Begini Cara Gubernur Bank Indonesia Jaga Nilai Tukar Rupiah Tak Terus Melemah
Perry menjelaskan, langkah intervensi dilakukan secara komprehensif melalui berbagai instrumen.
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak terus melemah. Gubernur BI, Perry Warjiyo menekankan bahwa bank sentral tidak akan ragu melakukan intervensi besar di pasar keuangan, baik di pasar luar negeri maupun domestik. Langkah ini untuk memastikan pergerakan Rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.
Perry menjelaskan, langkah intervensi dilakukan secara komprehensif melalui berbagai instrumen. Intervensi dilakukan di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta intervensi langsung di pasar spot dalam negeri.
"Kami tegaskan BI tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF," kata Perry dalam Konferensi Pers RDG Januari 2026, Rabu (2/1).
Ia menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan stabilisasi yang terus ditingkatkan seiring dinamika pasar global. Selain intervensi pasar, penguatan Rupiah juga ditopang oleh fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid.
Perry menyebutkan, imbal hasil aset keuangan domestik yang masih menarik, inflasi yang terus mereda, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik menjadi faktor pendukung stabilitas nilai tukar Rupiah ke depan.
"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan akan membawanya untuk menguat didukung oleh kondisi fundamental ekonomi kita yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang merendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik," tegasnya.
Dari sisi ketahanan eksternal, BI menilai posisi cadangan devisa berada pada level yang sangat memadai. Cadangan devisa tersebut, kata Perry, lebih dari cukup untuk mendukung langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah. "Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," ujarnya.
Optimisme Bank Indonesia
Menurutnya, dengan kombinasi intervensi aktif, dukungan cadangan devisa yang kuat, serta fundamental ekonomi yang terjaga, BI optimistis pergerakan Rupiah ke depan akan semakin stabil.
Bahkan, Perry meyakini nilai tukar Rupiah tidak hanya stabil, tetapi juga berpeluang kembali menguat seiring membaiknya sentimen pasar dan kondisi ekonomi domestik.
"Kami meyakini Rupiah akan stabil dan bahkan akan cenderung menguat," ujarnya.
Nilai Tukar Rupiah Saat Ini
Lebih lanjut, Perry mengatakan, kebijakan nilai tukar Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak peningkatan ketidakpastian global.
"Nilai tukar Rupiah pada 20 Januari 2026 tercatat sebesar Rp16.945 per dolar AS, melemah 1,53 persen (ptp) bila dibandingkan dengan level akhir Desember 2025," ujarnya.
Pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik sejalan dengan kegiatan ekonomi turut memengaruhi kinerja Rupiah.