Siapa Minat Jadi Petani Milenial? Penghasilan Rp20 Juta, Lebih Besar dari Gaji Pegawai Kantoran
Menurut Amran, sudah saatnya pertanian tidak lagi dipandang sebelah mata. Terlebih, jika dikelola dengan pendekatan teknologi.
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menegaskan bahwa pertanian di Indonesia harus segera bertransformasi dari pola tradisional menjadi lebih modern. Hal ini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menarik minat generasi muda atau milenial agar mau terjun ke sektor pertanian.
"Jadi pertanian harus pendekatannya holistik. Dulu pertanian tradisional, ini harus bertransformasi menjadi pertanian modern. Di sini semua manual menjadi pertanian modern," kata Amran dalam Podcast merdeka.com, dikutip Youtube, Jumat (11/4).
Menurut Amran, sudah saatnya pertanian tidak lagi dipandang sebelah mata. Terlebih, jika dikelola dengan pendekatan teknologi, pendapatan petani milenial justru bisa melampaui pegawai kantoran.
"Milenial tidak mungkin mau bertani kalau tidak menguntungkan. Inilah cara untuk menarik milenial untuk bertani. Menguntungkan, menggunakan teknologi tinggi, dia akan turun. Dan pendapatannya jangan harus dibawa daripada kalau jadi pegawai," ujarnya.
Target Pendapatan Petani Muda Minimal Rp10 Juta per Bulan
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023, jumlah petani di Indonesia tercatat mencapai 28 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar 6 juta di antaranya merupakan petani muda. Amran menyadari, regenerasi petani menjadi tantangan tersendiri, terutama karena banyak anak muda lebih tertarik merantau ke kota.
Namun, Amran optimistis, kunci untuk menarik milenial kembali ke desa adalah keuntungan yang menjanjikan.
"Tapi bertani ini, milenial ini untuk mengajak ke lapangan, yang pertama syaratnya adalah satu, menguntungkan. Kalau jadi pegawai Rp3 juta, petani milenial minimal Rp10 juta," tegasnya.
Bahkan, kata Amran, dengan penerapan teknologi tinggi, ada petani di berbagai daerah seperti Merauke, Aceh, hingga Kalimantan yang mampu meraup pendapatan bersih Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan.
"Ini bisa tunjukkan, pendapatannya di Merauke, di Aceh, Kalimantan itu dapat Rp15 sampai Rp20 juta. Bersih per bulan. Tapi kita menggunakan teknologi tinggi," jelas Amran.
Pemerintah Dorong Pertanian Modern Lewat Program Klaster
Amran mengakui, tak semua petani di desa memiliki akses atau kemampuan untuk membeli alat pertanian modern. Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan program berbasis klaster seluas 3 juta hektare untuk mempercepat modernisasi pertanian secara bertahap.
"Gini, ini harus bertahap. Ini kan ada program 3 juta hektare. Kita buat klaster yang 3 juta hektare ini kita selesaikan secara bertahap. Ini kita menciptakan petani modern," katanya.
Amran menyebut, teknologi yang diterapkan di Indonesia bahkan tidak kalah canggih dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, China, dan Vietnam.
"Kita sejajarkan teknologinya dengan negara maju. Kami baru pulang dari Arkansas, dari China, Vietnam. Produktivitas kita di Majalengka. Berarti sama kan?" ujarnya.
Petani Milenial Makin Banyak, Tertarik Karena Teknologi dan Keuntungan Besar
Saat ini, antusiasme milenial untuk bertani mulai tumbuh. Amran mengungkapkan, sudah ada 27 ribu milenial yang mendaftar untuk menjadi petani modern.
"Seperti tadi, bisa tunjukkan petani milenial di Kalimantan. Ini milenial semua. Dan menggunakan teknologi ini tanpa operator. Autonomous. Ini buatan kita," katanya.
Dengan dukungan alat canggih seperti drone untuk menanam hingga alat panen modern, Amran optimistis profesi petani akan makin dilirik anak muda.
"UMR Rp3 juta, Rp4 juta, Rp5 juta. Ini (petani) Rp15 juta. Kemudian kita memberikan peralatan, insentif. Ini adalah bantuan pemerintah. Setelah mereka kuat, silakan lanjutkan. Jadi cuma satu kali lagi. Satu kali saja dibantu. Petaninya untung, milenialnya bahagia," tegasnya.
Transformasi pertanian ini, lanjut Amran, sudah dimulai sejak 2016 dengan alokasi anggaran hingga Rp10 triliun untuk pengadaan alat mesin pertanian (alsintan).
Ke depan, pemerintah akan terus mendorong modernisasi pertanian, termasuk program cetak sawah baru untuk memperluas lahan produktif.
"Jadi transformasi pertanian tradisional menjadi modern. Dan modern kita klaster di 3 juta hektare. Kemudian yang sudah di Jawa, katakanlah, sebagian Jawa juga sudah. Tetapi yang terpenting adalah yang ke depan cetak sawah. Kita menggunakan pertanian modern. Dan mesejajarkan dengan negara-negara maju," pungkas Amran.