Ekonom: Penurunan Harga BBM Non-Subsidi Bantu Perekonomian Masyarakat dan Kelas Menengah
Rencana penurunan harga BBM non-subsidi dinilai ekonom dapat meringankan beban masyarakat, terutama kelas menengah, di tengah tren harga minyak dunia yang stabil. Simak dampaknya!
Ekonom menilai penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi akan membantu perekonomian masyarakat. Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menyatakan langkah ini sangat relevan. Kebijakan ini diharapkan dapat meringankan beban ekonomi, khususnya bagi kelas menengah.
Penurunan harga ini terjadi menyusul tren harga minyak mentah dunia yang menunjukkan penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 68-70 dolar AS per barel. Kondisi ini menjadi dasar kuat untuk penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri.
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, telah memberikan masukan strategis kepada jajaran direksi. Ia meminta persiapan eksekusi penurunan harga secara bertahap mulai awal Juli 2026. Penyesuaian ini diharapkan segera terealisasi demi kepentingan konsumen.
Analisis Ekonom Terkait Harga BBM Non-Subsidi
Faisal menjelaskan bahwa harga BBM non-subsidi pada dasarnya bersifat floating, artinya mengikuti dinamika harga minyak mentah internasional. Ini berbeda dengan BBM bersubsidi yang harganya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, terlepas dari fluktuasi harga minyak mentah dunia. Menurutnya, jika harga minyak dunia stabil di sekitar 70 dolar AS per barel, penurunan harga BBM non-subsidi sudah seharusnya dilakukan.
Ia menegaskan bahwa penyesuaian harga tidak boleh ditunda terlalu lama, sehingga harus segera direalisasikan. Penurunan harga ini akan sangat membantu masyarakat konsumen di Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi. Hal ini dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi kelas menengah, seperti potensi penurunan daya beli.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan pagi ini berada di level 71,533 dolar AS per barel. Sementara itu, harga acuan minyak mentah Brent tercatat pada 74,835 dolar AS per barel. Data ini menunjukkan tren penurunan yang konsisten, mendukung argumen untuk penyesuaian harga BBM non-subsidi.
Langkah Strategis Pertamina dan Prosedur Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi
Mochamad Iriawan, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), telah menginstruksikan direksi untuk mempersiapkan penurunan harga BBM non-subsidi secara bertahap. Langkah ini menanggapi tren penurunan harga minyak mentah global yang berkelanjutan dalam beberapa waktu terakhir. Diskusi lebih lanjut akan dilakukan dengan jajaran direksi PT Pertamina (Persero) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait potensi penyesuaian harga.
Meskipun demikian, Iriawan menekankan bahwa penyesuaian harga BBM harus melalui prosedur yang ketat dan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Proses ini melibatkan berbagai pertimbangan teknis dan regulasi yang harus dipenuhi. Formula evaluasi berkala yang diterapkan perseroan berfungsi sebagai instrumen pelindung konsumen.
Tujuan formula ini adalah agar konsumen tidak terombang-ambing oleh volatilitas harga harian yang ekstrem di pasar global. Evaluasi berkala memastikan stabilitas harga yang lebih baik dan prediktabilitas bagi masyarakat. Ini menunjukkan komitmen PT Pertamina (Persero) dalam menjaga keseimbangan antara kondisi pasar dan perlindungan kepentingan konsumen.
Perbandingan Harga BBM Non-Subsidi Terkini di SPBU
Sebagai informasi, harga BBM ritel non-subsidi melalui SPBU per 10 Juni 2026, mengalami penyesuaian. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) juga naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
Namun, beberapa jenis BBM lainnya tetap stabil pada harga sebelumnya dan tidak mengalami perubahan. Harga Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter. Dexlite (CN 51) juga tidak mengalami perubahan, tetap Rp23.000 per liter.
Demikian pula, Pertamina Dex (CN 53) tetap pada harga Rp24.800 per liter. Data ini menunjukkan bahwa penyesuaian harga sebelumnya bervariasi antar jenis BBM non-subsidi. Kini, dengan tren penurunan minyak mentah global, diharapkan ada penyesuaian ke arah yang lebih rendah untuk semua jenis BBM non-subsidi.
Sumber: AntaraNews