Bak Setetes Air di Laut, Israel Akhirnya Bolehkan Bantuan Kemanusiaan Masuk Gaza Tapi Ada Maksud Terselubung
Sejumlah truk PBB yang membawa bantuan kemanusiaan akhirnya bisa memasuki wilayah Gaza.
Sejumlah truk PBB yang membawa bantuan kemanusiaan akhirnya bisa memasuki wilayah Gaza. Penyaluran bantuan kemanusiaan ke rakyat Palestina di Gaza itu merupakan yang pertama kali sejak 2 Maret 2025 Gaza diblokade totak oleh Israel usai membatalkan secara sepihak gencatan senjata dengan Hamas.
Akibatnya, penduduk Palestina mengalami kelaparan parah. Meski begitu jumlah truk yang 'diperbolehkan' masuk ke Gaza oleh zionis Israel jumlahnya amat sedikit, jauh jika dibandingkan sebelum Oktober 2023 yang mencapai lima ratus truk per hari.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Senin kemarin mengaku tekanan dari sekutu berada di balik tindakan tersebut. Kantornya mengatakan Israel akan membuka jalan bagi sejumlah makanan untuk memasuki Jalur Gaza setelah adanya "rekomendasi" dari tentara pada malam sebelumnya.
"Israel akan mengizinkan pasokan makanan pokok bagi penduduk untuk memastikan krisis kelaparan tidak terjadi di Jalur Gaza," kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan pada Minggu malam dikutip dari Aljazeera, Selasa (20/5/2025).
Pengumuman ini muncul tak lama setelah militer Israel melancarkan operasi darat besar-besaran di Gaza yang sementara ini telah menewaskan lebih dari 150 warga Palestina di Gaza dalam waktu 24 jam. Pada hari Senin, Israel melakukan sedikitnya 30 serangan udara dalam waktu satu jam di daerah Khan Younis dan sejak fajar menewaskan sedikitnya 84 warga Palestina di seluruh Gaza.
Hamdah Salhut dari Al Jazeera, melaporkan dari Amman, Yordania, karena Al Jazeera dilarang di Israel, mengatakan "alasan sebenarnya" sebagian bantuan diizinkan masuk ke Gaza adalah agar Israel dapat melanjutkan operasi militer mereka.
"Jangan salah, bantuan yang akan masuk ke Gaza masih jauh dari kata cukup," kata Salhut.
Cuma 9 Truk
Sementara itu, kepala bantuan PBB, Tom Fletcher mengakui setelah 11 minggu blokade total, otoritas Israel mengizinkan sembilan truk bantuan untuk memasuki Gaza, di mana pembatasan ketat terhadap makanan dan bantuan telah memicu tuduhan bahwa Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.
Fletcher menyebut masuknya truk-truk melalui perlintasan Karem Abu Salem (Kerem Shalom dalam bahasa Ibrani) sebagai "perkembangan yang baik". Namun demikian, dia mengibaratkan jumlah itu ibarat setetes air di lautan karena teramat sedikit.
Dia pun menegaskan bantuan harus diizinkan masuk ke Jalur Gaza dalam skala besar untuk memberikan bantuan bagi warga Palestina.
"Ini hanyalah setetes air di lautan dari apa yang sangat dibutuhkan, dan lebih banyak bantuan harus diizinkan masuk ke Gaza mulai besok pagi," kata Fletcher dalam sebuah pernyataan.
Juru bicara sekretaris jenderal PBB, Stephane Dujarric, juga menegaskan bahwa bahwa jumlah bantuan yang dibolehkan Israel memasuki Gaza tidak cukup.
"Bantuan ini akan didistribusikan melalui mekanisme kami sendiri, melalui jaringan kami sendiri, yang dapat kami terima," kata Dujarric kepada Al Jazeera.
"Kami tidak punya … kemewahan untuk mengatakan, 'baiklah, jika hanya sembilan truk, kami tidak akan melakukannya'. (Namun) Itu jelas tidak cukup … kami telah menjelaskan kepada rekan-rekan kami di Israel, dan kami terus berkomunikasi dengan mereka bahwa ini tidak cukup, bahwa ini membahayakan orang," kata Dujarric.
Eropa Ancam Beri Sanksi Israel
Sementara itu, para pemimpin Inggris, Prancis, dan Kanada memperingatkan akan mengambil tindakan, termasuk kemungkinan sanksi, jika Israel tidak menghentikan serangan militer barunya di Gaza dan mencabut pembatasan bantuan.
"Penolakan Pemerintah Israel atas bantuan kemanusiaan penting bagi penduduk sipil tidak dapat diterima dan berisiko melanggar Hukum Humaniter Internasional," kata pernyataan bersama yang dirilis oleh pemerintah Inggris.
"Kami menentang segala upaya perluasan permukiman di Tepi Barat … Kami tidak akan ragu untuk mengambil tindakan lebih lanjut, termasuk sanksi yang ditargetkan," tambahnya.
Dua puluh dua negara donor juga mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Senin yang mendesak Israel untuk "segera mengizinkan dimulainya kembali bantuan penuh ke Gaza". Menteri Luar Negeri kedua negara mengatakan penduduk Gaza menghadapi kelaparan dan harus menerima bantuan yang sangat mereka butuhkan.
Pernyataan tersebut ditandatangani oleh para diplomat tinggi Australia, Kanada, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Islandia, Irlandia, Italia, Jepang, Latvia, Lithuania, Luksemburg, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Portugal, Slovenia, Spanyol, Swedia, dan Inggris.
Dua Juta Warga Palestina di Gaza Kelaparan
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa blokade Israel terhadap bantuan telah membuat warga Gaza kelaparan. Ia mengatakan WHO dan badan PBB lainnya siap untuk mengirimkan bantuan ke Gaza jika diizinkan masuk.
"Dua bulan setelah blokade terakhir, dua juta orang kelaparan," kata kepala WHO, saat berbicara pada pembukaan Majelis Kesehatan Dunia tahunan, seraya menambahkan bahwa 160.000 ton makanan "diblokir di perbatasan hanya beberapa menit jauhnya".
"Banyak orang meninggal karena penyakit yang dapat dicegah sementara obat-obatan menunggu di perbatasan, sementara serangan terhadap rumah sakit membuat orang tidak mendapatkan perawatan dan menghalangi mereka untuk mencarinya," tambahnya.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh mengatakan otoritas Palestina belum diberitahu kapan perbatasan akan dibuka, Al Jazeera Arabic melaporkan.