Apa Kabar Musisi Legendaris Doel Sumbang?
Merdeka.com - Lama tak muncul di layar kaca, apa kabar dengan musisi legendaris asal Jawa Barat Doel Sumbang? Meniti karier sejak tahun 1980-an, penyanyi dengan nama asli Abdul Wahyu Affandi itu memang nyaris sudah tak pernah tampil di berbagai acara yang tayang di televisi nasional.
Namun ternyata Doel masih memiliki segudang kesibukan di usianya yang sudah lebih dari setengah abad. Ia tak pernah berhenti berkarya dan menyapa penggemar yang tersebar di berbagai daerah. Namun, masa pandemi virus corona membuat sederet kegiatannya terpaksa harus terhenti.
Dalam wawancara dengan jurnalis Merdeka.com Astri Agustina pada 3 Januari 2021 lalu, Doel bercerita mengenai kesibukannya selama masa pandemi. Bukan hanya itu, ia juga mengisahkan tentang kesibukan yang seharusnya dijalani bila Covid-19 tak masuk ke Tanah Air. Berikut petikan wawancara lengkapnya:
Di masa pandemi virus corona, apa yang dilakukan oleh Doel Sumbang?
Kebetulan saya memang mengikuti prokes, dari mulai lockdown sampai tinggal di rumah dan 3M. Pandemi hanya mengganggu jalannya kegiatan konser outdoor indoor, tapi tidak mengurangi proses kreatif. Jadi berkarya jalan terus. Mengisi kekosongan iseng-iseng membuat konten di medsos.
Pertama Soliolui Seblum di instagram hampir setiap hari. Kedua, live streaming talkshow Ngaler Ngidoel di YouTube channel Doel Sumbang Asli. Setiap malam Rabu jam delapan sampai jam 10 malam.
Jika virus Covid-19 tak menyebar di Tanah Air, bagaimana kegiatan yang harusnya dijalani Doel Sumbang selama tahun 2020?
Tahun ini gara-gara pandemi (jadi di rumah saja). Yang sudah masuk itu 28 titik pertunjukan, sebagian sudah kontrak tapi gak bisa jalan. Ada yang kegiatan satuan, ada juga roadshow produsen untuk satu tahun. Lumayan lah hilangnya. Termasuk acara halal bihalal warga Indonesia di London yang juga kita batalkan.
Dari segi musik, adakah Doel Sumbang menciptakan lagu baru dalam waktu setahun belakangan ini?
Karya tentu saja buat tapi belum dipasarkan karena kan sekarang ini industri sedang sangat terpuruk. Tetapi, mendaur ulang karya lama lebih menarik untuk bisnis digital. Kenapa? Karena karya lama tidak berat untuk promosi atau diperkenalkan ke publik. Beda dengan karya baru. Sudah ada beberapa (yang didaur ulang) lagu Sunda.
Boleh disebutkan hasil karya lagu daur ulang yang sudah dihasilkan?
Ada beberapa lagu Sunda (yang didaur ulang), 'Kacida' oleh Fanny Sabila, 'Kurang Kumaha' oleh Rita Tila, dan yang sedang proses sekarang lagu 'Kecipak Cibung' dibawakan sama saya sendiri.
Rencananya akan ada berapa lagu yang akan didaur ulang dan dinyanyikan sendiri?
Belum tahu, semuanya tergantung mood saya saja.
(mdk/end)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya