Kisah Inspirasi Warga Gandaria Utara Sulap Gang Sempit Jadi Sentra Ketahanan Pangan Lewat Budidaya Ikan
Di tengah keterbatasan lahan, warga setempat menyiasatinya dengan membudidayakan berbagai jenis ikan yang hasilnya dapat dimanfaatkan bersama.
Ketahanan pangan menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut tidak hanya berjalan di tingkat pusat, tetapi juga mulai digerakkan dari level paling bawah, salah satunya oleh warga RT 11/RW 07, Kelurahan Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Di tengah keterbatasan lahan, warga setempat menyiasatinya dengan membudidayakan berbagai jenis ikan yang hasilnya dapat dimanfaatkan bersama. Beberapa jenis ikan yang dibudidayakan antara lain lele, nila, hingga gurame.
Ketua RT 11/RW 07, Imam Basori, mengatakan inisiatif tersebut merupakan bentuk respons warga terhadap program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah. Menurut dia, warga ingin ikut berkontribusi dan memberikan manfaat bagi sesama warga di lingkungan sekitar.
"Ya inisiatif kita aja. Cuma kan setidaknya awal mula kan programnya pemerintah ya ketahanan pangan, ketahanan pangan gitu kan. Ya ikut sumbangsih dalam hal apa merespons kebijakan pemerintah ya kan," ungkap Imam kepada Liputan6.com, Rabu (15/4/2026).
Hasil Panen Bisa Dinikmati Bersama dan Terkendala Lahan Sempit
Imam menjelaskan, hasil budidaya ikan ini dapat dimanfaatkan secara bebas oleh warga. Sebagai contoh, warga yang sedang kekurangan bahan makanan diperbolehkan mengambil ikan untuk dikonsumsi.
Meski demikian, ia meminta agar warga tetap memberi tahu terlebih dahulu sebelum mengambil hasil panen, agar pembagiannya tetap merata dan bisa dirasakan semua warga.
"Bebas, enggak kita larang, enggak ada (bayaran). Pokoknya monggo dibawa mau diserok, mau dibawa ke rumah, monggo Pak diambil aja. Cuma sampaikan dulu, jangan banyak gitu kan, kasihan yang lain," jelas Imam.
Imam mengungkapkan, sebenarnya program ketahanan pangan yang dirancang tidak hanya terbatas pada budidaya ikan. Warga juga memiliki keinginan untuk membudidayakan tanaman pangan seperti sayuran. Namun, keterbatasan lahan menjadi kendala utama.
"Karena kalau kita ada spot lahan yang untuk kayak sayur dan sebagainya kalau ada lahannya gede bisa. Cuma kan di sini kan karena sempit ya gang kecil," tandas Imam.
Inovasi Smart Gate dan GPS
Selain fokus pada ketahanan pangan, warga RT 11/RW 07 juga melakukan inovasi di bidang keamanan lingkungan. Di tengah keterbatasan lahan dan akses gang yang sempit, warga memasang smart gate dan membagikan perangkat GPS untuk mencegah pencurian kendaraan bermotor maupun tindak kriminal lainnya.
Smart gate tersebut menggunakan kartu akses khusus, di mana setiap keluarga mendapatkan satu kartu untuk membuka gerbang.
"Awalnya ya kalau masyarakat kan mungkin dianggapnya simpel ya, Mas. Bilang 'Pak bikin gerbang'. Nah saya ngomongnya, 'Pak kalau hanya gerbang doang, ya kurang ini ya, kita harus ada sesuatu yang berbeda'," kata Imam kepada Liputan6.com, Rabu (15/4/2026).
Menurut Imam, gerbang akan ditutup secara rutin mulai pukul 00.00 WIB hingga waktu subuh. Dengan sistem tersebut, orang luar tidak bisa sembarangan keluar masuk lingkungan pada malam hari, sementara pada siang hari gerbang tetap dibuka untuk mendukung aktivitas warga.
GPS Jadi Pengamanan Berlapis
Sebagai program lanjutan, Imam juga membagikan alat GPS secara gratis kepada warga RT 11. Pembagian dilakukan secara bertahap menyesuaikan dana operasional yang tersedia.
Menurut dia, langkah ini menjadi sistem pengamanan berlapis untuk meminimalkan risiko pencurian sepeda motor.
"Jadi ada pengaman lapis lagi ya. Nah, ini namanya ikhtiar kita buat mencegah ya, lebih baik berbuat kan daripada tidak sama sekali kan," kata Imam.
Apabila terjadi pencurian kendaraan, posisi motor dapat langsung terlacak dan dipantau melalui aplikasi. Imam berharap program tersebut dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan menjadi contoh yang bisa diterapkan secara lebih luas di daerah lain.