Banyak Investor Baru Terjun ke Pasar Modal Terpengaruh Euforia, Tanpa Bekal yang Cukup
Pertumbuhan jumlah investor ritel harus disertai dengan pendidikan yang terpercaya untuk mencegah mereka terjebak dalam spekulasi.
Stockwise terus memperkuat komitmen untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan masyarakat. Dalam acara seminar edukasi investasi bertajuk 'The Art of Multibagger Investing by Stockwise Masterclass', perusahaan ini menarik perhatian lebih dari 1.000 peserta.
CEO Stockwise, Douglas Goh, menekankan pentingnya edukasi bagi investor, terutama di tengah dinamika pasar yang terus berubah dan dipenuhi informasi.
"Banyak investor baru masuk pasar tanpa bekal yang cukup. Mereka melihat tren, ikut euforia, lalu kecewa ketika pasar bergerak tidak sesuai harapan. Di Stockwise, kami ingin memastikan bahwa setiap investor memiliki fondasi pengetahuan yang kuat sebelum membuat keputusan," ujarnya pada Senin (17/11).
Douglas juga menambahkan bahwa peningkatan jumlah investor ritel harus diimbangi dengan edukasi yang dapat dipercaya agar mereka tidak terjebak dalam spekulasi. "Kami percaya bahwa investor yang paham strategi akan mampu bertahan di pasar saham dalam kondisi apa pun," katanya.
Di sisi lain, Chief Investment Officer (CIO) Stockwise, Andry Hakim, menjelaskan penerapan strategi multibagger bagi investor ritel di Indonesia. Ia menyatakan bahwa multibagger bukan hanya tentang mencari saham dengan harga murah, tetapi juga memahami kualitas fundamental perusahaan, kestabilan manajemen, dan prospek bisnis jangka panjang.
"Strategi multibagger menuntut disiplin, riset, dan kesabaran. Dengan memahami proses ini, investor dapat membangun portofolio yang lebih kokoh dan tidak mudah goyah oleh volatilitas jangka pendek," jelas Andry.
BEI Targetkan Nilai Transaksi Harian Rp14,5 Triliun
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menetapkan target yang konservatif untuk rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada tahun 2026, yaitu sebesar Rp 14,5 triliun per hari. Target ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi sementara untuk tahun 2025 yang telah mencapai Rp 16,6 triliun per 7 November 2025.
Penetapan target yang lebih rendah ini diambil berdasarkan hasil pemodelan internal yang menunjukkan bahwa lonjakan likuiditas yang terjadi pada beberapa bulan terakhir tahun 2025 belum sepenuhnya mencerminkan tren struktural jangka panjang.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengungkapkan bahwa meskipun tingginya aktivitas pasar pada tahun 2025 menciptakan rasa optimisme, kehati-hatian tetap diperlukan. Ia juga menekankan bahwa peningkatan partisipasi investor terlihat dengan jelas, termasuk dalam transaksi harian.
Berdasarkan data dari BEI, jumlah investor yang melakukan transaksi harian mencapai 228 ribu, angka tertinggi dalam sejarah, sedangkan rata-rata nilai transaksi harian berada di level Rp 16,64 triliun. "Ini asumsi kami di 2026. Asumsi kami di 2026 adalah transaksi kami rata-ratanya 14,5. Walaupun hari ini sudah 16,6 ya. Kenapa? Kita harus tetap waspada," ujar Iman dalam acara Media Workshop di Ubud, Bali, pada hari Sabtu (15/11).
Investor Baru Saja Bergabung
Untuk tahun 2024, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan pencatatan sebanyak 555 efek baru, di antaranya 50 saham baru. Hingga tanggal 7 November 2025, BEI telah berhasil mencatatkan 699 efek baru, yang berarti mencapai 151 persen dari target yang ditetapkan untuk tahun 2025.
Selain itu, BEI juga telah mencatatkan 24 saham baru dengan pipeline yang mencakup 13 saham. Dalam upaya pengembangan basis investor, BEI menargetkan penambahan 2 juta investor baru pada tahun 2026, termasuk 50 ribu rekening efek syariah dan 700 ribu investor aktif setiap bulan. Target-target ini dianggap penting untuk menjaga keseimbangan permintaan di tengah meningkatnya jumlah efek yang beredar.
Iman menekankan bahwa berbagai penyempurnaan kebijakan, perluasan akses data, dan pergeseran pola transaksi akan semakin memperkuat landasan pasar menjelang tahun depan.
Dengan adanya kombinasi target yang realistis untuk RNTH, percepatan penambahan efek baru, serta perluasan basis investor, BEI memandang tahun 2026 sebagai fase konsolidasi yang penting. Ini bertujuan untuk memperkuat fondasi pasar sebelum memasuki tahap ekspansi besar demi mencapai visi BEI menjadi bursa terkemuka di antara 10 besar dunia pada tahun 2030.