BPJN Sumbar Targetkan DED Jembatan Anduring Tuntas Agustus, Pembangunan Kembali Dimulai Akhir 2026
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat menargetkan rancangan teknik detail (DED) Jembatan Anduring di Kayu Tanam selesai Agustus 2026, membuka jalan bagi pembangunan kembali jembatan vital ini.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat menargetkan penyelesaian rancangan teknik detail (DED) Jembatan Anduring pada Agustus 2026. Jembatan ini berlokasi di Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, dan sempat putus akibat bencana hidrometeorologi pada akhir 2025. Target ini menjadi langkah awal penting untuk pembangunan kembali infrastruktur vital tersebut.
Kepala BPJN Sumbar, Elsa Putra Friandi, menyatakan bahwa berbagai tahapan review desain telah dilaksanakan secara menyeluruh. Proses ini mencakup survei pendahuluan, topografi, geoteknik, dan hidrologi untuk memastikan desain yang komprehensif. Analisis hidrologi kini sedang dalam proses advis teknis dari Balai Teknik Sungai di Solo, Jawa Tengah.
Pembangunan kembali Jembatan Anduring diperkirakan menelan biaya sekitar Rp45,2 miliar dengan estimasi waktu pelaksanaan 10 hingga 12 bulan. Anggota DPR RI asal Sumbar, Andre Rosiade, memastikan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum akan menganggarkan pembangunan ini melalui APBN. Jembatan ini diharapkan dapat kembali berfungsi penuh pada akhir 2026.
Progres DED dan Survei Komprehensif Jembatan Anduring
BPJN Sumatera Barat telah melakukan serangkaian survei mendalam sebagai bagian dari penyusunan DED Jembatan Anduring. Survei ini meliputi aspek topografi untuk pemetaan lahan dan geoteknik guna memahami kondisi tanah di lokasi. Tinjauan desain ini penting untuk memastikan stabilitas dan keamanan struktur jembatan yang akan dibangun.
Selain itu, survei hidrologi juga telah rampung untuk mempelajari perilaku air sungai di sekitar jembatan. Elsa Putra Friandi menjelaskan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi intensif dengan Balai Teknik Sungai di Solo. Asistensi ini bertujuan untuk menyempurnakan DED, terutama terkait dengan perilaku sungai pasca bencana.
Rekomendasi dari Balai Teknik Sungai sangat krusial, khususnya mengenai kedalaman fondasi jembatan. Hal ini juga mencakup kebutuhan proteksi abutmen tambahan, mengingat dampak kerusakan parah akibat bencana hidrometeorologi akhir 2025. Proses ini memastikan desain jembatan tahan terhadap potensi bencana serupa di masa mendatang.
Bangunan atas jembatan nantinya direncanakan menggunakan rangka baja B70 dengan bentang sepanjang 2x70 meter, sehingga total panjangnya mencapai 140 meter. Pemilihan material dan desain ini bertujuan untuk memberikan kekuatan dan durabilitas optimal bagi Jembatan Anduring.
Prioritas Anggaran dan Harapan Pembangunan Jembatan Anduring
Setelah DED Jembatan Anduring selesai pada Agustus 2026, Kementerian Pekerjaan Umum akan segera mengalokasikan anggaran pembangunannya. Anggaran tersebut akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Andre Rosiade, anggota DPR RI, menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam mendukung rekonstruksi ini.
Pembangunan jembatan ini akan menggunakan dana yang dialokasikan untuk program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon). Andre Rosiade juga menyatakan akan segera menemui Menteri Pekerjaan Umum. Pertemuan ini bertujuan untuk memastikan Jembatan Anduring menjadi skala prioritas pembangunan nasional.
"Kami akan upayakan pada kementerian terkait agar ini menjadi salah satu prioritas sehingga jembatan ini bisa dibangun kembali di akhir 2026," kata Andre Rosiade. Pernyataan ini menunjukkan urgensi dan komitmen untuk mempercepat proses pembangunan. Dengan demikian, konektivitas di wilayah Kayu Tanam dapat segera pulih.
Estimasi biaya pembangunan mencapai Rp45,2 miliar, dengan perkiraan waktu pengerjaan sekitar 10 hingga 12 bulan. Diharapkan, Jembatan Anduring dapat kembali beroperasi penuh pada akhir tahun 2026. Kehadiran jembatan ini sangat penting untuk mendukung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
Sumber: AntaraNews