Gubernur BI Optimis Nilai Tukar Rupiah Menguat
Rupiah melemah ke Rp17.157 per dolar AS. BI memperkuat intervensi dan mempertahankan suku bunga untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Rabu (22/4/2026), seiring meningkatnya sentimen global yang dipicu dinamika geopolitik, termasuk peluang negosiasi antara AS dan Iran.
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat turun 13 poin atau 0,08 persen ke level Rp17.157 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.143 per dolar AS.
Gubernur Perry Warjiyo menyampaikan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan tetap terkendali dan berpotensi menguat, ditopang oleh fundamental ekonomi domestik serta langkah kebijakan yang ditempuh otoritas moneter.
"Kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," kata Perry dalam Konferensi Pers RDG Bank Indonesia April 2026, Rabu (22/4/2026).
Intervensi BI Diperkuat
Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing guna menjaga pergerakan rupiah tetap stabil.
Langkah ini dilakukan baik melalui pasar non-deliverable forward (NDF) di luar negeri maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di dalam negeri.
Selain itu, penguatan dilakukan melalui penyesuaian berbagai instrumen moneter, termasuk peningkatan daya tarik suku bunga untuk mendorong aliran masuk modal asing.
Penyesuaian juga mencakup perubahan threshold transaksi valas, seperti batas pembelian tunai, jual DNDF/forward, serta transaksi swap yang mulai berlaku sejak April 2026.
"Dengan langkah tersebut, nilai tukar Rupiah dapat dijaga relatif stabil yang pada 21 April 2026 tercatat sebesar Rp 17.140 per dolar AS, atau melemah 0,87 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir Maret 2026," ujarnya.
Suku Bunga Tetap di Level 4,75 Persen
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 21–22 April 2026, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan.
BI-Rate tetap berada di level 4,75 persen, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan Lending Facility sebesar 5,50 persen.
"Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah," ujar Perry.
Bank Indonesia menyatakan akan terus memantau perkembangan global dan siap mengambil langkah lanjutan guna menjaga stabilitas nilai tukar serta memastikan inflasi tetap berada dalam target 2,5±1 persen pada periode 2026–2027.