Drama Penalti Kontroversial Oman Bikin Palestina Tersingkir, Timnas Indonesia Harus Waspada di Round 4!

Harapan Palestina untuk lolos ke Piala Dunia 2026 sirna setelah Oman mencetak gol penalti di akhir pertandingan, mengakhiri perjuangan mereka.

Radifa Arsa
Oleh Radifa Arsa - Reporter
Drama Penalti Kontroversial Oman Bikin Palestina Tersingkir, Timnas Indonesia Harus Waspada di Round 4!
Drama Penalti Kontroversial Oman Bikin Palestina Tersingkir, Timnas Indonesia Harus Waspada di Round 4! (Merdeka.com)

Mimpi Timnas Palestina untuk meraih tiket ke Piala Dunia 2026 harus sirna setelah kemenangan mereka dipatahkan oleh gol penalti yang dicetak oleh Timnas Oman di menit-menit akhir. Dalam laga terakhir Grup B putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Palestina sebenarnya sempat memiliki harapan untuk melanjutkan langkah mereka ketika menghadapi Oman.

Walaupun harus bermain di stadion yang berlokasi di luar negeri, yaitu King Abdullah II Stadium di Amman, Yordania, Timnas Palestina menunjukkan semangat juang yang tinggi dan berhasil unggul pada menit ke-49 melalui Oday Kharoub. Seandainya mereka mampu mempertahankan keunggulan 1-0 tersebut hingga akhir pertandingan, Palestina berpotensi untuk melaju ke babak selanjutnya bersama Irak, karena mereka akan finis di posisi empat. Namun, harapan itu pupus setelah Oman mencetak gol di menit akhir, yang mengakhiri impian Palestina.

Setelah berhasil unggul, Palestina sebenarnya menunjukkan permainan yang sangat nyaman dan mendominasi. Mereka mendapatkan keuntungan jumlah pemain karena pemain Timnas Oman, Harib Al-Saadi, diusir oleh wasit setelah menerima kartu kuning kedua. Dengan kondisi tersebut, harapan tim yang dikenal sebagai Lions of Canaan untuk melaju ke Piala Dunia 2026 semakin terasa dekat.

Namun, mereka harus menerima kenyataan pahit setelah wasit memberikan keputusan penalti yang menuai kontroversi. "Saat waktu menuju habis, wasit memberikan penalti kontroversial di area pertahanan Timnas Palestina, untuk kemenangan Oman," demikian ulasan yang ditayangkan oleh OneFootball di situs Sports Yahoo pada Rabu (11/5/2025).

"Dengan bantuan VAR, wasit mengesahkan penalti yang sukses dikonversi oleh Issam Al-Shabi. Kegembiraan bagi Oman yang akan melanjutkan ke babak keempat, sementara Palestina harus menghadapi kehancuran karena impian mereka hancur," tambahnya.

Keputusan tersebut tentunya menjadi momen yang sulit bagi Palestina, yang sebelumnya telah menunjukkan performa baik dalam pertandingan. Meskipun mereka unggul, keputusan wasit yang kontroversial tersebut mengubah segalanya dalam sekejap. Kini, Palestina harus merelakan kesempatan berharga untuk tampil di ajang bergengsi tersebut, sementara Oman bersiap untuk melangkah lebih jauh dalam kompetisi.

Menariknya, banyak pihak menilai momen pelanggaran ini sebagai hal yang aneh. Media Eropa, Balls.ie, menyatakan bahwa kontak yang terjadi dalam kotak penalti Palestina sebenarnya sangat sedikit. "Hebatnya, penalti diberikan. Itu adalah keputusan yang sangat kontroversial, dengan kontak yang sangat minim, dan jelas tidak disengaja oleh bek sayap Palestina tersebut," tulis situs Balls.ie yang berasal dari Irlandia.

Pada saat-saat krusial seperti ini, wasit asal Iran yang memimpin pertandingan, Mooud Bonyadifard, hanya mengandalkan masukan dari wasit VAR tanpa memeriksa tayangan VAR secara langsung di lapangan. "Namun, wasit memilih untuk tidak meninjau keputusan tersebut di monitor pinggir lapangan, tetap pada keputusannya di lapangan dan memberikan Oman gol penyeimbang pada menit ke-97 yang menghancurkan harapan Palestina."

Di tengah situasi yang penuh gejolak akibat invasi dan genosida yang dilakukan oleh Israel, pencapaian Timnas Palestina yang berhasil melaju ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia merupakan sebuah prestasi yang sangat berarti. Ini adalah kali pertama mereka berhasil mencapai tahap ini, yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam sepak bola Palestina.

Lebih jauh lagi, dua tahun sebelumnya, mereka juga berhasil menembus babak 16 besar Piala Asia 2023, yang menjadi pencapaian terbaik dalam sejarah mereka. Hal yang lebih mencengangkan adalah Palestina harus bermain di luar negeri akibat konflik yang sedang berlangsung di tanah air mereka. Mereka pernah menggunakan Stadion Kuala Lumpur di Malaysia, Stadion Jassim bin Hamad di Qatar, serta Amman Internasional Stadium di Yordania sebagai tempat bertanding.

Rekomendasi