Bukti Masyarakat Indonesia Makin Banyak Pakai Pay Later
Angka pengguna pay later mencatatkan pertumbuhan yang tinggi secara tahunan.
Otoritas Jasa Keuangan mencatatkan penyaluran produk pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan per Januari 2025 mencapai Rp22,57 triliun.
"Per Januari 2025 bagi debit kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLIK tumbuh sebesar 46,45 persen year on year," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam konferensi pers, Selasa (4/3).
Dian mengatakan untuk porsi kredit penyaluran paylater per Januari 2025 sebesar 0,29 persen. "(Ini) terus mencatatkan pertumbuhan yang tinggi secara tahunan," ungkapnya.
Peningkatan ini sejalan dengan jumlah rekening mencapai 24,44 juta jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 23,99 juta rekening. Artinya rekening BNPL mengalami peningkatan sebesar 450 ribu rekening dalam sebulan.
"Dengan jumlah rekening mencapai 24,44 juta yang sebelumnya tercatat 23,99 juta," tambahnya.
Penyaluran Kredit Meningkat
Diketahui, OJK melaporkan pertumbuhan kredit tetap melanjutkan double digit growth sebesar 10,27 persen atau Rp7.782 triliun secara tahunan (year on year/yoy).
"Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang tetap terjaga. Pada Januari 2025 pertumbuhan kredit tetap melanjutkan double digit growth sebesar 10,27 persen year-on-year," ucap Dian.
Dian menyebut dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh sebesar 5,51 persen yoy, di mana pada Desember yang lalu 2024 tercatat sebesar 4,48 persen yoy menjadi total sebesar Rp8.879,2 triliun dengan Giro menjadi kontributor pertumbuhan yang terbesar.
Sementara itu likuiditas industri perbankan pada Januari 2025 juga tetap memadai dengan ratio rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 114,86 persen dan 26,03 persen.
"Jadi seluruhnya masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen," imbuhnya.