Di balik keberhasilan seorang pelatih, terdapat peran penting dari asisten pelatih yang mendukungnya. Contoh nyata adalah Guus Hiddink. Keberhasilan Hiddink saat melatih Korea Selatan di Piala Dunia 2002 tidak terlepas dari kontribusi para asistennya. Hal ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi Patrick Kluivert. Pada Piala Dunia 2002, tidak ada yang menduga bahwa Korea Selatan akan melaju jauh hingga semifinal.
Namun, kenyataannya, mereka berhasil mencapainya. Jika mereka mampu mengalahkan Jerman di semifinal, bukan tidak mungkin bahwa Ksatria Taegeuk akan menjadi juara. Meskipun mereka hanya meraih posisi keempat, pencapaian ini sudah cukup mengejutkan dunia.
Perlu dicatat, sejak pertama kali berpartisipasi di ajang Piala Dunia yang diadakan setiap empat tahun oleh FIFA pada tahun 1986 di Meksiko, Korea Selatan selalu tersingkir di fase grup. Pencapaian luar biasa ini menjadikan Korea Selatan sebagai satu-satunya negara Asia yang pernah mencapai semifinal di pentas tertinggi sepak bola dunia.
Keberhasilan Korea Selatan tentunya tidak terlepas dari 'sentuhan midas' Hiddink. Ia ditunjuk sebagai pelatih utama satu musim sebelum Piala Dunia 2002 berlangsung. Dengan waktu persiapan yang sangat terbatas, Hiddink berhasil menyiapkan timnya dengan baik. Ia memanggil pemain-pemain berbakat, termasuk mereka yang berkarier di luar negeri seperti Ahn Jung-hwan (Perugia), Seol Ki-hyeon (Anderlecht), dan Yoon Jong-hwan (Cerezo Osaka) untuk bergabung dalam tim nasional.
Advertisement
Selain memiliki 23 pemain terbaik, Guus Hiddink juga didukung oleh dua asisten pelatih yang siap membantunya selama 24 jam nonstop. Dua sosok yang sangat berperan dalam kesuksesan Hiddink adalah Park Hang Seo dan Pim Verbeek. Meskipun seringkali berada di bawah bayang-bayang Hiddink, kontribusi Park Hang Seo dan Pim Verbeek tidak bisa diabaikan, terutama dalam menciptakan sensasi bagi Timnas Korea Selatan pada saat itu.
Park Hang Seo sendiri adalah mantan pemain Timnas Korea Selatan. Walaupun namanya tidak setenar yang lain, ia pernah menjadi bagian dari skuad Timnas Korea Selatan U-20, tim B, serta tim senior.
Setelah pensiun sebagai pemain, mantan gelandang Lucky-Goldstar Hwangso yang kini berusia 67 tahun melanjutkan karirnya sebagai pelatih. Sebelum kedatangan Hiddink, Park Hang Seo sudah menjabat sebagai asisten pelatih timnas sejak tahun 2000.
Dengan pengalaman sebagai mantan pemain dan posisi sebagai asisten pelatih, Park Hang Seo menjadi sosok yang tepat bagi Hiddink untuk berdiskusi. Ia memiliki pengetahuan mendalam tentang pemain Korea Selatan, termasuk kelebihan dan kekurangan mereka. Bagi Park Hang Seo, kesempatan untuk bekerja sama dengan pelatih berkelas seperti Hiddink, yang pernah menangani klub-klub besar seperti PSV, Valencia, dan Real Madrid, adalah suatu anugerah.
Keberhasilan Park Hang Seo saat melatih Timnas Vietnam antara tahun 2017 hingga 2023, dengan prestasi meraih medali emas SEA Games 2019 dan 2021 serta Piala AFF 2018, tidak terlepas dari ilmu yang ia pelajari dari Hiddink.
Advertisement
Salah satu asisten 'pembisik' terbaik Guus Hiddink yang berkontribusi pada kesuksesan Korea Selatan di Piala Dunia 2002 adalah Pim Verbeek. Berbeda dengan Hiddink, nama Pim Verbeek kurang dikenal di Belanda.
Kariernya sebagai pemain di Sparta Rotterdam tidak terlalu menonjol, karena klub tersebut merupakan satu-satunya yang pernah ia bela. Meskipun karier kepelatihannya di De Graafschap, Feyenoord, dan Fortuna Sittard juga tidak istimewa, keberuntungan berpihak padanya ketika dipercaya menjadi asisten pelatih Hiddink.
Walaupun pengalaman coaching-nya masih jauh lebih sedikit, Hiddink selalu mendengarkan masukan dari Pim Verbeek dengan serius. Ketiga sosok, Hiddink, Park Hang Seo, dan Pim Verbeek, sering terlibat dalam diskusi mendalam, baik sebelum pertandingan maupun setelah Ahn Jung-hwan dan rekan-rekannya bermain.
Setelah Piala Dunia 2002, Pim Verbeek tidak pergi tanpa meninggalkan jejak. Sementara Hiddink mendapat penghargaan sebagai warga negara kehormatan Korea Selatan, Pim Verbeek kemudian dipercaya untuk melatih Timnas Korsel U-23 dari tahun 2005 hingga 2006, menjadi asisten pelatih timnas, serta menjabat sebagai pelatih Timnas Korsel dari 2006 hingga 2007.
Ketika Pim Verbeek meninggal dunia pada 28 November 2019 di usia 63 tahun, banyak rakyat Korea Selatan yang merasakan kehilangan yang mendalam. Warisannya sebagai pelatih dan pengaruhnya dalam sepak bola Korea Selatan tetap dikenang oleh banyak orang, menunjukkan betapa pentingnya perannya selama masa-masa bersejarah bagi tim nasional.
Advertisement
Berdasarkan pengalaman Guus Hiddink, Patrick Kluivert perlu terbuka terhadap saran dari staf pelatihnya. Seperti Hiddink, Kluivert menghadapi tantangan besar. Mantan penyerang Barcelona ini dituntut untuk membawa Timnas Indonesia lolos langsung ke Piala Dunia 2026.
Untuk mencapai itu, Kluivert harus meraih kemenangan dalam dua pertandingan mendatang di Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, yaitu melawan Australia pada 20 Maret dan Bahrain lima hari setelahnya.
Patrick Kluivert tidak hanya didukung oleh tiga asisten pelatih berpengalaman asal Belanda, yaitu Alex Pastoor, Denny Landzaat, dan Gerald Vanenburg, tetapi juga oleh pelatih lokal dari Indonesia. PSSI telah mengusulkan beberapa nama calon asisten pelatih lokal untuk Kluivert.
Dengan dukungan minimal lima asisten pelatih, diharapkan Kluivert dapat membawa Skuad Garuda meraih prestasi yang lebih tinggi. Salah satu kunci keberhasilan adalah kemampuan Kluivert dalam memanfaatkan semua asistennya secara optimal. Hal ini juga diungkapkan Kluivert mengenai kerjasamanya dengan Gerald Vanenburg.
"Bekerja sama dengan rekan-rekan seperjuangan seperti Gerald sangat penting untuk mencapai visi bersama kami tentang kemajuan dan kesuksesan Timnas Indonesia," kata Patrick Kluivert.