Bukan 'Giant Sea Wall'! KKP Tegaskan Tanggul Beton KCN Cilincing untuk Pelabuhan Umum
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengklarifikasi bahwa tanggul beton KCN Cilincing bukan bagian dari Giant Sea Wall, melainkan proyek pelabuhan umum. Apa dampaknya bagi nelayan?
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan tanggul beton di Cilincing, Jakarta Utara, bukan bagian dari proyek Tanggul Laut Raksasa (Giant Sea Wall). Klarifikasi ini disampaikan pada Jumat (13/9) untuk meluruskan perbincangan yang ramai di media sosial. Struktur beton tersebut merupakan bagian dari pembangunan pelabuhan umum milik PT Karya Citra Nusantara (KCN).
Direktur Pengendalian Penataan Ruang Laut Ditjen Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut KKP, Fajar Kurniawan, menegaskan bahwa konteks pembangunan ini berbeda. Ini adalah tanggul laut untuk proyek KCN, bukan tanggul laut raksasa yang sering disalahpahami masyarakat. KKP telah mengeluarkan izin persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut (PKKPRL) bagi PT KCN pada tahun 2023.
Pembangunan struktur beton di perairan Cilincing ini sempat menimbulkan kehebohan di media sosial lantaran disebut sebagai tanggul laut raksasa. Banyak pihak mengira bahwa struktur tersebut adalah bagian dari proyek Tanggul Laut Raksasa. KKP menekankan perlunya sosialisasi menyeluruh agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
Klarifikasi KKP: Tanggul Beton KCN Cilincing Bukan Giant Sea Wall
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara tegas membantah isu yang menyebut tanggul beton di Laut Cilincing merupakan bagian dari proyek Tanggul Laut Raksasa (Giant Sea Wall). Fajar Kurniawan dari KKP menjelaskan bahwa struktur tersebut adalah bagian dari proyek reklamasi PT Karya Citra Nusantara (KCN). Proyek ini bertujuan untuk pembangunan pelabuhan umum di kawasan tersebut, bukan untuk tujuan penanggulangan banjir Jakarta secara masif.
KKP telah menerbitkan Izin Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) bagi PT KCN pada tahun 2023. Izin ini secara spesifik ditujukan untuk pembangunan pelabuhan umum di Cilincing, Jakarta Utara. Oleh karena itu, Fajar menekankan bahwa perbincangan mengenai "Giant Sea Wall" tidak relevan dengan konteks pembangunan tanggul beton KCN Cilincing ini.
Fajar Kurniawan juga menyoroti pentingnya sosialisasi dari pihak KCN kepada masyarakat sekitar. Ia menyatakan, "Maksud baik belum tentu diterima baik oleh banyak pihak," jika tidak disertai komunikasi yang terbuka. Sosialisasi yang efektif dapat mencegah kesalahpahaman dan potensi penolakan di kemudian hari terkait proyek tanggul beton ini.
Pentingnya Sosialisasi dan Respon PT KCN
KKP mendorong PT KCN untuk segera melakukan sosialisasi intensif kepada masyarakat pesisir, khususnya di sekitar Cilincing. Hal ini bertujuan agar warga tidak terkejut dengan adanya pembangunan pelabuhan umum dan reklamasi yang melibatkan tanggul beton. Komunikasi yang baik dapat meminimalisir potensi mispersepsi yang berkembang di tengah masyarakat.
Fajar Kurniawan menggarisbawahi bahwa keberhasilan sebuah proyek tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis semata, tetapi juga oleh penerimaan sosial dari warga sekitar. Komunikasi intensif dengan masyarakat menjadi langkah krusial. "Jadi kalau belum, Pak Widodo (Direktur Utama PT KCN Widodo Setiadi) mungkin saatnya mensosialisasikan rencana kegiatan ke masyarakat sekitar sehingga tidak terkaget-kaget dan kemudian jadi mispersepsi," kata Fajar.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Karya Citra Nusantara (KCN), Widodo Setiadi, mengklaim pihaknya telah melakukan sosialisasi. Widodo menyatakan bahwa sosialisasi kepada warga setempat telah dilakukan sejak tahun 2007. Bahkan, ia menyebut proyek tanggul beton KCN Cilincing ini telah mendapat dukungan dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia.
Progres Pembangunan Pelabuhan dan Fungsi Tanggul Beton
Widodo Setiadi menjelaskan bahwa pembangunan pelabuhan KCN telah dimulai sejak tahun 2010. Hingga saat ini, progres pembangunan pelabuhan tersebut telah mencapai 70 persen. Pier (dermaga) pertama hampir selesai, menunjukkan kemajuan signifikan dari proyek tersebut di perairan Cilincing.
Pier kedua ditargetkan rampung pada tahun 2025, sementara pier ketiga direncanakan selesai pada tahun 2026. Widodo menyebutkan bahwa pier ketiga inilah yang menjadi pusat perbincangan hangat. Struktur beton yang ada di pier ketiga seringkali disalahartikan sebagai tanggul laut raksasa, padahal memiliki fungsi spesifik.
Widodo Setiadi menegaskan bahwa struktur beton di pier tiga adalah "breakwater" atau pemecah gelombang. Ini merupakan bagian integral dari pembangunan pelabuhan untuk melindungi area dermaga dari ombak. "Di pier tiga yang ini sekarang jadi ramai, isunya ada tanggul beton, itu kalau kita lihat itu 'breakwater' bagian dari pembangunan pelabuhan," ujarnya lagi, menjelaskan fungsi sebenarnya dari tanggul beton KCN Cilincing.
Sumber: AntaraNews