturalisasi Harimau Malaya
Ilustrasi Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM), Timnas Malaysia. (Bola.com/ X FA Malaysia) (Bola.com/ X FA Malaysia)

Kepala Departemen Investigasi Kejahatan Komersial, Datuk Rusdi Mohd Isa, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, pihaknya telah memulai proses penyelidikan berdasarkan Pasal 420 KUHP yang mengatur tentang penipuan.

"Sejauh ini, total 45 laporan telah diterima oleh Departemen Investigasi Kejahatan Komersial (JSJK). Kami juga telah mencatat keterangan dari delapan orang untuk membantu penyelidikan," ujarnya. Meskipun demikian, pihak PDRM memilih untuk merahasiakan identitas kedelapan orang yang memberikan keterangan tersebut.

Dalam penjelasannya, Datuk Rusdi menekankan pentingnya proses penyelidikan ini untuk memastikan semua laporan ditangani dengan serius.

"Kami berkomitmen untuk menyelidiki setiap laporan yang masuk demi keadilan dan keamanan masyarakat," tambahnya.

Dengan adanya laporan yang cukup banyak, diharapkan pihaknya dapat segera menemukan titik terang dalam kasus ini, meskipun identitas para saksi tetap dijaga kerahasiaannya demi keamanan mereka.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Presiden FAM, Datuk Mohd Yusoff Mahadi, mengungkapkan bahwa pengajuan laporan kepada pihak Kepolisian Diraja Malaysia dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari Komite Investigasi Independen (IIC) yang dipimpin oleh mantan Ketua Mahkamah Agung, Tun Md Raus Sharif.

Pengajuan ini dilakukan setelah komite tersebut menyelesaikan investigasi pada bulan Desember yang lalu. FAM berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh kepada Kepolisian Kerajaan Malaysia (PDRM) dan menghormati proses hukum yang sedang berlangsung.

"Langkah ini mencerminkan komitmen FAM terhadap integritas, transparansi, dan reformasi tata kelola untuk melindungi kepentingan sepak bola nasional," ujar Yusoff Mahadi.

Dengan tindakan ini, FAM berharap dapat menunjukkan bahwa mereka serius dalam menjaga reputasi dan kredibilitas sepak bola di negara ini. Melalui kerja sama dengan pihak berwenang, FAM ingin memastikan bahwa semua langkah yang diambil adalah untuk kebaikan dan kemajuan sepak bola Malaysia.

Sebelumnya, IIC dalam laporan investigasi lengkapnya telah memberikan tiga rekomendasi kepada FAM terkait dengan masalah pemalsuan dokumen yang melibatkan tujuh pemain keturunan Harimau Malaya.

Rekomendasi tersebut mencakup pengajuan laporan polisi untuk memungkinkan dilakukannya investigasi secara menyeluruh guna memastikan asal usul dokumen yang diduga palsu, serta untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Pada tanggal 26 September, FIFA mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi bahwa FAM dan ketujuh pemain tersebut telah melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA.

FIFA menemukan bahwa FAM telah menyerahkan dokumen yang diduga dipalsukan untuk mengonfirmasi kelayakan semua pemain. Akibatnya, FAM dijatuhi sanksi berupa denda sebesar 350.000 franc Swiss, yang setara dengan Rp7,3 miliar.

Sementara itu, ketujuh pemain tersebut dikenakan larangan bermain selama satu tahun ditambah denda sebesar 2.000 franc Swiss (Rp41 juta).

Selanjutnya, pada tanggal 3 November, Komite Banding FIFA menolak banding yang diajukan oleh FAM dan semua pemain yang terlibat, sehingga keputusan Komite Disiplin sebelumnya tetap berlaku.

Sumber: Berita Harian

Rekomendasi