Blak-blakan Samuel Sekuritas Ungkap Pasar Modal Tertekan, Aksi Jual Saham Hampir Setara Era Pandemi Covid-19
Aksi jual asing saat ini tidak sekadar dipicu faktor global seperti perang AS-Iran, melainkan sudah mengarah pada kekhawatiran terhadap kondisi fundamental.
Samuel Sekuritas Indonesia menyebut tekanan di pasar modal Indonesia semakin dalam seiring derasnya arus keluar dana asing sepanjang 2026. Dalam empat bulan pertama tahun ini, investor asing tercatat melakukan aksi jual saham dalam jumlah besar yang hampir menyamai periode krisis pandemi Covid-19.
Managing Director Samuel Sekuritas Indonesia, Tae Yong Shim, menilai kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa investor global tengah kehilangan kepercayaan terhadap pasar Indonesia di tengah tekanan rupiah dan berbagai persoalan struktural domestik.
Menurut dia, aksi jual asing saat ini tidak lagi sekadar dipicu faktor global seperti perang AS-Iran, melainkan sudah mengarah pada kekhawatiran terhadap kondisi fundamental pasar Indonesia.
Tae Yong mengungkapkan, investor asing telah menjual saham Indonesia senilai sekitar USD 2,9 miliar hanya dalam empat bulan pertama 2026. Nilai tersebut mendekati aksi jual sepanjang 2020 ketika pandemi Covid-19 mengguncang pasar keuangan global. Saat itu, investor asing tercatat melepas saham Indonesia sekitar USD3,2 miliar.
"Investor asing telah menjual saham Indonesia senilai USD 2,9 miliar pada empat bulan pertama tahun ini. Bandingkan dengan tahun 2020, pandemi Covid, di mana investor asing menjual USD 3,2 miliar. Kita baru memasuki empat bulan pertama tahun ini. Kita hampir berada di fase aksi jual besar-besaran selama pandemi Covid-19," kata Tae Yong dalam Media Connect 2026, di kantor Samuel Sekuritas Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5).
Ia menilai derasnya capital outflow menunjukkan investor asing sedang terburu-buru keluar dari pasar Indonesia. Kondisi ini berbeda dibanding mayoritas emerging market lain yang justru menikmati arus masuk dana asing.
Menurut Tae Yong, pasar negara berkembang seperti Brasil, Taiwan, Thailand, hingga Korea Selatan mampu memanfaatkan momentum rotasi dana global. Sementara Indonesia justru tertinggal dan menjadi pengecualian.
Saham Bank Mulai Dilepas Investor Asing
Tae Yong juga menyoroti aksi jual investor asing yang mulai menyasar saham-saham perbankan besar. Padahal sektor bank selama ini menjadi aset utama dan paling bernilai di mata investor global. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seseorang yang mulai menjual barang paling berharga ketika menghadapi tekanan keuangan.
Penjualan Aset Berharga
"Jadi, penjualan aset oleh warga asing ditambah dengan penjualan aset paling berharga di Indonesia, dalam hal ekuitas, apa itu? Bank. Jika warga asing menjual bank, yang merupakan aset paling berharga yang dimiliki warga asing, maka itu adalah cerita yang sangat, sangat berbeda," ujarnya.
Menurut dia, aksi jual terhadap saham bank menandakan kekhawatiran investor asing sudah masuk ke level yang lebih serius. Tekanan juga terlihat dari pergerakan rupiah yang terus melemah hingga mendekati Rp 17.400 per dolar AS.