Danantara di WEF 2026: Indonesia Tawarkan Visi Manufaktur Hijau dan Investasi Berkelanjutan
Kehadiran Danantara di World Economic Forum (WEF) 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memamerkan visi manufaktur hijau dan menarik investasi global berkelanjutan.
Jakarta, 17 Januari – Kehadiran Danantara, lembaga pengelola investasi (Sovereign Wealth Fund/SWF) Indonesia, dalam gelaran World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, dipandang sebagai kesempatan strategis. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menyatakan bahwa partisipasi Danantara akan memberi ruang bagi Indonesia untuk menawarkan visi penguatan industri manufaktur berkelanjutan dan berbasis nilai tambah. Forum global ini bukan hanya sekadar ajang mencari pembiayaan, melainkan juga membangun kredibilitas di mata investor internasional.
Perhelatan WEF 2026 dijadwalkan berlangsung di Kota Davos, Swiss, pada 19 hingga 23 Januari 2026, dengan rencana kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto, sejumlah menteri bidang ekonomi, serta perwakilan dari Danantara Indonesia. Ini menandai kehadiran perdana Danantara dalam ajang WEF, sebuah debut yang diharapkan dapat menarik perhatian global. Mohamad Al-Arief, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, mengungkapkan bahwa Danantara akan menawarkan kerja sama investasi di sektor-sektor strategis, termasuk transisi energi, ketahanan pangan, dan pengembangan industri bernilai tambah.
Menurut Yusuf Rendy Manilet, momentum ini sangat penting untuk membangun cerita dan kredibilitas Danantara sebagai SWF baru di mata investor global. Pada tahap awal, yang dinilai bukan semata besar kecilnya dana, melainkan arah strategi, kualitas tata kelola, serta konsistensi kebijakan pemerintah yang menopangnya. Partisipasi ini diharapkan dapat meluruskan isu-isu terkait transparansi dan profesionalisme pengelolaan yang kerap melekat.
Membangun Kredibilitas dan Kepercayaan Investor Global
Partisipasi Danantara di WEF 2026 memiliki peran krusial dalam membangun kepercayaan di kalangan investor global. Yusuf Rendy Manilet menekankan bahwa Danantara perlu menjelaskan posisi Indonesia sebagai mitra jangka panjang, serta menunjukkan bahwa hilirisasi yang dikembangkan bukan hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan. Hal ini sejalan dengan agenda investasi hijau dan transisi energi dunia yang menjadi fokus utama dalam diskusi global saat ini.
“Menurut saya, kehadiran Danantara di WEF itu momentum yang sangat penting, bukan hanya soal tampil di forum internasional, tetapi soal bagaimana Indonesia mulai membangun cerita dan kredibilitas Danantara sebagai SWF (Sovereign Wealth Fund) baru di mata investor global,” kata Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu. Kredibilitas ini akan menjadi fondasi penting bagi Danantara untuk menarik investasi yang berkelanjutan di masa depan.
Selain mempresentasikan proyek investasi, Danantara juga diharapkan dapat meluruskan berbagai isu yang selama ini melekat, seperti soal transparansi, profesionalisme pengelolaan, dan kepastian regulasi. Para investor global sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan, sehingga klarifikasi atas isu-isu ini akan sangat vital. Dengan demikian, Danantara dapat memposisikan diri sebagai entitas yang profesional dan dapat diandalkan.
Visi Manufaktur Hijau dan Investasi Berkelanjutan Indonesia
Dalam forum WEF 2026, Danantara akan secara aktif menawarkan kerja sama investasi ke sektor-sektor strategis yang mendukung visi manufaktur hijau dan ekonomi berkelanjutan Indonesia. Sektor-sektor ini mencakup transisi energi, ketahanan pangan, hingga pengembangan industri yang bernilai tambah. Fokus ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan berorientasi masa depan.
Mohamad Al-Arief juga memastikan bahwa Danantara akan memprioritaskan kerja sama investasi yang membuka peluang penciptaan lapangan kerja di tanah air. Pendekatan ini menunjukkan bahwa investasi yang dicari bukan hanya untuk pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja yang berkualitas.
Secara realistis, hasil dari WEF mungkin belum langsung berupa angka investasi besar, tetapi lebih pada terbentuknya komitmen awal, jaringan strategis, dan meningkatnya kepercayaan investor. Kehadiran Indonesia di WEF tahun ini akan menciptakan kedekatan yang lebih terpadu antara kebijakan, investasi strategis, serta dunia usaha, membuka jalan bagi kolaborasi jangka panjang.
Sumber: AntaraNews