Gubernur Bank Indonesia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Tahun 2026 Melemah Jadi Hanya 3 Persen
Menurut Perry, ke depan Ketidakpastian perekonomian global diperkirakan tetap tinggi dengan prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang masih lemah.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 melemah dikisaran 3 persen. Angka tersebut dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat dan kerentanan rantai pasok global.
"Pada tahun 2026 mendatang pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan melemah menjadi 3 persen dipengaruhi dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat dan kerentanan rantai pasok global," kata Perry Warjiyo dalam RDG Desember 2025, Rabu (17/12).
Menurut Perry, ke depan Ketidakpastian perekonomian global diperkirakan tetap tinggi dengan prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang masih lemah. Oleh karena itu, memerlukan kewaspadaan dan pengamatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari dampak pelambatan global serta untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi di dalam negeri.
Di sisi lain, Bank Indonesia juga merevisi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2025. Dimana pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 November 2025, diproyeksikan sekitar 3,1 persen. Namun, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 16-17 Desember 2025 menjadi 3,2 persen.
"Perekonomian global dalam jangka pendek sedikit membaik namun dengan ketidakpastian yang masih tinggi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 diperkirakan menjadi sekitar 3,2 persen dipengaruhi oleh kenaikan ekonomi Jepang dan India yang didukung konsumsi rumah tangga dan kebijakan stimulus fiskal," ujarnya.
Prospek Perekonomian Negara Lain
Gubernur Perry menyampaikan prospek ekonomi kawasan Eropa tetap baik ditopang konsumsi rumah tangga investasi dan kondisi ketenagakerjaan.
Sementara, ekonomi Amerika Serikat pada 2025 ini masih melambat dipengaruhi dampak temporari government saat daun dan pelemahan pasar tenaga kerja.
"Prospek ekonomi Tiongkok juga terus melambat dipengaruhi permintaan domestik yang tetap lemah," ujarnya.
Pasar Keuangan Global
Di pasar keuangan global suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat Fed Funds Rate (FFR) turun 25 basis poin pada Desember 2025 dengan kecenderungan penurunan yang lebih terbatas ke depan.
Kemudian, BI mencatat tingkat imbal hasil atau Yield US treasury Untuk tenor dua tahun cenderung bergerak naik, sementara Yield US treasury 10 tahun masih tinggi sejalan dengan tingginya tingkat hutang pemerintah Amerika Serikat.
"Perkembangan ini menyebabkan indeks mata uang dolar AS (DXY) masih tetap tinggi dan masih tetap terbatasnya aliran masuk modal asing ke emerging market," pungkasnya.