Strategi Gugus Tugas Ketahanan Pangan Polri Hadapi Panen Raya Jagung Tahap 2
Gugus tugas ini berperan aktif menggerakkan masyarakat dan kelompok tani untuk menanam jagung melalui program terintegrasi dengan berbagai pihak.
Ketua Gugus Tugas Polri Mendukung Ketahanan Pangan, Komjen Pol. Dedi Prasetyo menginstruksikan jajarannya untuk mempersiapkan panen raya serentak tahap 2 yang akan dilaksanakan pada akhir Mei hingga awal Juni 2025.
“Panen ini tidak hanya di lahan binaan Polri, tetapi juga di lahan jagung milik swasta dan masyarakat yang siap panen dalam waktu bersamaan,” kata Dedi, melalui keterangan tertulis, Rabu (30/4).
Dia mengatakan, panen raya ini merupakan momentum untuk memperkuat kolaborasi nasional menuju ketahanan pangan berkelanjutan dan kesejahteraan petani. Lewat momen ini, harga pembelian pemerintah (HPP) juga bisa dijaga sesuai ketentuan Bapanas.
Data sementara dari survei KSA Jagung Februari 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2025 menunjukkan produksi jagung tongkol kering panen (JTKP) mencapai 9.032.262 ton.
Angka ini melonjak 48,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 6.083.506 ton.
Gugus tugas ini berperan aktif menggerakkan masyarakat dan kelompok tani untuk menanam jagung melalui program terintegrasi dengan berbagai pihak.
Selesaikan Masalah Distribusi
Polri mengawal Perum Bulog dalam menyerap hasil panen petani sesuai harga yang ditetapkan Badan Pangan Nasional sebesar Rp5.500 per kilogram di tingkat petani.
Polri juga menginstruksikan koordinasi intensif dengan Pemda dan Perum Bulog di tingkat kabupaten atau kota serta provinsi untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan kendala distribusi, termasuk pembangunan gudang dan cold storage di desa sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto.
Sementara itu, Satgas Pangan diperintahkan untuk mengidentifikasi praktik spekulasi dan penguasaan pasar oleh tengkulak yang berpotensi menurunkan harga. Melakukan pengendalian hukum terhadap pelanggaran pasar yang merugikan petani.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pembangunan infrastruktur logistik seperti gudang dan cold storage di pedesaan untuk memperkuat ketahanan pangan.
“Polri dan TNI hadir sebagai penggerak logistik dengan kecepatan eksekusi di lapangan. Ini bukan hanya tentang panen, tetapi juga menjamin ketersediaan pangan saat krisis global,” ujar Komjen Dedi.