Bukan di Indonesia, Konglomerat China Lebih Tertarik Investasi Properti di Negara Tetangga
Konglomerat China mengalihkan investasi mereka dari Amerika Serikat imbas kebijakan tarif Donald Trump.
Pasar properti di Amerika Serikat tak lagi diminati oleh para konglomerat asal China. Tren ini semakin parah setelah adanya kebijakan tarif yang dicetuskan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), tren menurunnya minat properti Amerika Serikat sudah dimulai sejak tahun 2024. Para konglomerat mulai beralih ke negara-negara seperti Australia, Kanada, dan Singapura.
Faktor Penyebab Perubahan Tren
Menurut laporan dari Juwai IQI, pada tahun 2024, permintaan dari pembeli China untuk rumah senilai lebih dari USD5 juta masing-masing meningkat di Thailand, Australia, dan Kanada. Sebaliknya, investasi properti di AS mengalami penurunan lebih dari 50% dibandingkan dengan puncaknya pada tahun 2017.
Kashif Ansari, salah satu pendiri dan CEO Juwai IQI, menyatakan bahwa ketegangan geopolitik, proteksionisme, dan pengawasan ketat terhadap transaksi properti di AS membuat beberapa pembeli enggan berinvestasi di sana.
Australia: Destinasi Utama bagi Investor Tiongkok
Australia menjadi tujuan utama bagi investor China Pada kuartal pertama tahun 2025, Dewan Pemeriksaan Investasi Asing Australia (FIRB) menyetujui 1.123 pembelian properti residensial oleh investor asing senilai AUD1,3 miliar. Investor China menyumbang AUD400 juta dari total tersebut. Menurut Daniel Ho dari Juwai IQI, ketidakstabilan politik di AS dan ekonomi China yang melambat menjadi faktor pendorong investasi ini.
Singapura dan Kanada: Alternatif Menarik bagi Investor Tiongkok
Singapura juga menjadi tujuan populer bagi investor Tiongkok. Pada kuartal pertama tahun 2025, pembeli Tiongkok membeli 301 unit hunian di Singapura, meningkat sekitar 42% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Alan Cheong dari Savills Singapura mencatat adanya peningkatan permintaan dari perusahaan-perusahaan Tiongkok terkait tempat industri, yang dapat meningkatkan minat mereka untuk membeli rumah pribadi.
Di Kanada, meskipun ada larangan dua tahun terhadap pembelian rumah oleh investor asing, negara ini tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi warga Tiongkok. Mereka mencari peluang investasi dan kemungkinan mendapatkan status penduduk tetap melalui program imigrasi.