Israel Terus Bunuh Warga Palestina di Gaza, Bayi Usia 2 Bulan Meninggal karena Kedinginan
Serangan tersebut menjadi pelanggaran terbaru terhadap gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas.
Tiga warga Palestina dilaporkan wafat dan sembilan lainnya luka-luka akibat serangan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir. Serangan tersebut menjadi pelanggaran terbaru terhadap gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas.
Sumber medis mengatakan wilayah yang menjadi sasaran serangan sejak Sabtu malam hingga Minggu meliputi Rafah dan Khan Younis di Gaza selatan, lingkungan Zeitoun di tenggara Kota Gaza, serta sejumlah kawasan lain di wilayah yang terkepung itu. Serangan terjadi di tengah perang genosida Israel yang terus berlangsung tanpa henti.
“Dalam satu serangan, sebuah quadcopter Israel menewaskan seorang pria Palestina yang sedang dibawa ke rumah sakit di Khan Younis di Gaza selatan,” ujar sumber medis kepada Al Jazeera, Minggu (11/1/2026).
Kantor berita Palestina, Wafa, melaporkan dua orang tewas akibat tembakan militer Israel di wilayah timur Zeitoun. Selain itu, artileri Israel juga menggempur kawasan timur lingkungan Tuffah dan Zeitoun di Kota Gaza, disusul tembakan dari kendaraan militer.
Jet Tempur Israel Bombardir Gaza Tengah dan Utara
Menurut Wafa, jet-jet tempur Israel juga membombardir sejumlah wilayah di timur kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah, serta Jabalia dan Beit Lahia di Gaza utara.
“Kapal perang Israel membombardir daerah pesisir utara,” tambah laporan tersebut.
Jurnalis Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, melaporkan dari Kota Gaza bahwa situasi di lapangan semakin membingungkan.
“Ini adalah periode eskalasi yang sangat membingungkan. Kita dapat mendengar suara drone Israel yang melayang di atas kepala di pusat Kota Gaza dan juga komunitas di bagian timur, serta di tempat pasukan Israel terus melakukan serangan dan di luar garis kuning yang disepakati, yang seharusnya menandai garis depan gencatan senjata,” ujarnya.
Menurutnya, terjadi perataan bangunan secara besar-besaran di Rafah, yang telah berada di bawah kendali militer Israel selama dua tahun, di Khan Younis, di bagian timurnya, dan di kamp pengungsi Jabalia. Aktivitas-aktivitas ini pada dasarnya dirancang untuk memperluas wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel agar dapat digunakan sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi lebih lanjut pada fase kedua perjanjian gencatan senjata.
"Yang kami dokumentasikan adalah penghancuran dan serangan di ruang sipil yang sudah dievakuasi, menimbulkan pertanyaan apakah ini penegakan keamanan atau penataan ulang wilayah di bawah kedok gencatan senjata,” tambahnya.
Bayi Palestina di Gaza Wafat karena Kedinginan
Sementara itu, di tengah dinginnya musim dingin Gaza yang menusuk tulang, Mohammed Abu Harbid yang baru berusia dua bulan menjadi korban terbaru dari perang genosida Israel yang telah merampas tempat berlindung, kehangatan, dan penghidupan warga Palestina.
Direktur Informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher al-Wahidi, mengatakan bayi tersebut meninggal dunia akibat hipotermia parah di Rumah Sakit Anak al-Rantisi. Kematian Mohammed menambah jumlah anak yang meninggal karena kedinginan di Gaza sejak November 2025 menjadi empat orang, dan total 12 anak sejak dimulainya perang genosida pada Oktober 2023.
Ketika depresi cuaca membawa hujan lebat dan angin dingin ke wilayah pesisir, ribuan keluarga pengungsi kini menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin parah. Kelompok paling rentan, terutama bayi dan anak-anak, menanggung beban terberat.
Israel Larang Inkubator Masuk Gaza dengan Baterai
Di Rumah Sakit al-Awda, Kamp Pengungsi Nuseirat, bangsal neonatal yang baru dibuka berjuang keras menyelamatkan nyawa bayi-bayi prematur. Ruang perawatan ini didirikan pada awal 2026 untuk memenuhi lonjakan kebutuhan dan kini menerima sekitar 17 bayi setiap hari. Namun, keterbatasan fasilitas menjadi tantangan besar.
"Kami menghadapi banyak dilema, termasuk kelangkaan peralatan medis," kata Ahmed Abu Shaira, staf medis rumah sakit, kepada koresponden Al Jazeera Mubasher, Talal al-Arouqi.
"Beberapa inkubator datang kepada kami tanpa baterai… pendudukan memaksa masuknya inkubator tanpa baterai."
Kondisi ini menjadi ancaman serius di tengah pemadaman listrik kronis. Dalam satu jam kunjungan Al Jazeera, listrik padam lebih dari lima kali.
“Kami berusaha mencapai suhu tertentu untuk bayi, tetapi setiap kali kami berhasil, listrik padam,” jelas Abu Shaira. Tanpa baterai internal yang dilarang masuk akibat pembatasan Israel, inkubator langsung kehilangan panas saat generator mati.
Krisis semakin diperparah dengan minimnya obat-obatan untuk membantu perkembangan paru-paru bayi prematur serta kelangkaan susu formula.
“Saat ini kami menerima bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu… karena persalinan dini yang disebabkan oleh kondisi kesehatan ibu yang buruk,” tambah Abu Shaira.
“Bayi-bayi ini rentan terhadap hipotermia… yang dapat menyebabkan kematian.”
Rasanya Seperti Kengerian Hari Kiamat
Di luar rumah sakit, kondisi tak kalah mengerikan. Di bagian barat Kota Gaza, keluarga Kafarna berjuang mempertahankan tenda mereka agar tidak roboh diterjang angin.
“Ketika kami mendengar kata 'depresi', kami mulai gemetar… rasanya seperti kengerian hari kiamat,” kata sang ayah kepada Ayman al-Hissi dari Al Jazeera Mubasher, sambil berdiri di dalam tenda yang kainnya menipis dan nyaris tak memberi perlindungan.
“Seprai kami basah kuyup… Anak-anak perempuan saya sakit karena kedinginan. Penyakit menyebar di antara anak-anak,” katanya.
Badai pada Sabtu malam nyaris menghancurkan tempat berlindung mereka yang rapuh. Dia pun harus berdiri sepanjang malam memegang tiang tenda. Sementara istri dan putri-putrina bersandar pada balok kayu untuk menahan angin.
“Kami bergantian memegang tenda… air masuk dari atas dan bawah.”
Sang ibu, yang kelelahan dan dikelilingi anak-anak yang sakit, menggambarkan tempat tinggal mereka sebagai “sepotong kain” yang hanya menutupi pandangan, namun tak melindungi dari apa pun. Dia bahkan tidak bisa mendapatkan obat untuk sang putri yang sedang sakit.
"Setiap kali angin bertiup, tenda itu roboh,” katanya.
“Saya berharap mereka membawakan kami 'tenda kubah' untuk melindungi kami dari dingin dan hujan,” kata putri mereka, Waad, yang meringkuk mengenakan pakaian olahraga sumbangan lembaga amal.
Di tengah musim dingin yang semakin memburuk, permohonan keluarga itu sederhana namun penuh keputusasaan.
“Kami memohon kepada siapa pun yang memiliki hati nurani… kirimkan kami karavan, kirimkan kami tenda… apa pun untuk melindungi kami dari dingin,” katanya.