Mengenal Selat Bab al-Mandeb, Senjata Iran Selain Hormuz yang Bisa Lumpuhkan Pasokan Energi Dunia
Iran kembali mengeluarkan ancaman yang bisa berimbas kepada semakin terpuruknya dunia global akibat krisis energi.
Perang yang terjadi antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran semakin membara. Setelah sukses membuat dunia pusing tujuh keliling akibat kenaikan harga minyak dunia yang disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz, Iran kembali mengeluarkan ancaman yang bisa berimbas kepada semakin terpuruknya dunia global akibat krisis energi.
Seorang penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengancam sekutu Teheran dapat menutup jalur pelayaran strategis Bab al-Mandeb, sebagaimana Iran telah menutup kemudian membatasi akses di Selat Hormuz.
Bab al-Mandeb merupakan jalur laut yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu lintasan terpenting bagi perdagangan minyak dunia. Pentingnya jalur ini semakin meningkat setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, yang pada masa damai dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Bab al-Mandeb Sama Strategisnya dengan Hormuz
Ancaman tersebut disampaikan Ali Akbar Velayati, mantan menteri luar negeri Iran sekaligus diplomat senior yang dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkaran pemerintahan Iran.
Dalam unggahannya di platform X pada Minggu, Velayati mengatakan bahwa sekutu Iran memandang Bab al-Mandeb sama strategisnya dengan Hormuz.
“komando terpadu Front Perlawanan memandang Bab al-Mandeb sama seperti memandang Hormuz,” tulisnya.
Ia juga memperingatkan dampak besar terhadap perdagangan global apabila Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran.
“Jika Gedung Putih (AS) berani mengulangi kesalahan bodohnya, mereka akan segera menyadari bahwa arus energi dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu langkah,” tulis Velayati.
Pernyataan itu kemudian dikonfirmasi oleh stasiun televisi pemerintah Iran, Press TV.
Ancaman Muncul Setelah Ultimatum Trump
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengebom pembangkit listrik dan jembatan di Iran mulai Rabu pekan ini apabila Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Demikian dikutip dari Aljazeera, Senin (7/4/2026).
Iran sendiri menyatakan Hormuz tetap terbuka bagi kapal dari negara-negara yang telah menegosiasikan jalur aman, kecuali kapal dari AS dan Israel.
Sebelumnya, Trump juga sempat mengancam akan mengebom fasilitas desalinasi Iran.
Posisi Strategis Bab al-Mandeb
Bab al-Mandeb terletak di antara Yaman di sisi timur laut serta Djibouti dan Eritrea di kawasan Tanduk Afrika di sisi barat daya. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden yang kemudian terhubung ke Samudra Hindia.
Dengan lebar hanya sekitar 29 kilometer pada titik tersempit, jalur ini hanya memungkinkan dua lajur pelayaran utama untuk kapal masuk dan keluar.
Secara de facto, kawasan ini berada dalam pengaruh kelompok Houthi yang didukung Iran. Kelompok yang berbasis di Yaman itu merupakan bagian penting dari apa yang disebut “Poros Perlawanan” Iran.
Jalur Vital Perdagangan Minyak Dunia
Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, terutama bagi distribusi energi global. Selat ini menjadi rute utama Arab Saudi untuk mengirim minyak ke Asia.
Selain itu, jalur ini juga penting bagi negara-negara Teluk untuk mengekspor minyak mentah, gas, dan bahan bakar lainnya ke Eropa melalui Terusan Suez atau pipa Sumed.
Pada 2024, sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk turunannya melewati selat ini, setara dengan sekitar 5 persen total pasokan global. Jika Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz sama-sama ditutup, sekitar 25 persen pasokan minyak dan gas dunia akan terganggu.
Tak hanya energi, sekitar 10 persen perdagangan global juga melintasi jalur ini, termasuk pengiriman kontainer dari China, India, dan negara-negara Asia lain menuju Eropa.
Houthi Mampu Lakukan Blokade
Kelompok Houthi sebelumnya telah menunjukkan kemampuan untuk mengganggu jalur ini. Selama perang Gaza, mereka memblokir Bab al-Mandeb bagi kapal yang dianggap terkait dengan Israel atau AS.
Serangan berulang terhadap kapal dagang membuat banyak perusahaan asuransi menolak memberikan perlindungan bagi kapal yang melintas. Pada Mei 2025, AS dan Houthi sempat menyepakati gencatan senjata yang membuat jalur ini kembali dibuka.
Namun dalam beberapa hari terakhir, Houthi kembali meluncurkan rudal dan drone ke Israel.
Mantan diplomat AS, Nabeel Khoury, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa langkah Houthi sejauh ini masih bersifat simbolis. Namun, ia menilai blokade Bab al-Mandeb bisa menjadi senjata utama jika kelompok itu benar-benar masuk penuh ke dalam konflik.
"Yang perlu mereka lakukan hanyalah menembaki beberapa kapal yang lewat, dan itu akan menyebabkan penangkapan semua pengiriman komersial melalui Laut Merah," katanya.
Ancaman Skenario Mimpi Buruk bagi Dunia
Spesialis Timur Tengah dari University of Cambridge, Elisabeth Kendall, menyebut potensi penutupan Bab al-Mandeb sebagai “skenario mimpi buruk”. Menurutnya, jika pembatasan di Selat Hormuz terjadi bersamaan dengan gangguan di Bab al-Mandeb, maka jalur perdagangan menuju Eropa bisa lumpuh.
“Karena jika Anda memberlakukan pembatasan di Selat Hormuz bersamaan dengan meningkatnya pembatasan di Bab al-Mandeb, maka Anda benar-benar akan mengganggu, bahkan melumpuhkan, perdagangan menuju Eropa. Jadi ini benar-benar situasi yang sangat genting, tergantung pada apa yang terjadi selanjutnya,” katanya kepada Al Jazeera.
Meski demikian, Kendall menilai Houthi kemungkinan akan berhitung sebelum mengambil langkah yang dapat memprovokasi respons besar dari Arab Saudi maupun pihak internasional.