GMF Perkuat Strategi Hedging di Tengah Pelemahan Rupiah
GMF memperkuat strategi hedging untuk menekan dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Langkah ini dilakukan di tengah kenaikan kurs yang melampaui proyeksi.
PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) memperkuat strategi lindung nilai atau hedging untuk menjaga stabilitas kinerja keuangan di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi lebih cepat dari perkiraan perusahaan.
Direktur Keuangan GMF Tri Hartono mengatakan pengelolaan risiko nilai tukar menjadi salah satu fokus perseroan mengingat sebagian transaksi dan kewajiban perusahaan masih berkaitan dengan mata uang dolar AS.
Menurut dia, perusahaan secara berkala melakukan langkah hedging guna mengurangi dampak selisih kurs yang berpotensi memengaruhi kinerja keuangan.
"Atas selisih kursus ini kami frequently melakukan usaha hedging. Dan atas setiap pembayaran dari GA Group, itu mengurangi hedging piutang yang lama. Jadi, kita mengurangi seminimal mungkin dampak dari adanya selisih kursus yang semakin melebar saat ini," kata Tri dalam Public Expose Live 2026, Rabu (10/6/2026).
Tri menjelaskan pembayaran yang diterima dari Garuda Indonesia Group juga dimanfaatkan untuk mengurangi eksposur terhadap piutang lama yang sebelumnya telah masuk dalam skema lindung nilai.
Kenaikan Kurs Lebih Cepat dari Perkiraan
GMF mengakui pergerakan dolar AS sepanjang tahun ini melampaui asumsi yang digunakan perusahaan saat menyusun rencana bisnis.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap biaya dan kewajiban perusahaan yang menggunakan mata uang asing.
"Karena seperti diketahui bersama bahwa kecepatan kenaikan kursus ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal kami di tahun ini," ujar Tri.
Perseroan menilai strategi mitigasi risiko melalui hedging menjadi instrumen penting untuk menjaga kesehatan keuangan di tengah ketidakpastian pasar valuta asing.
Pendapatan dan Laba Terus Bertumbuh
Di tengah tantangan nilai tukar, GMF mencatat kinerja positif sepanjang 2025. Perseroan membukukan pendapatan sebesar USD 491,8 juta, EBITDA USD 80,24 juta, dan laba bersih mencapai USD 33,96 juta.
"Pada akhir Desember 2025, GMF berhasil membukukan pendapatan sebesar USD 491,8 juta meningkat 109,65 persen dari target perusahaan. EBITDA tercapai USD 80,24 juta atau sekitar 108 persen dari target. Kemudian laba bersih meningkat menjadi USD 33,96 juta dibandingkan di USD 22,65 juta di tahun 2024," ungkap Tri.
Tren pertumbuhan juga berlanjut pada kuartal I 2026. Hingga Maret 2026, GMF membukukan pendapatan sebesar USD 114,94 juta atau tumbuh 20,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Hingga kuartal pertama di Maret 2026. Di Maret 2026 GMF membukukkan pendapatan year to date USD 114,94 juta meningkat 20,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Tri.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan aktivitas perawatan pesawat pada segmen commercial aviation yang masih menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan.
Untuk tahun 2026, GMF menargetkan pendapatan sebesar USD 542,79 juta, EBITDA USD 81,82 juta, serta laba bersih mencapai USD 34,47 juta.