Tahukah Anda? Statistik Adalah 'Mata' Kebijakan, Ini Peran Statistik Bappenas Menurut Rachmat Pambudy
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menekankan Peran Statistik Bappenas sebagai 'mata' pengambil kebijakan. Bagaimana data ini membentuk Indonesia Emas?
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy, mengungkapkan pentingnya statistik. Ia menyebut statistik sebagai "matanya para pengambil kebijakan" dan "telinganya para pengambil strategi pembangunan". Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan resminya di Jakarta pada Sabtu, 27 September.
Menurut Rachmat, data statistik memiliki peran krusial dalam merumuskan arah pembangunan nasional. Statistik tidak hanya membantu dalam menyusun rencana yang baik, tetapi juga memastikan pelaksanaannya terasa manfaatnya. Hal ini ditekankan untuk mencapai tujuan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Pernyataan Rachmat tersebut menyoroti bagaimana data akurat menjadi fondasi utama. Data ini diperlukan untuk memastikan setiap program pembangunan dapat diukur keberhasilannya. Tujuannya adalah agar dampak positifnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas di seluruh Indonesia.
Pentingnya Statistik dalam Perencanaan Pembangunan
Rachmat Pambudy menjelaskan bahwa perencanaan pembangunan yang baik saja tidak cukup. Perencanaan tersebut harus dilaksanakan dengan baik dan dampaknya dirasakan oleh penerima manfaat. Ini adalah prinsip dasar yang dipegang Bappenas untuk menjamin keberhasilan program.
Dalam sidang Komisi XI DPR RI, Bappenas menerima arahan penting. Komisi yang membidangi keuangan dan perencanaan nasional ini menekankan perlunya implementasi yang efektif. Mereka berharap hasil perencanaan dapat benar-benar dinikmati masyarakat, bukan hanya tercatat di atas kertas.
Sebagai contoh, Rachmat berdiskusi dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, tentang pembangunan rumah. Pembangunan tidak hanya dihitung jumlahnya, tetapi juga harus dirasakan oleh penghuninya. Perasaan ini, meskipun subjektif, bisa diukur dengan metodologi statistik yang tepat.
Mengukur Dampak dan Perasaan dengan Data Akurat
Rachmat Pambudy menegaskan bahwa perasaan penerima manfaat, meski berbeda-beda, dapat diukur. Pengukuran ini dimungkinkan melalui metodologi statistik terbaik yang ada. Dengan demikian, evaluasi program menjadi lebih objektif dan komprehensif, memberikan gambaran nyata.
Oleh karena itu, Bappenas meminta Badan Pusat Statistik (BPS) untuk tidak hanya mencatat data. BPS diharapkan juga mengukur dan melihat dampak dari setiap program pembangunan. Pendekatan ini akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai efektivitas kebijakan.
Kerja sama antara Bappenas dan BPS sangat vital dalam hal ini. Mereka perlu memastikan data yang dihasilkan tidak hanya akurat, tetapi juga relevan. Data tersebut harus mampu merefleksikan perubahan dan dampak nyata di lapangan, mendukung Peran Statistik Bappenas.
Statistik sebagai Fondasi Indonesia Emas 2045
Apabila cara kerja yang berfokus pada pengukuran dampak ini diterapkan secara konsisten, Rachmat optimistis. Ia percaya bahwa target Indonesia Emas 2045 dapat terwujud. Visi besar ini sangat bergantung pada fondasi data yang kuat dan terpercaya.
Pencapaian Indonesia Emas harus dimulai dengan statistik yang benar dan baik. Statistik tersebut juga harus didasarkan pada asas-asas kemanusiaan. Ini berarti data tidak hanya angka, tetapi juga merefleksikan kondisi riil dan kebutuhan masyarakat.
Rachmat berharap BPS dapat menjadi garda terdepan dalam menyediakan data. Data ini sangat penting untuk mendukung seluruh proses pembangunan nasional. Kualitas data BPS akan menentukan keberhasilan program-program Bappenas dalam jangka panjang.
Sumber: AntaraNews