Target Terlampaui: Bauran Energi Bersih Ketenagalistrikan Indonesia Capai 16,3 Persen
Kementerian ESDM mengumumkan capaian bauran energi bersih di sektor ketenagalistrikan melampaui target RUKN 2025, mencapai 16,3 persen, menandai kemajuan signifikan dalam transisi energi Indonesia.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan kabar positif mengenai transisi energi Indonesia. Sektor ketenagalistrikan berhasil melampaui target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) yang telah ditetapkan. Capaian ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendorong penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa bauran EBT di ketenagalistrikan mencapai 16,3 persen pada tahun 2025. Angka ini melampaui target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang hanya sebesar 15,9 persen. Pengumuman tersebut disampaikan setelah Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta.
Meskipun demikian, bauran energi bersih secara keseluruhan, termasuk biodiesel, tercatat sebesar 15,75 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan 1,1 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 14,65 persen. Pemerintah optimis capaian ini akan terus meningkat seiring dengan operasional pembangkit EBT baru.
Pencapaian Sektor Ketenagalistrikan Melampaui Rencana
Capaian bauran energi bersih di sektor ketenagalistrikan menjadi sorotan utama dalam laporan kinerja Kementerian ESDM tahun 2025. Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa angka 16,3 persen merupakan bukti nyata dari upaya transisi energi. “Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu (bauran EBT) tercapai 16,3 persen. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9 persen,” ujar Eniya Listiani Dewi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Target RUKN yang ambisius berhasil dilampaui, menandakan efektivitas strategi pemerintah dalam mengintegrasikan energi baru dan terbarukan. Peningkatan ini penting untuk mencapai target energi bersih nasional yang lebih besar. Hal ini juga menunjukkan bahwa sektor ketenagalistrikan menjadi motor penggerak utama dalam transisi energi.
Keberhasilan ini tidak hanya sekadar angka, tetapi juga mencerminkan investasi dan pengembangan infrastruktur EBT. Berbagai proyek pembangkit listrik berbasis energi terbarukan telah berkontribusi signifikan. Fokus pada pembangkit listrik bersih terus ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Proyeksi Peningkatan Bauran Energi Bersih Nasional
Secara keseluruhan, bauran energi bersih nasional, yang mencakup sektor ketenagalistrikan dan penggunaan biodiesel, mencapai 15,75 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan 1,1 persen dari tahun sebelumnya, yaitu 14,65 persen pada tahun 2024. Peningkatan ini merupakan sinyal positif bagi upaya dekarbonisasi Indonesia.
Eniya Listiani Dewi meyakini bahwa bauran energi bersih Indonesia akan terus meningkat pada tahun 2026. Hal ini didorong oleh pelaksanaan Commercial Operation Date (COD) beberapa pembangkit EBT besar. Proyek-proyek seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Merangin dan PLTA Batang Toru diharapkan memberikan dorongan signifikan. “Itu nanti pasti mendongkrak jadi 16 sekian, target di renstra itu 17 (persen),” ucap Eniya.
Pembangkit-pembangkit EBT yang akan beroperasi penuh ini akan menambah kapasitas terpasang energi bersih. Dengan demikian, target Rencana Strategis (Renstra) sebesar 17 persen untuk bauran EBT semakin realistis. Pemerintah terus mendorong percepatan proyek-proyek EBT untuk mencapai target yang lebih tinggi.
Tantangan dan Dominasi Energi Fosil dalam Penambahan Kapasitas
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia secara terpisah menyampaikan bahwa penambahan bauran energi bersih sepanjang 2025 sebenarnya cukup besar. Capaian total kapasitas pembangkit terpasang EBT sampai dengan Desember 2025 tercatat sebesar 15.630 MW. Penambahan ini merupakan yang terbesar dalam lima tahun terakhir.
Namun, Bahlil juga menjelaskan bahwa persentase bauran energi bersih secara keseluruhan mengalami penurunan relatif. “Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan (pembangkit) dari gas dan batu bara,” ucap Bahlil. Ini menunjukkan tantangan dalam meningkatkan porsi EBT di tengah pertumbuhan kebutuhan energi yang tinggi.
Sepanjang tahun 2025, terdapat penambahan kapasitas terpasang pembangkit sebesar 7 GW, dari 100,65 GW menjadi 107,51 GW. Dari total penambahan tersebut, pembangkit yang menggunakan energi fosil seperti batu bara dan gas masih mendominasi. Pertumbuhan kapasitas pembangkit sebesar 6,8 persen dibandingkan tahun 2024 menunjukkan peningkatan kebutuhan energi. “Dalam analisa kami di tahun 2026, kita harus genjot karena seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi,” kata Bahlil.
Pemerintah menyadari perlunya upaya lebih keras untuk menggenjot bauran energi bersih. Peningkatan pertumbuhan ekonomi akan diiringi dengan peningkatan kebutuhan energi. Oleh karena itu, strategi untuk mengurangi dominasi energi fosil sambil tetap memenuhi kebutuhan listrik nasional menjadi krusial.
- Bauran EBT di sektor ketenagalistrikan 2025: 16,3 persen.
- Target RUKN untuk ketenagalistrikan: 15,9 persen.
- Bauran EBT secara keseluruhan 2025: 15,75 persen.
- Bauran EBT secara keseluruhan 2024: 14,65 persen.
- Total kapasitas pembangkit terpasang EBT Desember 2025: 15.630 MW.
- Total penambahan kapasitas pembangkit 2025: 7 GW (dari 100,65 GW menjadi 107,51 GW).
Sumber: AntaraNews